Turki Memperkuat Posisi di NATO
Internasional

Turki Memperkuat Posisi di NATO

Latar News - Menjelang KTT NATO, Turki semakin memperkuat posisinya dalam aliansi tersebut, didukung oleh pujian dari pemimpin Eropa atas industri manufaktur senjata yang kuat. Hal ini terjadi di tengah rencana persenjataan kembali menyusul ancaman dari AS untuk menarik sumber daya.

Awal Kejadian

Kekhawatiran terkait penegakan hukum di Turki mulai mereda, dengan beberapa negara Eropa berharap Ankara dapat berkontribusi dalam menekan imigrasi ilegal. Asli Aydintasbas, peneliti di Brookings Institute, mengungkapkan bahwa Eropa tidak ingin menciptakan ketegangan dengan Turki dan percaya bahwa kedua pihak akan membentuk kembali hubungan dengan syarat yang berbeda.

Perkembangan

Pujian dan dukungan dari Presiden AS, Donald Trump, terhadap Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, semakin memperkokoh posisi Ankara di NATO. Dalam konteks ini, Trump juga mengisyaratkan adanya kemungkinan terobosan dalam perselisihan mengenai jet tempur F-35. Sebelumnya, AS menghentikan partisipasi Turki dalam program tersebut dan menjatuhkan sanksi pada industri pertahanan Turki akibat pembelian senjata dari Rusia. Trump menyatakan bahwa Gedung Putih akan segera memberikan jawaban yang dapat memuaskan Erdogan terkait penjualan mesin jet F110 ke Turki.

Kondisi Terakhir

Seiring dengan meningkatnya peran militer Turki dalam NATO, hubungan Ankara dengan Uni Eropa (UE) tampak semakin rumit. Meskipun terdapat perbaikan hubungan dengan negara-negara Eropa seperti Jerman dan Belgia, upaya Turki untuk bergabung dengan UE terhambat. Dalam langkah yang menuai kontroversi, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memasukkan Turki bersama Rusia dan Tiongkok sebagai salah satu 'rival' yang harus dihadapi. Meskipun pernyataan ini kemudian ditarik kembali, hal ini mencerminkan situasi kompleks di dalam UE, di mana Turki sulit didefinisikan sebagai mitra, pesaing, atau musuh.

You can share this post!