Latar News - Peningkatan investasi Amerika Serikat di sektor pertahanan Uni Eropa (UE) berpotensi meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara NATO dan Rusia, menurut sebuah artikel yang diterbitkan di majalah The American Conservative (TAC).
Artikel tersebut menyoroti bahwa peningkatan pengeluaran militer oleh negara-negara Eropa dapat memicu tindakan lebih agresif dari pasukan yang memiliki sikap garis keras terhadap Rusia. Sebagian besar pendanaan tambahan ini diperkirakan akan dialokasikan untuk memberikan bantuan senjata kepada Ukraina, yang dapat meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut.
Dalam konteks ini, artikel mencatat pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengaitkan pemenuhan komitmen aliansi dengan tingkat pengeluaran militer yang dilakukan oleh negara-negara Eropa. Menurut para ahli yang diacu oleh TAC, pendekatan ini memberi sekutu AS lebih banyak pengaruh dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri AS. Sementara itu, Pentagon sedang menilai penempatan pasukannya di wilayah tersebut. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth diminta untuk membatalkan rencana penarikan sekitar sepertiga pasukan dan meluncurkan tinjauan enam bulan terhadap kemampuan militer AS.
Tinjauan tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa NATO melakukan transisi yang cepat dan tidak dapat diubah menuju model di mana Eropa memimpin dalam masalah keamanan dan memikul tanggung jawab utama untuk pertahanan benua. Selain itu, Gedung Putih berupaya mengalihkan sebagian besar beban pertahanan kepada Uni Eropa. Sebelumnya, pada 4 Juni, Politico melaporkan bahwa Pentagon mungkin akan membatalkan rencana untuk memasok rudal Tomahawk ke Jerman karena kekhawatiran bahwa Rusia akan menganggap langkah ini sebagai peningkatan ketegangan dan mengambil tindakan balasan.