Latar News - Usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda memicu polemik, dengan penolakan yang datang dari berbagai kalangan, terutama di wilayah Indramayu – Cirebon.
Usulan ini diajukan oleh sekelompok orang, yang menurut mereka, mencerminkan identitas budaya daerah. Namun, pendapat tersebut segera mendapat reaksi negatif dari sejumlah tokoh masyarakat.
Founder Yayasan Indramayu Historia Foundation, Nang Sadewo, menjadi salah satu yang menyuarakan penolakan. Ia menilai bahwa usulan tersebut tidak merefleksikan realitas historis dan kondisi modern Jawa Barat. Dewo menegaskan bahwa klaim yang menyebutkan Jawa Barat didominasi oleh 75 persen Suku Sunda mengabaikan fakta dinamika penduduk di 27 kabupaten/kota.
Dewo menegaskan sikapnya dengan menyatakan bahwa penolakan ini merupakan respon terhadap usulan yang dianggap hanya berasal dari sekelompok primordial. Ia menyatakan bahwa nilai-nilai sejarah seharusnya tidak terjebak dalam ego kelompok dan harus dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman, mengingat Jawa Barat kini telah bertransformasi menjadi rumah bagi berbagai etnis.