Puasa Sebagai Landasan Etika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi
Sumber Foto: Kompasiana.com
Teknologi

Puasa Sebagai Landasan Etika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi

Oleh: A. Rusdiana

Memasuki tahun 2026 dan semester genap pembelajaran, refleksi tentang puasa terasa semakin personal. Setahun perjalanan di dunia literasi digital sejak 22 Januari 2025 hingga 22 Januari 2026 telah mengajarkan bahwa capaian intelektual tidak boleh berhenti pada aspek teknis. Dari fase penjelajah menuju kedalaman komitmen yang lebih fanatik dalam makna positif, ada kesadaran baru: ilmu dan teknologi membutuhkan orientasi ruhani. Puasa menjadi energi untuk menjaga konsistensi itu.

Pelajaran kedua dari meluruskan orientasi puasa adalah kemampuannya menata arah ilmu dan teknologi. Kita hidup di era kecerdasan buatan yang mampu menulis, menghitung, memetakan kebijakan, bahkan memprediksi masa depan pendidikan. Namun teknologi yang tidak dipandu nilai akan melahirkan sistem yang efisien tetapi kering empati. Di sinilah integrasi AI dan empati menemukan relevansinya. AI menghadirkan kecepatan dan ketepatan, sedangkan empati menghadirkan makna dan keberpihakan.

Puasa melatih keduanya. Ia menjernihkan akal sekaligus melembutkan hati. Ketika lapar dan dahaga dijalani karena iman, manusia belajar mengendalikan diri. Pengendalian diri inilah fondasi etika dalam penggunaan teknologi. Tanpa kendali spiritual, teknologi mudah tergelincir menjadi alat eksploitasi, komersialisasi berlebihan, bahkan dehumanisasi pendidikan.

Fenomena pendidikan kita menjadi pengingat kuat. Kisah tragis seorang anak di NTT yang kehilangan harapan hidup karena beban biaya sekolah menunjukkan bahwa kemajuan sistem belum sepenuhnya menyentuh keadilan. Di tengah perkembangan teknologi pendidikan, masih ada anak bangsa yang terpinggirkan oleh persoalan biaya dasar.

Dalam perspektif ekonomi publik, pendidikan adalah public good. Ia harus dijamin negara karena manfaatnya melampaui individu. Karena itu langkah Presiden Prabowo Subianto yang mengundang 1.200 rektor dan guru besar ke Istana pada 15 Januari 2026 untuk membahas efisiensi biaya kuliah dan peningkatan dana riset menjadi Rp12 triliun merupakan upaya strategis. Namun kebijakan yang adil tidak cukup disusun oleh kecerdasan sistem; ia membutuhkan orientasi moral.

Puasa menata orientasi itu. Sebagaimana Al-Qur'an menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, maka ilmu dan teknologi pun harus bermuara pada pengabdian. Dalam hadis disebutkan bahwa amal tergantung niat. Artinya, arah pengembangan teknologi sangat ditentukan oleh orientasi batin manusia yang menggunakannya. Pantun Ramadan ini seperti menjadi peneguh arah:

Pelita hati kian menyala,

Dzikir mengalun sepanjang malam,

Orientasi lurus karena-Nya,

Ramadan menjadi jalan keselamatan.

Ilmu tanpa orientasi ilahiah hanya melahirkan kecanggihan tanpa keselamatan. Sebaliknya, ketika orientasi diluruskan karena Allah, maka teknologi menjadi jalan kemaslahatan.

Dalam perspektif Psikologi Langit, puasa adalah proses menyatukan wahyu dan ilmu. Aktivitas akademik, riset, hingga pengembangan AI tidak lagi sekadar proyek intelektual, tetapi bagian dari ibadah. Dari sinilah lahir generasi yang "cerdas spiritual dan tangguh digital". Ada tiga pembelajaran yang dapat kita petik: