Televisi Hadapi Tantangan Digital: Perubahan Pola Konsumsi dan Konten
Sumber Foto: RRI.co.id
Hiburan

Televisi Hadapi Tantangan Digital: Perubahan Pola Konsumsi dan Konten

KBRN, Bone: Peringatan Hari Televisi Sedunia pada 21 November menjadi momen refleksi terhadap kondisi pertelevisian Indonesia di tengah arus digitalisasi. Akademisi IAIN Bone, Nahdatunnisa Asry, S.Sos., M.Si., dosen Komunikasi Penyiaran Islam, menilai bahwa kebiasaan menonton televisi masyarakat kini telah berubah secara signifikan. “Jujur saya sampai tidak ingat kapan terakhir nonton TV, saking jarangnya,” ujarnya kepada rri.co.id Jumat (21/11/2025).

Menurutnya, fenomena ini juga tampak jelas pada mahasiswa, khususnya generasi Z, yang jauh lebih memilih mengakses siaran televisi melalui kanal resmi di YouTube. “Kalau saya beri tugas pengamatan siaran TV, mereka pilih ke channel official TV di YouTube,” kata Nahda. Ia menilai cara ini merupakan bentuk baru dalam mengonsumsi tayangan televisi yang menyesuaikan pola hidup masyarakat yang lebih banyak berada di internet.

Menghadapi perubahan itu, ia menegaskan bahwa televisi tidak bisa lagi bertahan dengan pola siaran konvensional. “Televisi harus melek media sosial sebagai sumber informasi yang paling banyak diakses saat ini,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya setiap stasiun televisi memiliki channel YouTube dan akun media sosial sebagai pintu alternatif penyampaian informasi kepada publik.

Nahda juga mencermati bergesernya sumber ketenaran figur publik. Jika dahulu seseorang dianggap terkenal setelah sering tampil di televisi, kini banyak figur muncul terlebih dahulu melalui viralitas konten di media sosial. “Artinya, TV sekarang memang membutuhkan konten dari sosial media karena konten dari sana bisa jadi program siaran di TV,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa televisi tetap harus mematuhi regulasi penyiaran. Masih ada pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang menuntut KPI bekerja ekstra dalam pengawasan. “Banyak hal di sosial media yang tidak bisa serta-merta ditayangkan di TV karena ada regulasinya. Jadi, saya berharap TV bisa lebih selektif dalam memilih konten,” tutupnya.