Sekolah Rakyat Ponorogo: Harapan Baru untuk Anak dengan Latar Belakang Kompleks
Sumber Foto: jatim.tribunnews.com
Latar Utama

Sekolah Rakyat Ponorogo: Harapan Baru untuk Anak dengan Latar Belakang Kompleks

Ringkasan Berita:

Sekolah Rakyat Ponorogo menampung 113 siswa dari keluarga desil 1 dan 2.

Pendekatan tanpa kekerasan membentuk karakter disiplin dan memberi harapan masa depan.

Siswa difasilitasi laptop, asrama, dan kurikulum digital untuk mendukung pembelajaran.

Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Pramita Kusumaningrum

TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Sekolah rakyat di Kabupaten Ponorogo telah hadir mulai 6 bulan lalu. Terletak di eks Sentra Industri, Jalan Trunojoyo, Kelurahan Tambakbayan, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, Jatim ada ratusan siswa menjadi anak negara.

Adalah Sekolah Rakyat terintegrasi 5 di Ponorogo hadir sebagai rumah kedua bagi anak-anak dengan latar belakang sosial yang kompleks, mulai dari minim perhatian keluarga hingga pengalaman kenakalan remaja.

Melalui pendekatan pendidikan tanpa kekerasan, Sekolah Rakyat tidak hanya menjalankan fungsi belajar formal, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan harapan masa depan bagi para siswanya.

“Ini adalah sekolah kedua siswa kami. Mendidik tidak harus dengan kekerasan anak. Itu bisa nurut, bisa ikut bisa patuh bisa taat gitu. Tetapi di sekolah rakyat ini, bagaimana caranya anak itu diperlakukan dengan baik, tetapi juga tetap mengikuti peraturan yang tetap ini,” ungkap Kepala Sekolah Rakyat terintegrasi 5 di Ponorogo, Devit Tri Candrawati, Sabtu (17/1/2026).

Pendekatan Tanpa Kekerasan

Devit mengatakan bahwa selama 6 bulan pengalamannya adalah menghadapi berbagai karakter anak.

Ada 113 siswa yang tertampung di Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 di Ponorogo.

“Ada anak itu kurang-kurang mendapatkan kasih sayang oleh orang tua. Jadi, setiap kali saya datang itu, anak-anak tiba-tiba peluk. Bu Devit bu Devit begitu,” tegasnya

Hal itu membuat dirinya dekat dengan siswa. Maupun siswa dekat dengan guru dan wali asuh.

“Jadi, kalau saya bisa menarik kesimpulan di sini. Memang, anak itu perhatian tidak hanya materi saja, mengangkat dan menanyakan kabar menyapa sudah makan atau belum. Mengelus memberi perhatian itu adalah sangat luar biasa bagi mereka,” tegasnya.

Berbicara kebandelan remaja, Devit mengaku memang selalu ada. Sampai ada yang berurusan dengan masyarakat. Akan tetapi semua diselesaikan dengan kekeluargaan.

“Dengan berjalannya waktu setelah 6 bulan di sini, tuh masya Allah sekali. Anak-anak itu sudah kebiasaan-kebiasaan itu sudah tidak dilakukan lagi,” ceritanya.

Devit menyatakan untuk kegiatan belajar mengajar kurikulum di Sekolah Rakyat kurang lebih sama dengan sekolah umum lainnya. Hanya saja di Sekolah Rakyat menggunakan sistem learning management.

“Jadi, kayak semua pembelajaran ter manager. Pasa satu aplikasi, jadi anak itu nanti dapatnya materi di aplikasi itu mengerjakan materi di aplikasi itu tugas dan absen segala macamnya terfokus di aplikasi itu,” urainya.

Saat ini, ratusan siswa di Sekolah Rakyat terintegrasi 5 di Ponorogo sudah mendapatkan laptop dari pemerintah pusat. Laptop datang di Bumi Reog pada Desember pekan kedua.