Mahasiswi ITB Menangi INKOMPASS Innovation Challenge dan Raih Peluang Karier Global
INKOMPASS Innovation Challenge merupakan kompetisi marketing yang diselenggarakan oleh Sampoerna bersama Philip Morris International (PMI). Ajang ini dikenal sebagai salah satu program pengembangan talenta dengan eksposur global yang kuat, sekaligus membuka peluang jalur percepatan karier bagi para pemenang.
Tercatat hampir 3.000 proposal masuk dari seluruh Indonesia sebelum diseleksi menjadi 50 peserta terbaik yang berhak mengikuti bootcamp intensif di Jakarta. Pada tahap inilah Eleanor berkolaborasi dengan mahasiswa dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya untuk merancang solusi pemasaran yang komprehensif.
“Aku baru tahu kalau Sampoerna sekarang menjadi bagian dari Philip Morris International, yang program talent development-nya terkenal kuat. Setelah melihat pemenang tahun-tahun sebelumnya, aku makin yakin ikut karena exposure global dan peluang kariernya besar,” ujar Eleanor.
Mengangkat Toko SRC Lewat Strategi Customer-Centric
Eleanor dan tim mengusung kampanye bertajuk #TetanggaANDALAN, sebuah solusi pemasaran end-to-end yang menghubungkan fase awareness, consideration, hingga conversion. Kampanye ini memposisikan SRC sebagai “Si Merah yang selalu ada buat tetangganya” — toko yang dekat secara geografis sekaligus emosional.
Strategi yang dirancang mencakup pendekatan digital, aktivasi komunitas, hingga optimalisasi pengalaman belanja di tingkat toko. Inspirasi kampanye lahir dari riset lapangan dan wawancara langsung dengan pemilik toko serta konsumen.
“Kami mendengar banyak insight seperti brand SRC yang sering tidak disadari, pengalaman belanja yang tidak konsisten, hingga warga yang jarang masuk toko. Dari sisi konsumen, mereka butuh toko yang cepat, dekat, dan bisa diandalkan,” tuturnya.
Menurut Eleanor, kekuatan kampanye ini terletak pada pendekatan yang realistis dan berorientasi solusi.
“Nggak ada ide yang gimmick. Semuanya grounded dan memberikan value nyata ke konsumen,” jelasnya.
Belajar di Luar Kelas
Bagi Eleanor, kompetisi ini menjadi ruang belajar yang berbeda dari perkuliahan. Dalam waktu singkat, ia dan tim harus menyatukan perspektif, menyusun strategi, melakukan validasi ide, hingga mempresentasikan solusi di hadapan jajaran eksekutif tingkat nasional dan regional.
“Capek, tapi fun dan meaningful,” katanya.
Pengalaman pitching di depan para petinggi industri menjadi momen yang tak terlupakan.
“Kami present di depan Director of SRC, Head of PMI Marketing, dan beberapa eksekutif tingkat Asia Tenggara. Deg-degan banget, tapi juga sangat empowering,” ungkapnya.
Dalam tim, Eleanor berfokus pada struktur dan narrative building, sementara anggota lainnya menangani desain visual dan aspek finansial. Kolaborasi lintas kampus tersebut menunjukkan bahwa kerja tim yang solid dan berbasis kompetensi dapat menghasilkan solusi yang feasible sekaligus scalable.
Prestasi ini sekaligus menegaskan bahwa mahasiswa ITB tidak hanya unggul dalam aspek teknis, tetapi juga mampu menjembatani teknologi, strategi bisnis, dan kreativitas untuk menjawab kebutuhan industri.
Dari ruang kelas hingga ruang presentasi industri, pengalaman Eleanor menjadi contoh bahwa keberanian mencoba, kemampuan berkolaborasi, dan kemauan untuk belajar di luar zona nyaman dapat membuka peluang karier yang lebih luas—bahkan hingga tingkat global.




