Menggali Makna Isra Mi'raj dalam Tahun Kesedihan Nabi Muhammad
Hari ini, Rabu tanggal 7 Januari 2026, kita berada di pertengahan bulan mulia, Rajab 1447 Hijriah (sekitar tanggal 18 Rajab). Kurang dari sepuluh hari lagi, umat Islam di seluruh dunia akan memperingati salah satu mukjizat terbesar sepanjang masa, yaitu peristiwa Isra dan Mi'raj yang jatuh pada tanggal 27 Rajab. Namun, sering kali peringatan ini hanya berfokus pada perjalanan fantastis menembus langit ketujuh atau perintah sholat lima waktu semata. Jarang sekali kita merenungi Asbabun Nuzul atau latar belakang sosiologis dan psikologis mengapa Allah SWT "menjemput" kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW, justru pada saat itu. Padahal, memahami konteks sejarahnya akan membuat kita meneteskan air mata dan semakin mencintai Rasulullah SAW.
Peristiwa Isra Mi'raj tidak terjadi di ruang hampa. Ia adalah jawaban langit atas duka bumi yang teramat dalam. Mukjizat ini terjadi tepat setelah Rasulullah SAW mengalami tahun terberat dalam hidup beliau yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai 'Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Di tahun ke-10 kenabian tersebut, Nabi Muhammad SAW diguncang oleh badai ujian yang bertubi-tubi, kehilangan orang-orang yang paling dicintainya, hingga mengalami penolakan yang brutal dari manusia. Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri lorong waktu menuju Makkah 14 abad silam, memahami betapa hancurnya hati Sang Nabi di tahun kesedihan, dan bagaimana Allah menghibur hati beliau dengan perjalanan agung Isra Mi'raj.
Amul Huzni, Runtuhnya Dua Pilar Penopang Dakwah
Para ahli sejarah (Sirah Nabawiyah) seperti Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakpuri dalam Ar-Raheeq Al-Makhtum mencatat bahwa tahun ke-10 kenabian adalah fase paling kritis bagi dakwah Islam di Makkah. Pada tahun ini, Rasulullah SAW kehilangan dua sosok yang menjadi "sayap pelindung" beliau, baik secara internal maupun eksternal.
1. Wafatnya Abu Thalib, Perisai Politik dan Fisik
Kehilangan pertama adalah wafatnya paman tercinta, Abu Thalib. Meskipun Abu Thalib tidak memeluk Islam hingga akhir hayatnya, namun beliaulah yang selama ini pasang badan menjadi benteng pelindung Nabi dari kekejaman kaum Quraysh. Status sosial Abu Thalib yang tinggi membuat para pembesar Quraysh segan untuk menyakiti fisik Nabi.
Ketika Abu Thalib wafat, runtuhlah benteng perlindungan politik Nabi. Kaum Quraysh yang tadinya hanya berani mencemooh, mulai berani melakukan kekerasan fisik. Ada yang menaruh kotoran unta di punggung Nabi saat sholat, ada yang mencekik beliau, hingga meludahi wajah beliau yang mulia. Rasulullah SAW bersabda dengan nada pilu:
"Orang-orang Quraisy tidak bisa menyakitiku (secara fisik yang parah) sampai Abu Thalib meninggal dunia." (Sirah Ibnu Hisyam)
2. Wafatnya Khadijah Al-Kubra, Perisai Jiwa dan Harta
Belum kering air mata karena kepergian paman, sekitar dua atau tiga bulan kemudian, istri tercinta beliau, Siti Khadijah binti Khuwailid RA, dipanggil oleh Allah SWT. Ini adalah pukulan telak bagi jiwa Rasulullah. Khadijah bukan sekadar istri, tapi juga penyokong dana dakwah utama dan tempat Nabi pulang mengadukan segala resah.
Khadijah adalah orang pertama yang beriman saat semua orang ingkar. Khadijah yang menyelimuti Nabi saat beliau gemetar menerima wahyu pertama. Wafatnya Khadijah membuat Nabi merasa sangat kesepian di tengah permusuhan kaumnya. Rasulullah SAW selalu mengenang Khadijah sepanjang hidupnya, hingga Aisyah RA pernah cemburu. Nabi bersabda:
"Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik daripadanya. Dia beriman padaku saat orang-orang mengingkariku, dia membenarkanku saat orang-orang mendustakanku, dia membantuku dengan hartanya saat orang-orang menahannya dariku..." (HR. Ahmad)
Kombinasi kehilangan pelindung eksternal (Paman) dan pelindung internal (Istri) inilah yang membuat tahun itu dinamakan 'Amul Huzni.
Tragedi Thaif, Puncak Kesedihan Sebelum Isra
Kesedihan Nabi semakin memuncak ketika beliau mencoba mencari suaka dakwah ke kota Thaif, berharap Bani Tsaqif mau menerima Islam menggantikan Makkah yang semakin bermusuhan. Namun, apa yang terjadi? Bukan sambutan hangat yang diterima, melainkan penghinaan yang lebih kejam. Para pemimpin Thaif mengusir Nabi, dan menyuruh anak-anak kecil serta budak untuk melempari Nabi dengan batu sepanjang jalan.
Darah segar mengalir dari kepala hingga membasahi terompah (sandal) Nabi. Zaid bin Haritsah yang berusaha melindungi Nabi pun terluka parah. Nabi kemudian berlindung di sebuah kebun anggur, dan di sanalah beliau memanjatkan doa yang sangat menyayat hati, yang dikenal sebagai Doa Pengaduan Nabi:
اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ...
Artinya: "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Dzat Yang Paling Penyayang, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Rabb-ku. Kepada siapa Engkau hendak menyerahkan aku? Kepada orang jauh yang membenciku, atau kepada musuh yang Engkau beri kuasa atasku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli..." (HR. Thabrani)
Doa ini menunjukkan level kepasrahan total (Total Surrender) seorang hamba yang sudah buntu secara ikhtiar manusiawi. Bumi Makkah menolak, Bumi Thaif mengusir, Istri wafat, Paman tiada. Nabi Muhammad SAW benar-benar sendirian.
Isra Mi'raj, "Tasliyah" (Penghiburan) dari Langit
Di titik nadir kesedihan itulah, Allah SWT menjawab doa kekasih-Nya. Jika penduduk bumi menolak dan menghinakan Muhammad, maka Allah akan mengundang penduduk langit untuk menyambut dan memuliakannya. Allah ingin menunjukkan: "Wahai Muhammad, jika bumi ini sempit bagimu, maka naiklah ke langit-Ku yang luas."
Maka terjadilah peristiwa Isra (perjalanan malam dari Makkah ke Palestina) dan Mi'raj (naik ke Sidratul Muntaha).
Di dalam Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirman :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى...
Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami..." (QS. Al-Isra: 1)
Dalam kitab Fiqh As-Sirah, Syaikh Al-Buthi menjelaskan bahwa Isra Mi'raj adalah bentuk Tasliyah Rabbaniyah (Hiburan Ketuhanan).
- Di setiap lapisan langit, Nabi disambut oleh Nabi Adam, Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Mereka semua menyambut dengan kata-kata "Selamat datang wahai Nabi yang sholeh dan saudara yang sholeh." Ini mengobati rasa sepi Nabi yang ditolak di bumi.
- Melihat Surga: Allah memperlihatkan balasan nikmat bagi orang yang sabar, memberikan kepastian visi bahwa perjuangan Nabi tidak akan sia-sia.
- Perintah Sholat: Sholat 5 waktu menjadi "Mi'raj"-nya orang mukmin. Allah memberikan alat bagi Nabi dan umatnya untuk "naik" menemui Allah setiap hari ketika hati sedang sedih.
Pelajaran untuk Kita di Tahun 2026
Kisah Amul Huzni dan Isra Mi'raj mengajarkan kita bahwa:
a. Ujian Mendahului Kemuliaan
Tidak ada kenaikan derajat (Mi'raj) tanpa melalui ujian berat (Amul Huzni) terlebih dahulu. Jika di awal tahun 2026 ini Anda sedang diuji berat (kehilangan pekerjaan, keluarga, atau sakit), bersabarlah. Mungkin Allah sedang menyiapkan "Mi'raj" (kenaikan derajat) untuk Anda.
b. Sholat adalah Obat
Oleh-oleh Isra Mi'raj adalah Sholat. Maka, jika hati sedih, obatnya adalah sholat. "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu." (QS. Al-Baqarah: 45).
c. Allah Tidak Pernah Meninggalkan Kita
Saat semua pintu bumi tertutup, pintu langit selalu terbuka. Doa Nabi di Thaif adalah bukti bahwa curhat terbaik hanya kepada Allah.
Saudaraku, sebentar lagi kita akan memperingati Isra Mi'raj. Jangan biarkan momen itu lewat hanya sebagai seremonial. Rasakanlah getaran hati Rasulullah SAW yang bangkit dari kesedihan mendalam menuju puncak kemuliaan sidratul muntaha.
Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan bahwa cara terbaik mengobati kesedihan adalah dengan mendekat kepada Allah dan peduli kepada sesama. Khadijah RA mengobati hati Nabi dengan hartanya, maka kita pun bisa mengobati hati sesama dengan harta kita.
Hibur Saudara yang Sedih dengan Sedekah
Di luar sana, banyak saudara kita yang sedang mengalami "Amul Huzni" mereka sendiri. Ada anak-anak yatim yang kehilangan "Khadijah dan Abu Thalib" (ayah ibu) mereka. Ada dhuafa yang terusir karena kemiskinan.
Jelang Isra Mi'raj ini, mari kita menjadi penghibur bagi mereka. Salurkan sedekah terbaik Anda melalui Baitulmaal Muamalat (BMM). Sebagaimana Allah menghibur Nabi dengan Isra Mi'raj, semoga Allah menghibur kesedihan hidup Anda melalui wasilah sedekah yang Anda keluarkan. Hapus Kesedihan, Raih Kemuliaan dengan Sedekah Di Sini.




