Peran Teknologi dan Kesadaran Budaya dalam Pengelolaan Festival
Teknologi

Peran Teknologi dan Kesadaran Budaya dalam Pengelolaan Festival

Latar News - Dari perspektif studi budaya, Dr. Bui Thi Nhu Ngoc, seorang dosen senior di Departemen Propaganda di Akademi Jurnalisme dan Komunikasi, percaya bahwa jika diimplementasikan secara komprehensif dan dengan bimbingan yang tepat, ini tidak hanya akan menjadi solusi teknis sementara tetapi juga dapat mengantarkan transformasi struktural dalam pengelolaan situs bersejarah dan penyelenggaraan festival.

Teknologi tidak dapat menggantikan unsur manusia.

Menurut Dr. Bui Thi Nhu Ngoc, penggabungan pencapaian ilmiah dan teknologi modern ke dalam manajemen festival menunjukkan pergeseran pola pikir dan visi oleh pemerintah dan lembaga terkait. Penerapan AI, kamera pintar, tiket elektronik, dan lain-lain, bukan hanya tentang menyelesaikan masalah langsung seperti kemacetan, kepadatan pengunjung, atau kehilangan pendapatan, tetapi juga bertujuan untuk manajemen berbasis data, transparansi layanan, dan peningkatan pengalaman pengunjung.

Salah satu poin penting adalah pergeseran dari model manajemen tradisional ke model tata kelola modern yang berbasis data. Hal ini memungkinkan penyelenggara untuk lebih mengontrol arus pengunjung, memastikan keamanan dan keselamatan, menangani situasi tak terduga dengan cepat, dan mempertahankan pendapatan yang stabil melalui transformasi digital. Jika diimplementasikan secara efektif, ini dapat dianggap sebagai terobosan struktural, yang meletakkan dasar bagi pengembangan festival yang berkelanjutan.

Namun, "membersihkan" ruang festival dalam arti budaya tidak hanya berhenti pada pengendalian perilaku yang dangkal. Teknologi dapat membantu mengurangi kepadatan, dorongan, dan praktik penipuan harga, tetapi sulit untuk mengubah pola pikir pragmatis para peziarah, mentalitas mencari sedekah, atau fenomena seperti menyebarkan uang receh dan membakar kertas nazar secara sembarangan.

Dari perspektif perilaku, tindakan seperti menggunakan bahasa kasar, tidak menghormati tempat suci, dan berpakaian tidak pantas adalah masalah kesadaran individu dan norma komunitas. Mesin dapat merekam perilaku ini, tetapi mereka tidak dapat secara otomatis menyesuaikan persepsi seseorang. Tanpa berfokus pada pengembangan fondasi budaya yang kuat, nilai-nilai tradisional yang terkait dengan kesakralan, semangat komunitas, dan aspek humanistik festival mudah terdistorsi atau bahkan disalahartikan.

Dr. Bui Thi Nhu Ngoc menekankan bahwa festival diciptakan, dilestarikan, dan diwariskan dari generasi ke generasi oleh manusia. Teknologi juga diciptakan oleh manusia. Oleh karena itu, manusia tetap menjadi faktor penentu, memainkan peran kunci dalam melestarikan identitas budaya dan menciptakan ruang festival yang sehat dan beradab.

Premis untuk sebuah 'revolusi' dalam pengelolaan warisan budaya.

Dalam konteks banyak festival yang menghadapi komersialisasi dan kepadatan pengunjung, model manajemen baru di Pagoda Huong dapat dilihat sebagai pendahulu dari "revolusi" yang lebih luas dalam pengelolaan situs bersejarah dan kegiatan festival.

Menurut Dr. Bui Thi Nhu Ngoc, model ini membantu menyelesaikan masalah inti: melestarikan kondisi asli situs bersejarah; memastikan keamanan dan keselamatan; mengurangi kemacetan; meminimalkan komersialisasi yang berlebihan; segera menangani pelanggaran; dan meningkatkan pengalaman budaya bagi wisatawan. Ini adalah persyaratan penting untuk pembangunan berkelanjutan.

Namun, prasyaratnya tidak hanya terletak pada teknologi. Dari segi kesadaran, perlu ada konsensus dan tekad yang kuat dari semua tingkatan pemerintahan dalam menciptakan kerangka hukum dan mekanisme yang tepat untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan situs dan festival bersejarah. Masyarakat juga perlu mengubah pola pikir mereka dari "memaksimalkan eksploitasi" menjadi "konservasi yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan," menghormati nilai-nilai spiritual dan secara proaktif mempraktikkan praktik budaya yang sesuai.

Dari segi tindakan, transformasi digital harus diimplementasikan secara serentak, berdasarkan infrastruktur teknis yang solid dan kemampuan untuk menguasai teknologi. Bersamaan dengan itu, tindakan tegas harus diambil terhadap tindakan vandalisme terhadap situs bersejarah, pelecehan, kepadatan pengunjung, dan komersialisasi yang menyinggung…untuk menciptakan lingkungan yang bersih agar model manajemen baru dapat efektif.

Meskipun pengawasan kamera bertenaga AI meningkatkan transparansi, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang privasi dan pengalaman spiritual pengunjung. Para ahli menyarankan agar penyelenggara secara publik mengungkapkan lokasi dan tujuan pemasangan kamera, memastikan keamanan data, dan menghapusnya setelah jangka waktu tertentu.

Selain itu, sistem peralatan harus dirancang agar ringkas dan ditempatkan di lokasi yang tepat sehingga tidak mengganggu lanskap, arsitektur kuno, dan ruang budaya yang membutuhkan ketenangan. Sistem ini sama sekali tidak boleh dipasang di area sensitif seperti toilet, ruang ganti, atau terlalu dekat dengan area upacara. Teknologi hanya boleh berperan sebagai pendukung dan tidak boleh menutupi aspek sakral dan humanistik dari festival tersebut.

Faktanya, transformasi digital dalam pengelolaan perahu dan feri serta penjualan tiket elektronik tidak hanya melayani tujuan manajemen tetapi juga secara langsung berdampak pada mata pencaharian masyarakat setempat, yang merupakan pemangku kepentingan yang berpartisipasi dalam kegiatan festival.

Transformasi digital mencerminkan pendekatan proaktif dan manusiawi.

Menurut Dr. Bui Thi Nhu Ngoc, digitalisasi membantu meningkatkan transparansi pendapatan, meningkatkan profesionalisme, memastikan keadilan, dan mengurangi persaingan untuk mendapatkan pelanggan serta kepadatan pengunjung. Ketika ketertiban stabil, lingkungan mata pencaharian menjadi lebih sehat, orang merasa aman dalam berbisnis, sehingga berkontribusi pada terciptanya ruang budaya yang beradab untuk festival tersebut.

Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya memiliki signifikansi manajerial tetapi juga mencerminkan pendekatan proaktif dan manusiawi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan akan kegiatan budaya yang aman dan nyaman serta mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Dari perspektif budaya, untuk membangun ruang festival yang beradab, selain teknologi, perlu juga mempromosikan komunikasi, pendidikan, dan regulasi manajemen. Media seperti surat kabar, platform digital, dan jejaring sosial harus berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai warisan dan menumbuhkan toleransi budaya.

Pada saat yang sama, keluarga dan sekolah perlu memperkuat pendidikan generasi muda melalui pengalaman praktis, mengintegrasikan konten festival budaya ke dalam pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler, serta memastikan keberlanjutan dan kreativitas budaya.

Selain itu, penegakan peraturan yang ketat sangat diperlukan. Perilaku anti-budaya seperti membuang sampah sembarangan, menaikkan harga secara berlebihan, takhayul, dan pakaian yang tidak pantas harus ditangani secara tegas untuk menciptakan efek jera. Manajemen lalu lintas yang tepat, alokasi ruang yang rasional, dan integrasi teknologi modern juga berkontribusi untuk mengurangi aspek negatif dan mencegah potensi masalah.

Meskipun teknologi dapat membantu "membersihkan" ruang festival dari sudut pandang manajerial, manusia tetap menjadi faktor kunci. Ketika teknologi hanya berperan sebagai pendukung dan kesadaran budaya ditingkatkan, ruang festival benar-benar dapat menjadi beradab sambil tetap melestarikan kesakralan dan identitas tradisionalnya.

You can share this post!