Latar News - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai pungutan di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut memicu reaksi di pasar finansial global, menciptakan ketidakpastian bagi para trader.
Masalah ini berawal dari pelaporan berita yang dianggap Trump sebagai "Fake News" terkait pungutan yang dikenakan oleh Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang vital, dengan sekitar 30% pasokan minyak dunia melewati wilayah tersebut. Trump menegaskan bahwa Iran tidak meminta pungutan atau biaya lainnya dari kapal-kapal yang berlayar di selat itu.
Dalam pernyataannya, Trump memberikan ultimatum bahwa jika informasi mengenai pungutan itu salah, negosiasi antara AS dan Iran akan segera berakhir. Negosiasi ini merujuk pada pembicaraan tidak langsung yang difasilitasi oleh pihak ketiga terkait kesepakatan nuklir dan isu-isu lainnya setelah penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018. Trump juga menyatakan bahwa dana Iran yang dibekukan oleh AS tidak akan dilepaskan, tetapi menyiratkan akan menggunakan sebagian dari dana tersebut untuk membantu petani AS dalam membeli komoditas untuk Iran.
Pernyataan Trump menciptakan ketidakpastian yang langsung berdampak pada pasar, dengan Dolar AS menguat terhadap Yen Jepang, Euro, dan Pound Sterling. Emas sebagai aset "safe haven" juga mengalami peningkatan permintaan. Kenaikan harga minyak mentah menjadi indikator penting, karena ketidakpastian di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga dan mempengaruhi inflasi global. Trader di pasar diharapkan untuk tetap waspada dan menerapkan strategi manajemen risiko yang solid dalam menghadapi situasi yang cepat berubah ini.