Ulasan Film “Passing”: Drama Identitas Ras dalam Balutan Hitam-Putih Era 1920-an
Sumber Foto: cultura.id
Latar Isu

Ulasan Film “Passing”: Drama Identitas Ras dalam Balutan Hitam-Putih Era 1920-an

Film Passing mengangkat isu ras dari sudut yang lebih personal dan tenang, berbeda dari banyak film Hollywood bertema rasisme yang kerap menonjolkan konflik “orang hitam vs orang putih” serta menampilkan kekerasan dan ketidakadilan secara gamblang. Berlatar 1920-an, kisahnya mengikuti pertemuan Irene Redfield (Tessa Thompson) dengan sahabat lamanya, Claire (Ruth Negga), di sebuah hotel pada musim panas—pertemuan yang kemudian membuka lapisan-lapisan persoalan identitas dan posisi sosial.

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Nella Larsen, sutradara Rebecca Hall menghadirkan Passing sebagai film bernuansa arthouse dengan visual hitam-putih yang jazzy dan dramatis. Ritme ceritanya cenderung slow pace, menempatkan percakapan, gestur, dan ekspresi sebagai penggerak utama ketegangan.

Duet Tessa Thompson dan Ruth Negga Mendominasi Cerita

Penampilan Tessa Thompson menjadi sorotan karena menunjukkan sisi yang berbeda dari peran-peran aksinya selama ini. Dalam Passing, ia tampil sebagai istri dan ibu dari dua anak yang anggun, berkelas, dan hidup di lingkungan Harlem, New York. Ekspresi wajah, gestur, hingga aksen bicaranya membangun karakter Irene sebagai perempuan kalangan atas yang menyimpan dinamika batin kompleks.

Sementara itu, Ruth Negga menambah daftar penampilan pentingnya setelah Loving (2016). Jika sebelumnya ia memerankan perempuan kulit hitam dari kalangan bawah, kali ini Negga tampil sebagai Claire—perempuan yang berhasil menaiki tangga sosial dan menjadi pusat perhatian di berbagai pesta yang ia datangi bersama Irene.

Film ini menggunakan rasio layar 4:3 dan hitam-putih untuk memusatkan perhatian pada interaksi dua tokoh utama. Meski Irene memiliki porsi kemunculan yang lebih banyak, fokus cerita tetap bertumpu pada relasi Irene dan Claire dari awal hingga akhir.

Isu Ras dalam Drama Kehidupan “Biasa”

Sebagai film arthouse, Passing menuntut penonton lebih jeli membaca elemen visual, ekspresi yang tidak selalu dijelaskan lewat dialog, serta percakapan yang menjadi kunci. Film ini tidak menempatkan isu ras dalam skala besar, melainkan mengajak penonton menyelami sisi yang lebih intim dan tidak terduga.

Istilah “passing” dalam judul merujuk pada “lolos”—lebih spesifik, bagaimana seseorang kulit hitam bisa “lolos” di masyarakat sebagai orang kulit putih. Dalam cerita, Claire adalah perempuan berdarah campuran yang mampu membaur sebagai “wanita kulit putih”, menikahi pria kulit putih, dan memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera, meski harus membohongi dirinya sendiri.

Dari premis itu, film mengembangkan ketegangan psikologis yang bergerak melalui kecemburuan Irene pada Claire, pesona Claire sebagai perempuan campuran, serta kerinduan Claire terhadap sesuatu yang dimiliki Irene. Hasilnya adalah drama 1920-an yang melankolis dan tragis tanpa perlu menampilkan kebrutalan secara eksplisit.

Harlem Renaissance yang Terasa Kurang dan Sejumlah Asumsi yang Tak Terjawab

Passing dinilai berhasil mempresentasikan visual New York era 1920-an lewat riasan, busana, serta desain interior dan eksterior di berbagai adegan. Film juga membawa penonton ke lingkar sosial kulit hitam yang lebih berkelas, menekankan bahwa ada ruang bagi mereka untuk menaiki tangga sosial—dengan Harlem sebagai latarnya.

Namun, deskripsi mengenai Harlem sebagai ruang yang lebih terbuka dan beragam dinilai kurang dimaksimalkan menjadi ambience yang kuat. Hal ini terutama terasa pada aspek musik, yang disebut repetitif dan datar, padahal konteks Harlem 1920-an identik dengan jazz yang berkesan.

Selain itu, terdapat sejumlah asumsi dalam cerita yang dianggap tidak tersampaikan secara maksimal dalam screenplay untuk menjawab pertanyaan penonton. Meski film mengandalkan pembacaan emosi melalui akting, beberapa drama kompleks dinilai tetap memerlukan penegasan melalui visual atau dialog yang lebih jelas.

Untuk Penonton yang Menyukai Dialog dan Ritme Lambat

Dengan pendekatan yang mengutamakan percakapan dan ketegangan psikologis, Passing berpotensi terasa membosankan bagi sebagian penonton. Namun bagi mereka yang ingin menambah referensi film arthouse dengan dialog sebagai daya tarik utama, film ini dapat menjadi pilihan tontonan yang menarik.