Latar News - Negara-negara anggota NATO di Eropa berupaya meningkatkan keamanan dengan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat, yang secara bertahap menarik pasukannya dari kawasan tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, pengeluaran pertahanan diperkirakan meningkat sebesar $634 miliar pada tahun 2026, dan akan dilakukan perluasan produksi senjata serta penyederhanaan program pengadaan.
Dalam KTT Ankara, Eropa mendorong NATO untuk mengadopsi dua inisiatif penting. Pertama, inisiatif "NATO Engine" yang menghubungkan produsen dan pabrik untuk mempercepat produksi senjata, memanfaatkan fasilitas yang ada tanpa harus membangun yang baru. Kedua, inisiatif "Pintu Depan NATO untuk Industri," adalah platform digital yang memungkinkan produsen senjata mengakses katalog pengadaan dan program inovasi secara langsung.
NATO memasuki fase pertama revolusi industri pertahanannya, dengan fokus pada kemampuan serangan jarak jauh, modernisasi pertahanan udara, dan sistem otonom. Eropa berencana untuk memprioritaskan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada pengadaan pertahanan dari luar kawasan, terutama dari AS, Israel, dan Korea Selatan, hingga sekitar setengahnya. Sebelum KTT Ankara, Eropa mengumumkan perjanjian produksi dan pengadaan pertahanan senilai sekitar $50 miliar yang mencakup berbagai sistem pertahanan, termasuk sistem peringatan dini dan kapal selam.
Pada konferensi tersebut, Inggris juga bergabung dengan 12 sekutu Eropa lainnya dalam meluncurkan inisiatif "Deep Precision Strike" untuk mengembangkan kemampuan serangan target akurat hingga 2.000 km. Selain itu, proyek pengembangan amunisi artileri 155mm standar NATO juga melibatkan beberapa negara Eropa dan Kanada. NATO juga mengumumkan inisiatif "UAV Shield" dengan investasi sekitar $40 miliar untuk mengatasi ancaman kendaraan udara tak berawak (UAV). Selain itu, negara-negara Eropa berencana untuk menciptakan armada bersama pesawat Airbus A400M untuk meningkatkan kapasitas logistik di kawasan tersebut.