Eropa Bersatu Menentang Ambisi Trump atas Greenland
Sumber Foto: IDNFinancials
Internasional

Eropa Bersatu Menentang Ambisi Trump atas Greenland

JAKARTA – Hubungan transatlantik berada di titik nadir setelah para pemimpin Eropa secara kolektif mengutuk upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland sebagai bentuk kolonialisme baru.

Krisis yang mengguncang fondasi NATO ini memanas di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, setelah Trump menegaskan kepada Sekjen NATO Mark Rutte bahwa penguasaan wilayah Arktik tersebut mutlak untuk keamanan nasional dan dunia dan tidak ada jalan kembali.

Sebagai bentuk provokasi visual, Trump bahkan mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan dirinya menancapkan bendera AS di Greenland dengan tulisan "Wilayah AS est. 2026".

Dikutip dari The Guardian (20/1/2026), Presiden Prancis Emmanuel Macron memimpin perlawanan keras blok Eropa. Ia menolak tunduk pada ancaman Trump yang hendak menjatuhkan tarif 10% pada impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia jika mereka menentang aneksasi tersebut.

Trump secara spesifik juga mengancam akan mengenakan bea masuk 200% pada anggur Prancis jika Macron menolak undangan bergabung ke "Dewan Perdamaian" buatannya.

"Saya lebih memilih rasa hormat daripada penindas, dan supremasi hukum daripada kebrutalan," kata Macron dalam pidatonya, seraya menyebut langkah Trump sebagai "imperialisme baru".

Uni Eropa kini menyiapkan langkah pembalasan serius, termasuk paket tarif pada impor AS senilai €93 miliar (£80 miliar) dan penggunaan instrumen anti-koersi (ACI) yang belum pernah dipakai sebelumnya.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut ancaman Trump sebagai pengkhianatan atas kesepakatan dagang yang baru disepakati Juli lalu. "Ketika teman berjabat tangan, itu harusnya berarti sesuatu," ujarnya.

Ketegangan ini diperparah oleh peringatan Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever, yang menyebut 80 tahun aliansi Atlantik mungkin akan berakhir karena sebuah negara NATO mengancam negara NATO lainnya dengan invasi militer.

Di tengah kekacauan ini, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyerukan realisme baru bagi kekuatan menengah dunia. "Kita tahu tatanan lama tidak akan kembali. Kita tidak boleh meratapinya. Nostalgia bukanlah strategi," kata Carney, menyebut era ini sebagai akhir dari fiksi yang menyenangkan dan fajar realitas geopolitik yang keras.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mencoba meredam situasi dengan menyebut reaksi Eropa sebagai "histeria" yang tidak perlu. "Duduk santai, tenanglah. Saya yakin para pemimpin tidak akan melakukan eskalasi," kata Bessent.

Namun di lapangan, situasi militer makin tegang, penyiar Denmark TV2 melaporkan pendaratan 58 tentara tambahan Denmark di Greenland pada hari Selasa untuk memperkuat pertahanan kedaulatan wilayah tersebut. (SF)