Aruna: Dari Rumah Singgah Menuju Panggung Sastra
Hiburan

Aruna: Dari Rumah Singgah Menuju Panggung Sastra

Latar News - JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pagi di Jakarta tak pernah benar-benar sunyi. Bahkan sebelum matahari naik sepenuhnya, deru sepeda motor sudah menyusuri gang-gang sempit, notifikasi ponsel berbunyi tanpa jeda, dan layar-layar LED di tepi jalan memutar iklan serta potongan berita yang berubah setiap detik. Kota ini bergerak terlalu cepat, seolah siapa pun yang terlambat selangkah akan tertinggal selamanya.

Di lantai dua sebuah rumah singgah di kawasan Tebet, belasan remaja duduk bersila menghadap televisi yang menyala sejak subuh. Rumah itu bernama Rumah Belajar Lentera, tempat anak-anak yang kehilangan orang tua atau terpaksa jauh dari keluarga belajar bertahan dengan cara masing-masing. Sebagian menatap layar dengan mata setengah terbuka, sebagian lain sibuk menggulir linimasa media sosial di ponsel murah mereka.

“Selamat kepada Galang Aksara, penulis muda yang kembali meraih penghargaan nasional lewat novel terbarunya,” suara pembawa acara terdengar bersemangat.

Aruna, remaja tujuh belas tahun yang duduk paling depan, menghentikan gerakan pulpennya. Ia sedang menulis di buku tulis bersampul cokelat yang sudah hampir penuh. Nama itu—Galang Aksara—bergaung lama di kepalanya. Bukan karena ia mengenalnya, melainkan karena ia tahu betul betapa mustahilnya berdiri di posisi itu.

“Tumben nonton infotainment sastra,” cibir Dito dari belakang. “Biasanya kamu cuma nunduk, nulis cerita yang nggak ada yang baca.”

Beberapa anak terkekeh. Aruna tersenyum tipis tanpa menoleh. Ia sudah terbiasa. Sejak tiga tahun tinggal di Rumah Belajar Lentera, kebiasaannya menulis sering dianggap aneh. Di saat teman-temannya bercita-cita jadi konten kreator atau seleb TikTok, Aruna justru sibuk merangkai kalimat di kertas.

“Bukan nggak ada yang baca,” jawabnya pelan. “Belum ada yang baca.”

Ia berdiri sebelum ejekan lain menyusul, membawa buku dan pulpen ke atap rumah yang disulap menjadi taman kecil. Beberapa pot tanaman berjajar seadanya. Dari sana, gedung-gedung tinggi Jakarta terlihat seperti tembok raksasa yang mengurung langit.

Angin pagi menerpa wajahnya. Di tempat itulah Aruna merasa paling jujur. Ia menulis tentang anak-anak yang tumbuh tanpa pelukan ibu, tentang mimpi yang sering kali terdengar seperti lelucon, tentang kota yang terlalu sibuk untuk peduli pada cerita kecil.

Langkah pelan terdengar dari tangga. Bu Mira, pengasuh rumah singgah yang selalu mengenakan cardigan rajut, menghampiri sambil membawa amplop putih.

“Ini buat kamu,” katanya.

Aruna mengernyit. “Buat saya?”

“Pengumuman lomba cerpen nasional. Temanya tentang suara generasi muda di tengah perubahan zaman. Ibu pikir kamu mungkin tertarik.”

Aruna menerima selebaran itu. Judulnya tercetak tebal: “Sayembara Cerita Nusantara: Menulis Masa Depan Indonesia.” Penyelenggaranya sebuah penerbit besar di Jakarta, bekerja sama dengan komunitas literasi.

“Pesertanya pasti ribuan, Bu,” gumam Aruna. “Yang ikut mungkin mahasiswa sastra, influencer, atau orang-orang yang memang sudah punya nama.”

Bu Mira tersenyum lembut. “Kamu takut kalah?”

Aruna terdiam. Ia menggeleng pelan. “Takut berharap.”

Jawaban itu menggantung di udara. Bu Mira duduk di kursi plastik, menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan. “Hidup kamu sudah cukup berat, Na. Jangan tambahkan beban dengan menutup pintu yang mungkin memang untukmu.”

Kata-kata itu tak terdengar heroik, tapi cukup untuk membuat Aruna menatap kembali selebaran di tangannya. Untuk pertama kalinya, ia membayangkan namanya tercetak di sampul buku. Bukan untuk terkenal. Hanya untuk membuktikan bahwa suaranya ada.

Ia mendaftar secara daring menggunakan komputer tua di ruang tamu. Setiap malam, setelah yang lain terlelap, Aruna menulis. Ia menuliskan kisah tentang seorang anak perempuan yang tumbuh di kota besar tanpa keluarga, yang belajar menemukan makna rumah bukan dari tembok, melainkan dari orang-orang yang memilih bertahan bersamanya. Ia menulis tentang kesepian di tengah keramaian, tentang algoritma media sosial yang lebih cepat menyebarkan sensasi ketimbang empati, tentang anak-anak yang harus dewasa sebelum waktunya.

Batas akhir pengumpulan naskah tiba bersama hujan deras. Dengan jantung berdebar, Aruna menekan tombol “kirim”. Setelah itu, hari-hari berjalan seperti biasa—bangun pagi, membantu memasak, sekolah daring, dan menulis diam-diam.

Sebulan kemudian, sebuah surel masuk ke kotak masuk Bu Mira. Ia memanggil Aruna dengan wajah sulit ditebak.

“Kamu lolos sepuluh besar. Diundang ke Jakarta Creative Hub untuk presentasi dan pembacaan karya.”

Aruna merasa dunia berhenti beberapa detik. Ia membaca ulang surel itu berkali-kali, memastikan tak ada kesalahan nama. Tangannya gemetar, bukan karena takut tampil, melainkan karena kemungkinan gagal terasa lebih nyata dari sebelumnya.

Hari presentasi tiba. Gedung itu dipenuhi anak muda dengan pakaian modis dan portofolio rapi. Beberapa saling mengenal dari komunitas literasi atau festival buku. Aruna datang dengan kemeja putih sederhana dan sepatu yang sudah mulai pudar warnanya.

Ia duduk di kursi peserta, memandangi layar besar di depan ruangan. Di sana terpampang wajah para juri—editor senior, penulis ternama, dan seorang kritikus sastra yang kerap viral di media sosial. Aruna menelan ludah.

Saat gilirannya tiba, ia melangkah ke podium. Lampu sorot terasa menyilaukan. Ia membuka naskahnya, lalu menutup kembali. Ia memilih berbicara tanpa membaca.

“Saya menulis tentang anak-anak yang tidak punya banyak pilihan,” katanya, suaranya sempat bergetar sebelum akhirnya mantap. “Tentang bagaimana kota bisa terasa sangat sepi meski kita dikelilingi jutaan orang. Saya menulis karena kadang, itu satu-satunya cara agar kami merasa ada.”

Ruangan hening. Ia membacakan sebagian ceritanya, tentang seorang gadis yang menyimpan surat-surat untuk ibunya yang tak pernah kembali, tentang cahaya kota yang indah tapi dingin.

Beberapa hari kemudian, pengumuman pemenang disiarkan langsung melalui kanal YouTube penerbit. Anak-anak Rumah Belajar Lentera berkumpul di depan televisi, kali ini bukan untuk mengejek.

“Juara pertama Sayembara Cerita Nusantara tahun ini adalah… Aruna Maheswari.”

Nama itu menggema di ruang tamu sempit. Dito yang dulu sering mengejeknya menoleh dengan mata membulat. Bu Mira menutup mulutnya, menahan tangis.

Aruna tak langsung berdiri. Ia seperti butuh waktu untuk percaya bahwa itu nyata. Ketika akhirnya melangkah ke depan, menerima plakat dan kontrak penerbitan, lampu kamera memantul di matanya.

Di balik panggung, seorang perempuan paruh baya dengan rambut pendek menghampirinya. Ia memperkenalkan diri sebagai Laksmi Adinata, editor senior di penerbit tersebut.

“Cerita kamu jujur,” katanya. “Tidak berlebihan, tidak menggurui. Itu yang membuatnya kuat. Kamu mau belajar lebih jauh?”

Tawaran itu bukan sekadar kelas menulis. Laksmi menawarkan bimbingan intensif, kesempatan magang di redaksi, dan jaringan yang tak pernah Aruna bayangkan sebelumnya.

Malam itu, Aruna duduk di atap rumah singgah, memikirkan semuanya. Ia mencintai tempat itu. Di sanalah ia belajar bangkit. Tapi kesempatan seperti ini mungkin tak datang dua kali.

Bu Mira duduk di sampingnya. “Pergilah,” katanya pelan, seolah tahu isi pikiran Aruna. “Rumah bukan tempat yang menahanmu. Rumah adalah tempat yang menguatkanmu untuk pergi.”

Aruna menerima tawaran itu.

Hari-harinya berubah drastis. Ia belajar tentang struktur cerita, riset, penyuntingan, dan kerasnya dunia penerbitan. Naskahnya tak lagi dipuji tanpa kritik. Paragraf-paragraf yang ia banggakan bisa saja dicoret habis dengan tinta merah.

Ia pernah pulang dengan mata sembap setelah naskahnya ditolak untuk proyek antologi. Ia merasa kembali menjadi anak panti yang tak cukup baik.

“Menulis bukan tentang cepat terkenal,” kata Laksmi suatu sore di ruang redaksi. “Ini tentang bertahan ketika tak ada yang bertepuk tangan.”

Aruna mengingat kalimat itu setiap kali ragu. Ia terus menulis, mengirim naskah, menerima penolakan, lalu mencoba lagi.

Lima tahun berlalu.

Sebuah novel berjudul “Cahaya yang Tinggal” terbit dengan nama pena A. Mahesa. Novel itu bercerita tentang anak-anak rumah singgah yang membangun perpustakaan kecil dari buku-buku bekas, tentang persahabatan yang lebih kuat dari darah, tentang kota yang kejam sekaligus memberi harapan.

Buku itu tak langsung meledak. Namun perlahan, pembaca menemukannya. Di media sosial, kutipan-kutipannya dibagikan ribuan kali. Diskusi tentang kesehatan mental remaja, kesenjangan sosial, dan arti keluarga kembali ramai. Aruna diundang ke berbagai forum literasi untuk berbicara.

Suatu pagi, di studio televisi yang tak jauh berbeda dari yang dulu ia tonton di ruang tamu rumah singgah, pembawa acara menyebut namanya sebagai penerima penghargaan sastra nasional untuk kategori penulis muda inspiratif.

“Kenapa memilih nama pena A. Mahesa?” tanya sang host.

Aruna tersenyum. Di kepalanya terlintas atap rumah singgah, pot-pot tanaman sederhana, dan ejekan ringan yang dulu sering ia dengar.

“Karena Mahesa berarti kuat,” jawabnya. “Dan saya ingin setiap anak yang merasa kecil tahu bahwa mereka lebih kuat dari yang mereka kira.”

Di luar studio, ponselnya bergetar. Pesan dari Dito masuk: “Gue lagi baca buku lo. Ternyata keren juga.”

Aruna tertawa kecil. Kota di luar tetap berisik, notifikasi tetap berdatangan, dan layar-layar LED terus menampilkan wajah baru setiap hari. Namun di tengah kebisingan itu, ia tahu satu hal: kata-kata pernah menjadi tempatnya berlindung ketika dunia terasa terlalu bising.

Kini, ia menulis bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk memastikan tak ada lagi anak yang merasa suaranya tenggelam oleh cahaya kota.

You can share this post!