Metode Tahfidz As’adiyah Dikenal Nasional sebagai Penghasil Hafidz Berkualitas
Latar News - MAKASSAR — Metode tahfidz Al-Qur’an yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat perhatian publik nasional. Dalam sebuah program televisi nasional yang baru-baru ini tayang, pendekatan khas As’adiyah disebut sebagai salah satu metode tahfidz yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, serta kesinambungan sanad keilmuan.
Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu pada empat pilar utama, yakni keheningan, ketekunan, pengulangan, dan kesabaran. Keempat unsur tersebut bukan sekadar konsep pedagogis, melainkan praktik pendidikan Al-Qur’an yang diwariskan secara turun-temurun sejak era Al-Alimu Al-Allamah Muhammad As’ad al-Bugisi, hingga dilanjutkan oleh Anre Gurutta generasi berikutnya, termasuk Anre Gurutta Yahya.
Anre Gurutta Yahya dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan metode khas As’adiyah yang populer dengan istilah maddarasa patappulo. Dalam tradisi Bugis dan lingkungan As’adiyah, istilah ini dimaknai sebagai pengulangan hafalan secara intensif hingga puluhan kali untuk memastikan ayat-ayat Al-Qur’an benar-benar melekat kuat.
Salah satu alumni As’adiyah yang turut memberikan penjelasan dalam program tersebut adalah Martomo Malaing, SQ., M.A., yang kini mengabdi sebagai imam di Masjid Istiqlal. Ia menegaskan bahwa metode tahfidz As’adiyah bukan hanya teknik menghafal, tetapi juga proses pembentukan karakter spiritual santri.
“Metode Tahfidz As’adiyah itu dimulai dari keheningan. Santri diajarkan mencari suasana yang sunyi agar ayat-ayat Al-Qur’an benar-benar meresap ke dalam hati. Dari situ lahir ketekunan, karena menghafal bukan pekerjaan sehari dua hari,” ujarnya dalam tayangan tersebut.
Menurutnya, pengulangan menjadi kunci utama dalam sistem ini. Konsep maddarasa patappulo mengajarkan santri untuk mengulang hafalan hingga empat puluh kali atau lebih. “Bukan sekadar hafal di lisan, tetapi tertanam dalam ingatan dan jiwa. Dan semua itu membutuhkan kesabaran yang luar biasa,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa metode ini diajarkan secara konsisten oleh Anre Gurutta Yahya sebagai penjaga tradisi keilmuan As’adiyah, kemudian dilanjutkan oleh para Anre Gurutta dan penerusnya. Rantai transmisi tersebut memastikan tidak hanya ketepatan bacaan, tetapi juga terjaganya adab dan ruh pendidikan Al-Qur’an.
Memuat artikel terkait…
Program televisi nasional itu turut menyoroti relevansi pendekatan tradisional Tahfidz As’adiyah di tengah era digital yang serba cepat. Saat banyak metode instan bermunculan, sistem As’adiyah justru menawarkan kedalaman proses dan ketahanan hafalan jangka panjang.
Dengan pengakuan di tingkat nasional, Metode Tahfidz As’adiyah kini tidak hanya menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan, tetapi juga mulai dilirik sebagai rujukan oleh berbagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang ingin membangun sistem tahfidz berbasis tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan. (Cr/Ag4ys)
Citizen reporter: Muh. Atas Prabowo
140
Tag: As’adiyah Martomo Malaing Topik: Metode tahfidz Al-Qur’an
Editor: Ambang Ardi Yunisworo
Ketua TP PKK Makassar Paparkan Praktik Baik Pembangunan Keluarga di Forum Nasional BKKBN
TERKAIT
Makassar
Rakernas Ikakas, Prof KH Nasaruddin: Tantangan saat ini, banyak paham Islam garis keras




