Bitcoin Alami Penurunan 23% di Awal 2026, Apa Selanjutnya?
Bloomberg Technoz, Jakarta - Bitcoin mencatatkan pelemahan terburuk dalam 50 hari dalam skala tahunan. Berdasarkan data Checkonchain, BTC mengalami penurunan 23% sepanjang tahun (year-to-date /ytd), dengan rincian -10% terjadi pada bulan lalu dan sementara -15% di Februari ini.
Kinerja dua bulan pertama, dimana masing-masing menunjukkan hasil negatif, adalah alarm karena belum pernah terjadi sebelumnya, melansir CoinGlass, dilaporkan CoinDesk, Jumat (20/2/2026).
Situasi Januari yang melemah terjadi pada periode 2015, 2016, juga 2018, namun satu bulan berselang kinerja kembali positif. Masih ditunggu pergerakan lanjutan, namun jika pelemahan masih terus hadir maka koin paling berharga di dunia ini siap menempati lajur kinerja bulanan berturut-turut terlemah sejak 2022.
Pelemahan ini mendorong pesimisme bahwa situasi ini akan berlangsung lebih lama, pasalnya parameter average index reading Bitcoin saat ini berada pada kisaran 0,77. Indeks ini, seperti direkam oleh Checkonchain, jadi pedoman yang dipakai trader mengukur penurunan siklikal selama 50 hari. Sementara itu average index reading selama periode terburuknya secara rata-rata menempati 0,84.
Dalam pergerakan hingga Jumat siang pukul 14.00 waktu Indonesia, Bitcoin sejatinya menguat 1% namun tetap di area US$67.831. Rentang perdagangan masih tergolong sempit. Selama satu bulan BTC masih mencatat -24,6%.
Baca Juga
Indonesia Jadi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Gaza
Pasar Masih Alami Extreme Fear, Waktunya Jual atau Beli Bitcoin?
Apakah Bitcoin sebagai 'Emas Digital' Masih Relevan di 2026?
Next article →




