Tradisi Sapu Koin di Jembatan Sewo dan Legenda Saedah Saenih
Sumber Foto: IndramayuJeh
Latar Utama

Tradisi Sapu Koin di Jembatan Sewo dan Legenda Saedah Saenih

Latar News - Wahyu Topami /

Dishub pastikan Jembatan Sewo Indramayu aman dilalui pemudik. Namun, fenomena penyapu koin di jalur Pantura ini tetap jadi perhatian serius, Selasa (10/3/2026). (Foto: Indramayujeh.com/Wahyu Topami).

Array

1 Shares

5440 Views

Share on twitter Share on facebook Pin It LinkedIn

INDRAMAYUJEH.COM, INDRAMAYU – Melintasi wilayah Pantura, tepatnya di kawasan Jembatan Sewo, Indramayu, pelintas akan ditemui belasan hingga puluhan warga yang tengah memegang sapu lidi. Fenomena ini bukan bertujuan untuk membersihkan jalan, melainkan bagian dari tradisi menyapu koin yang dilempar para pelintas dari tengah ke pinggir jalan. Sejarah Jembatan Sewo dan tradisi mengais koin ini nampaknya telah bertahan sejak puluhan tahun lamanya, berakar kuat pada kepercayaan masyarakat lokal tentang kisah Saedah Saenih yang melegenda.

Yuzar Purnama dalam jurnal Patanjala (2016) berjudul Mitologi Saedah Saenih, membahas mitos ini sebagai alasan utama terbentuknya tradisi di Kali Sewo. Kisah ini bermula dari sebuah keluarga di Desa Karang Turi, Indramayu, yang terdiri atas suami istri bernama Ki Sarkawi dan Maimunah. Sarkawi memiliki dua orang anak dari pernikahan pertamanya bernama Saedah dan Saenih. Maemunah, sang ibu tiri yang merupakan penari ronggeng populer, kerap berlaku kasar kepada keduanya saat Ki Sarkawi pergi ke hutan.

BACA JUGA: Warga Indramayu di Polandia Meriahkan HUT RI ke-80 di KBRI Warsawa

Suatu ketika, rasa lapar membuat Saedah nekat memasak beras yang sejatinya merupakan pantangan dari ibu tirinya. Maimunah yang naik pitam kemudian menggunakan guna-guna agar Ki Sarkawi lebih memilih dirinya daripada anak-anaknya. Akibat pengaruh mistis tersebut, Ki Sarkawi tega meninggalkan Saedah dan Saenih di tengah hutan belantara yang sunyi. Di tengah kegelapan, seorang kakek tua menghampiri dan menawarkan kesepakatan untuk menjadikan mereka penari ronggeng hingga sukses, namun dengan taruhan nyawa di akhir hayat.

Baca juga: Penyapu Koin Jembatan Sewo: Cara Warga Mengisi Waktu Ngabuburit Sambil Mencari Nafkah

Sisi Kelam Sejarah Jembatan Sewo dan Kutukan Kali Sewo

Tahun berganti, Saedah dan Saenih menjadi kaya raya sebagai penari ronggeng dan tinggal di wilayah Sewo. Namun, sesuai perjanjian, Saenih akhirnya menemui ajalnya. Berita kesohoran mereka sampai ke telinga Ki Sarkawi dan Maemunah yang saat itu sudah jatuh melarat. Mereka berniat mengunjungi kediaman anaknya, namun hanya mendapati Saedah yang kemudian memberikan koper berisi uang sebagai pengganti beras yang dahulu mereka gunakan.

BACA JUGA: Puluhan Makam di Indramayu Ditempel Stiker Segel, Pengadilan: Kami Tidak Pernah Mengeluarkannya

Penyesalan mendalam menghantui Ki Sarkawi. Dalam sejarah Jembatan Sewo yang dituturkan secara turun-temurun, Ki Sarkawi dan istrinya dikisahkan tewas tergelincir atau menjatuhkan diri ke sungai Kali Sewo saat perjalanan pulang. Masyarakat meyakini bahwa arwah mereka masih bersemayam di sungai tersebut. Oleh karena itu, pelemparan koin dianggap sebagai bentuk “izin” agar pelintas dapat melalui jembatan dengan aman dari gangguan mistis penghuni sungai.

Keyakinan akan kutukan ini semakin menguat pasca kecelakaan tragis pada 11 Maret 1974 yang melibatkan bus transmigran asal Boyolali. Kecelakaan di Jalur Pantura tersebut mengakibatkan bus masuk ke dasar sungai dan menewaskan 67 penumpang. Tragedi memilukan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi sejarah Jembatan Sewo yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Indramayu maupun para pemudik yang melintas.

BACA JUGA: Kendaraan Besar Bersumbu 3 Dialihkan Menuju Jalur Arteri Pantura Jabar

Posts navigation

BAZNAS Tetapkan Besaran Zakat Fitrah Indramayu 1447 H: Rp37.500 Per Jiwa atau 2,5 Kilogram Beras

Jembatan Sewo: Sisi Lain Tradisi dan Solidaritas di Jalur Pantura

Wahyu Topami

Related posts

Berita Terbaru, Nasional

Ekonomi Syariah dan Industri Halal Jadi Fokus Forum Ekonomi Regional Jawa 2026

June 6, 2026

Berita Terbaru, Jawa Barat

Tantang Alibi Pelaku Paoman, Kuasa Hukum Korban dalam Sidang Pembunuhan di Indramayu Tegaskan Siap Jalan Kaki dari Anjatan ke Indramayu Jika Polisi Salah Tangkap

June 5, 2026

Berita Terbaru, Jawa Barat

Angkut Mayat Pakai Bambu dan Terpal Terekam Jelas, Hery Reang Sebut CCTV Bongkar Kebohongan Terdakwa dalam Sidang Kasus Pembunuhan Indramayu

June 5, 2026

Berita Terbaru, Jawa Barat

Sebut Inafis Tak Temukan Jejak Ririn dan Priyo, Toni RM Cecar Bukti Bercak Darah dalam Sidang Kasus Pembunuhan Indramayu di Pengadilan

June 5, 2026

Berita Terbaru, Jawa Barat

Ririn Rifanto Tolak Mentah-mentah Kesaksian Penyidik dalam Sidang Kasus Pembunuhan Indramayu

June 4, 2026

Berita Terbaru, Jawa Barat

Saksi Sidang Pembunuhan di Indramayu Sebut Debu Tebal Hambat Identifikasi Sidik Jari

June 4, 2026