Fraud Digital Uji Kepercayaan Ekonomi Asia Tenggara
Ekonomi

Fraud Digital Uji Kepercayaan Ekonomi Asia Tenggara

Latar News - JAKARTA, KOMPAS.com – Ancaman fraud yang nilainya diproyeksikan melampaui 40 miliar dollar AS per tahun atau sekitar Rp 640 triliun (kurs Rp 16.000 per dollar AS) kini menjadi ujian serius bagi fondasi ekonomi digital, termasuk di Asia Tenggara yang tengah tumbuh pesat.

Lonjakan transaksi keuangan daring dan penetrasi layanan pembiayaan digital memang mendorong ekspansi ekonomi baru. Namun di saat yang sama, risiko keamanan meningkat.

Lebih dari 80 persen institusi keuangan di Asia Pasifik kini mengandalkan Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi dan mencegah fraud secara real-time demi menjaga kepercayaan pengguna.

“Kepercayaan adalah fondasi dari ekonomi digital,” ujar Jefferson Chen, Co-founder, Group Chairman, dan CEO Advance Intelligence Group, melalui keterangan pers, Senin (2/3/2026).

“Tanpa sistem yang mampu mengelola risiko secara akurat dan real-time, pertumbuhan yang ada tidak akan berkelanjutan.”

AI sebagai Infrastruktur Kepercayaan

Didirikan pada 2016, Advance Intelligence Group membangun solusi berbasis AI yang berfokus pada identitas digital, pencegahan fraud, serta credit decisioning untuk institusi keuangan dan fintech.

Sejumlah studi industri menunjukkan, sistem berbasis AI mampu meningkatkan tingkat deteksi fraud hingga 90–95 persen. Pada saat yang sama, tingkat false positive dapat ditekan sebesar 30–60 persen, sehingga lebih banyak pengguna legitimate dapat disetujui tanpa mengorbankan aspek keamanan.

Dari sisi operasional, otomatisasi onboarding dan monitoring transaksi mampu mengurangi kebutuhan manual review hingga 40–70 persen. Biaya operasional tim fraud management pun dapat ditekan sebesar 30–50 persen. Model ini membuka ruang bagi perluasan akses kredit secara lebih aman, presisi, dan inklusif.

Advance Intelligence Group kini beroperasi di lebih dari 80 pasar global melalui dua lini bisnis utama, yakni ADVANCE.AI (B2B) dan Atome Financial (B2C). Secara kolektif, perusahaan melayani lebih dari 58 juta pengguna dan mendukung lebih dari 1.000 klien korporasi di sektor perbankan, fintech, dan e-commerce.

Atome Financial memanfaatkan infrastruktur data dan manajemen risiko yang sama untuk menyediakan layanan kredit konsumen seperti Buy Now Pay Later (BNPL), kartu kredit digital, pinjaman pribadi, hingga produk tabungan.

Pengakuan Global atas Peran Strategis

Atas kontribusinya dalam membangun infrastruktur kepercayaan digital di kawasan, Endeavor Indonesia mengumumkan Jefferson Chen sebagai Endeavor Entrepreneur ke-111 dari Indonesia melalui International Selection Panel di Singapura pada awal Februari 2026.

Dalam tahap akhir seleksi global, Jefferson terpilih setelah melalui proses bersama 15 perusahaan dari berbagai negara dan memperoleh enam suara “YES” dari panelis internasional.

Sebagai bagian dari jaringan Endeavor, Jefferson akan memperoleh akses mentorship dari founder, operator, dan investor global.

Monika Rudijono, Managing Director Endeavor Indonesia, menyampaikan apresiasi terhadap pencapaian tersebut.

“Kami sangat bangga menyambut Advance Intelligence Group sebagai bagian dari komunitas Endeavor,” kata Monika.

“Di tengah berkembangnya teknologi AI secara global, kami percaya Jefferson tidak hanya akan mendapatkan akses mentorship dari jaringan Endeavor di seluruh dunia, tetapi juga dapat menjadi peer bagi para founder lainnya dalam mendukung perjalanan startup mereka hingga mampu melakukan scale-up bisnis dengan lebih cepat.”

Dengan bergabungnya Jefferson sebagai Endeavor Entrepreneur, Advance Intelligence Group diharapkan memperluas kolaborasi lintas negara serta mempercepat pengembangan solusi AI yang menopang pertumbuhan ekonomi digital yang lebih aman dan berkelanjutan.

You can share this post!