NATO Sepakati Target Belanja Pertahanan 5 Persen PDB, Penerapannya Diperdebatkan
Trump senang NATO mau menaikkan iuran walau penerapannya multitafsir. Ukraina senang masih dibantu.
Oleh Laraswati Ariadne Anwar
26 Jun 2025 16:55 WIB · Internasional
DEN HAAG, KAMIS — Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO setuju menaikkan belanja pertahanan menjadi 5 persen produk domestik bruto negara-negara anggotanya. Akan tetapi, pelaksanaan keputusan itu ternyata multitafsir. Di sisi lain, NATO tetap menyatakan komitmen mendukung Ukraina.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO berakhir pada Rabu (25/6/2025) malam di Den Haag, Belanda. KTT dipimpin oleh Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Ia mengumumkan bahwa 32 anggota, kecuali Spanyol, setuju menaikkan belanja pertahanan menjadi 5 persen PDB masing-masing per tahun.
”Sudah terlalu lama kita bergantung kepada Amerika Serikat. Ini saatnya kita meningkatkan kemampuan bela diri,” katanya.
Menurut Rutte, kenaikan 5 persen itu dilakukan mulai tahun 2035. Peruntukannya ialah 3,5 persen untuk sistem pertahanan inti, termasuk senjata. Sisa 1,5 persen dipakai untuk membangun dan menjaga berbagai sarana dan prasarana publik ataupun militer yang menunjang resiliensi.
Baca Juga NATO Minta Anggotanya Dongkrak Anggaran Pertahanan
Selama ini, target belanja pertahanan NATO adalah 2 persen dari PDB tiap-tiap anggota. Akan tetapi, tidak semua negara memenuhinya. Secara umum, kisaran iuran NATO dari para anggota adalah 1 persen hingga 1,5 persen dari PDB masing-masing.
Tergantung AS
Ini membuat kinerja NATO sangat tergantung kepada AS. Sebagai gambaran, pada 2024, AS membelanjakan sekitar 3,4 persen dari PDB untuk pertahanan. Pada 2024, PDB ”Negara Paman Sam” adalah 29 triliun dollar AS.
Presiden AS Donald Trump sejak masa jabatan pertamanya, 2017-2021, kesal dengan kenyataan itu. Ia mengatakan, AS hanya menalangi anggota lain di NATO. Bahkan, ia menuduh para anggota NATO memperalat AS.
Oleh sebab itu, pengumuman NATO kali ini menyenangkan hati Trump. Apalagi, Rutte juga menyebut bahwa Trump adalah daddy atau patron dari para anggota NATO. Pujian ini dibalas dengan ucapan terima kasih Trump.
Baca Juga Paus Leo XIV Telepon Putin Soal Perang Ukraina
”Para anggota NATO itu sekumpulan orang baik. Mereka berterima kasih karena tanpa AS semuanya berbeda,” ujar Trump di jumpa pers pasca-KTT.
Ia juga mengungkapkan bahwa awalnya ia pesimistis ketika datang ke KTT NATO. Padahal, Trump di sana kurang dari 24 jam.
”Saya awalnya datang cuma karena kewajiban politik. Eh, ternyata ada kejutan menyenangkan,” ujarnya.
Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam jumpa pers tersendiri mengoreksi omongan Rutte. ”Perancis tidak pernah tergantung negara mana pun. Postur pertahanan kami solid, termasuk di nuklir,” ujarnya.
Penolakan Spanyol
Dari 32 anggota NATO, Spanyol menolak menaikkan belanja pertahanan menjadi 5 persen. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan, negaranya berkomitmen memenuhi target belanja pertahanan 2 persen sesuai aturan sebelumnya.
Sanchez menuturkan, Spanyol tidak melihat pentingnya mendongkrak belanja itu. Melalui belanja pertahanan 2 persen dari PDB saja, Spanyol bisa menjaga kinerja mereka di NATO tetap efektif dan bermutu.
”Menaikkan anggaran ke 5 persen berarti Pemerintah Spanyol harus menaikkan pajak rakyat. Anggaran untuk kesehatan, pendidikan, dan pensiun juga harus dipotong. Ini tidak masuk akal bagi rakyat kami,” kata Sanchez, dikutip harian Spanyol, El Mundo.
Baca Juga Belanja Militer Global Meningkat, Tertinggi sejak Perang Dingin
Setelah deklarasi NATO diumumkan, ternyata para anggotanya memiliki multitafsir mengenai target belanja pertahanan yang dinaikkan hingga 5 persen dari PDB itu. Hal itu dikemukakan melalui media sosial oleh Perdana Menteri (PM) Slovakia Robert Fico, PM Belgia Bart De Wever, dan PM Luksemburg Luc Frieden.
”Selama ini, aturan iuran tidak mengikat. Kita akan menyumbang semampunya,” cuit De Wever di X.
”Pokoknya, yang penting setiap anggota berusaha semaksimal mungkin,” cuit Frieden.
Baca Juga Ramai-ramai Menyesali F-35
Multitafsir ini sudah diduga oleh para pengamat NATO. Pendapat mereka tertuang di artikel media Breaking Defense edisi 27 Mei 2025. Kristi Raik dari Pusat Pertahanan dan Keamanan Nasional Estonia menjelaskan, tidak semua anggota NATO menganggap negara mereka terancam sehingga anggaran belanja pertahanan bukan agenda prioritas.
Raik mengatakan, ancaman Perang Ukraina ataupun risiko invasi Rusia tidak dirasakan oleh sebagian anggota. Letak negara mereka terlalu jauh dari pusat konflik sehingga postur pertahanan sekarang sudah dianggap cukup.
Ukraina
Walaupun hadir sebentar di KTT NATO, Trump sempat berjumpa dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Mereka terakhir berbicara di Vatikan, seusai upacara pemakaman Paus Fransiskus pada 26 April 2025.
Isi dari pembicaraan itu belum dipublikasikan secara terperinci. Akan tetapi, mengenai kelanjutan dukungan AS terhadap Ukraina selama berperang melawan Rusia. Di KTT, negara-negara anggota NATO, terutama Inggris dan Italia, mengumumkan terus mendukung Ukraina.
Baca Juga Ukraina, Jaminan Keamanan, dan Kesiapan Eropa
Trump sempat menarik dukungan di awal karena menganggap Ukraina menghabiskan anggaran dan persenjataan AS. Akan tetapi, Trump berubah sikap karena Presiden Rusia Vladimir Putin yang ia gadang-gadang dekat dengannya ternyata susah diajak bicara.
”Berurusan dengan Vladimir lebih merepotkan dibandingkan dengan Ukraina untuk urusan gencatan senjata,” kata Trump.
Pembicaraan Trump dan Zelenskyy itu salah satunya membahas kemungkinan AS memberi lebih banyak sistem pertahanan udara Patriot kepada Ukraina. Akan tetapi, Trump belum bisa berjanji karena biayanya amat mahal. Setiap kali rudal Patriot ditembakkan, harganya setara dengan 14 juta dollar AS.
Zelenskyy melalui X mencuit, ia juga membicarakan kemungkinan kerja sama Ukraina-AS mengembangkan pesawat nirawak. Ia juga memberi Trump informasi mutakhir mengenai pertempuran dengan Rusia.
”Kita menjajaki segala jalur kerja sama untuk saling menguatkan,” ujar Zelenskyy. (AP/AFP)
NATO Pakta pertahanan atlantik utara Mark Rutte donald trump ukraina rusia Volodymyr Zelenskyy
Kerabat Kerja
Penulis:
Laraswati Ariadne Anwar
|
Editor:
Nur Hidayati
|
Penyelaras Bahasa:
FX Sukoto




