Tingkat Pengangguran AS Mencapai 4,6%, Tertinggi Sejak 2021
JAKARTA - Pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda stagnasi sepanjang 2025, dengan meningkatnya risiko pelemahan lebih lanjut pada 2026.
Laporan ketenagakerjaan November mencatat tingkat pengangguran naik tak terduga menjadi 4,6%, level tertinggi sejak pertengahan 2021, sementara ekspektasi publik terhadap kenaikan pengangguran dalam setahun ke depan ikut menguat.
Dikutip finance.yahoo.com, penciptaan lapangan kerja hampir terhenti, bahkan pasar diperkirakan kehilangan sekitar 41.000 pekerjaan pada Oktober dan November.
Di sisi lain, pemutusan hubungan kerja mulai meningkat, sementara tingkat perekrutan bertahan di level terendah sejak awal pandemi dan pascakrisis keuangan global.
Indeed Hiring Lab menilai kondisi pasar tenaga kerja saat ini cenderung membeku. Dalam laporannya disebutkan: “Pertanyaannya bukan apakah pasar akan mencair melainkan apakah pasar akan retak.”
Hal itu menandakan potensi tekanan yang lebih besar ke depan di perekonomian Amerika. Ketergantungan pada sektor kesehatan juga menjadi sorotan. Hingga Agustus 2025, sektor ini menyumbang hampir setengah dari total pertumbuhan lapangan kerja. Penurunan tajam di sektor tersebut, tanpa pemulihan sektor lain, dinilai dapat memperburuk kondisi pasar tenaga kerja.
Para analis memperkirakan lingkungan rekrutmen rendah, pemecatan rendah akan berlanjut.
“Hasil yang paling mungkin bukanlah perubahan drastis dari kondisi saat ini, tetapi perpanjangan dari lingkungan 'rekrutmen rendah, pemecatan rendah' saat ini,” ujar para ahli Indeed Hiring Lab, menegaskan pasar kerja yang lebih lambat dan selektif bagi perusahaan maupun pencari kerja.
Federal Reserve sendiri memproyeksikan pengangguran mencapai puncak 4,5% sebelum turun kembali pada 2026, meski Ketua The Fed Jerome Powell mengingatkan bahwa pasar tenaga kerja sedang di bawah tekanan dan penciptaan lapangan kerja sebenarnya bisa berdampak negatif.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan ekonom. “Saya merasa khawatir karena kita memulai tahun ini dengan lebih lemah dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Elise Gould dari Economic Policy Institute, seraya menekankan bahwa bahkan resesi ringan dapat berdampak besar pada kelompok rentan.
Dampak perlambatan pasar kerja juga terasa pada generasi muda. Survei National Association of Colleges and Employers menunjukkan lebih dari separuh perusahaan menilai prospek kerja lulusan 2026 hanya buruk hingga sedang, dengan rencana perekrutan yang relatif stagnan.
“Artinya, jumlah siswa tahun ini hampir sama dengan tahun lalu,” ujar Mary Gatta dari NACE.
Meski sentimen pasar tenaga kerja cenderung negatif, sebagian akademisi menilai situasi ini belum tentu mengarah pada resesi.
Aysegul Sahin dari Princeton University menyebut perlambatan bisa mencerminkan fase ekspansi matang dengan pertumbuhan populasi yang lebih lambat. “Saya berada di bagian kedua, karena saya percaya apa yang telah kita lihat adalah efek tertunda dari pendaratan lunak yang dilakukan The Fed hampir sempurna.” (DH)




