Latar News - Tata kelola pariwisata Indonesia menghadapi tantangan signifikan akibat birokrasi rumit dan masalah infrastruktur, yang menghalangi potensi besar destinasi wisata di tanah air. Hal ini menjadi fokus dalam diskusi bersama Duta Besar Indonesia untuk Yunani, Dr. Bebeb Abdul Kurnia Nugraha Djundjunan.
Diskusi berlangsung di Aula PRMN, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. Dr. Bebeb menjelaskan bahwa Indonesia memiliki beragam destinasi wisata seperti Borobudur, Prambanan, dan Bali, namun sering terhambat oleh birokrasi yang kompleks.
Dr. Bebeb mengamati bahwa Yunani mengelola pariwisata melalui badan khusus semi-independen, yang memisahkan fungsi pembuat kebijakan dan pelaksana operasional. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi industri pariwisata, termasuk penerapan sistem tiket terintegrasi untuk situs sejarah dan transportasi publik. Sektor pariwisata Yunani berkontribusi antara 20% hingga 25% terhadap PDB negara tersebut, didukung oleh infrastruktur yang matang, seperti Pelabuhan Piraeus sebagai pintu masuk utama wisatawan.
Yunani juga menghadapi tantangan lonjakan turis berlebih dengan beralih ke konsep ekowisata berbasis komunitas lokal. Indonesia didorong untuk memformalkan kekayaan budaya dan alamnya sebagai hak kekayaan intelektual, dengan penguatan narasi positif serta kolaborasi antar-pemangku kepentingan sebagai kunci untuk meningkatkan pengelolaan pariwisata nasional.