13 Jurusan Kuliah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Kalangan Lulusan Baru
Sumber Foto: Kompas.com
Sosial

13 Jurusan Kuliah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Kalangan Lulusan Baru

KOMPAS.com - Di tengah lanskap dunia kerja yang kian tidak menentu, memiliki gelar pendidikan tinggi ternyata tidak selalu menjamin karier yang cemerlang.

Hal ini tergambar dari analisis Bank Federal Reserve New York terhadap 73 jurusan kuliah, termasuk kategori gabungan lainnya, berdasarkan data Biro Sensus Amerika Serikat tahun 2024.

Studi tersebut meneliti tingkat pengangguran di kalangan lulusan baru, yakni mereka yang berusia 22 hingga 27 tahun dan telah meraih gelar sarjana atau lebih tinggi.

Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah jurusan yang berkaitan dengan seni mencatat tingkat pengangguran relatif tinggi.

Namun, antropologi menempati posisi teratas dengan tingkat pengangguran mendekati 8 persen.

Selain itu, jurusan pendidikan anak usia dini juga termasuk yang memiliki tingkat pengangguran cukup tinggi.

Lantas, jurusan apa saja yang memiliki tingkat pengangguran tertinggi?

Jurusan dengan pengangguran tertinggi

Dilansir dari Business Insider, Kamis (12/2/2026), berikut daftar jurusan kuliah dengan tingkat pengangguran tertinggi di kalangan lulusan perguruan tinggi:

Antropologi: 7,9 persen

Teknik Komputer: 7,8 persen

Seni Rupa: 7,7 persen

Ilmu Komputer: 7 persen

Seni Pertunjukan: 7 persen

Arsitektur: 6,8 persen

Sejarah Seni: 6,7 persen

Fisika: 6,6 persen

Pendidikan Anak Usia Dini: 6,6 persen

Studi Lingkungan: 6,3 persen

Teknisi Medis: 6,2 persen

Bahasa Inggris: 6,1 persen

Hubungan Internasional: 6,1 persen.

Kepala ekonom Glassdoor, Daniel Zhao mengatakan, daftar tersebut cukup menarik karena jurusan dengan tingkat pengangguran tinggi tidak berasal dari satu kelompok bidang tertentu saja.

“Ada beberapa jurusan yang memiliki pasar kerja sangat terbatas, seperti seni rupa atau seni pertunjukan. Namun, ada juga jurusan lain yang sangat diminati dan menawarkan gaji tinggi, seperti teknik komputer atau ilmu komputer,” ujarnya.

Munculnya fenomena pengangguran terselubung

Ia juga menyoroti fenomena underemployment atau pengangguran terselubung, yakni lulusan yang bekerja di bidang yang sebenarnya tidak memerlukan gelar sarjana.

Menurut Zhao, teknik komputer dan ilmu komputer memiliki tingkat pengangguran terselubung di bawah 20 persen.

Sebaliknya, antropologi, seni rupa, dan seni pertunjukan mencatat angka di atas 50 persen.

Sebagai contoh, lulusan ilmu komputer mungkin kesulitan mendapatkan pekerjaan di sektor teknologi dalam kondisi pasar saat ini.

Namun, mereka cenderung bersedia menunggu karena jika berhasil mendapatkan posisi yang tepat, gajinya jauh lebih tinggi dibandingkan industri lain.

Di sisi lain, lulusan antropologi atau seni rupa umumnya tidak memiliki “bantalan finansial” yang cukup untuk menunggu terlalu lama, mengingat peran di bidang tersebut biasanya tidak menawarkan gaji setinggi sektor teknologi.

Pertumbuhan pasar tenaga kerja melambat

Kondisi ini terjadi di tengah perlambatan pasar tenaga kerja di Amerika Serikat. Negara tersebut mencatat pertumbuhan lapangan kerja terendah sejak 2003 di luar masa resesi.

Meski angka PHK tidak melonjak dan tingkat pengangguran secara umum masih rendah, perekrutan turun signifikan dibanding beberapa tahun terakhir.

Tingkat pengangguran lulusan baru tercatat 5,6 persen pada Desember, naik dari 4,8 persen pada awal 2025.

Dalam catatan riset Goldman Sachs, tren perekrutan dan pemecatan yang sama-sama rendah ini berkontribusi pada meningkatnya pengangguran di kalangan pekerja muda serta berisiko membuat mereka semakin terpinggirkan dari pasar kerja.

Zhao menyarankan agar para pencari kerja lebih aktif membangun jaringan, termasuk memanfaatkan layanan karier di kampus dan menjalin komunikasi dengan alumni.

Ia juga mendorong lulusan untuk memperluas cakupan pencarian kerja, karena keterampilan yang dimiliki bisa saja dibutuhkan di bidang lain yang belum terpikirkan sebelumnya.

Sementara itu, Hany Farid, profesor di University of California, Berkeley, menilai peluang bagi lulusan ilmu komputer tidak selalu berada di perusahaan teknologi besar.

“Saya selalu berpendapat bahwa aplikasi ilmu komputer yang paling menarik bukan di Facebook, Google, atau Amazon, tetapi di persimpangan antara komputasi dan bidang lain,” ujarnya.

Ia mencontohkan bidang seperti penemuan obat berbasis komputasi, keuangan komputasional, humaniora digital, serta berbagai peran lintas disiplin lainnya sebagai peluang yang menjanjikan.