UMBY Gelar Lokakarya Kurikulum Teknologi Hasil Pertanian untuk Tingkatkan Kualitas Lulusan
WIYATA
Lokakarya melibatkan dosen, mahasiswa, pimpinan fakultas, serta berbagai pemangku kepentingan eksternal
KORANBERNAS.ID, BANTUL - - Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum 2026 secara daring dan luring di Ruang Sidang Timur Fakultas Agroindustri.
Dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi koranbernas.id, Kamis (19/2/2026), Kepala Humas UMBY Widarta MM menjelaskan kegiatan yang dilaksanakan Kamis (12/2/2026) pekan lalu itu merupakan langkah strategis memperbarui dan memperkuat kurikulum agar selaras dengan kebutuhan industri, masyarakat, serta perkembangan ilmu dan teknologi hasil pertanian.
"Lokakarya melibatkan dosen, mahasiswa, pimpinan fakultas, serta berbagai pemangku kepentingan eksternal," kata Widarta.
Melalui lokakarya ini, Program Studi THP UMBY menegaskan komitmennya untuk memberikan kurikulum yang adaptif, kolaboratif, dan relevan, guna mencetak lulusan teknologi pangan yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global.
Momentum penting
Dekan Fakultas Agroindustri, Prof Chatarina Lilis Suryani dalam sambutannya mengatakan lokakarya menjadi momentum penting untuk menyempurnakan kurikulum.
"Agar lebih adaptif terhadap dinamika ilmu pangan dan kebutuhan dunia kerja, melalui penguatan keunggulan sociopreneurship serta masukan dari PMTS (Dunia usaha/industri - red) dan stakeholder guna menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing," katanya.
Dalam sesi pemaparan materi yang dipandu oleh Kaprodi THP, Ichlasia Ainul Fitri M Sc, narasumber yakni Prof Feri Kusnandar (IPB/Perhimpunan Ahli Tanaman Pangan Indonesia atau PATPI) memaparkan standar pendidikan yang mengacu pada PP No. 18 Tahun 2012, Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025, serta Standar PATPI, dengan penekanan pada capaian lulusan sebagai dasar perancangan kurikulum.
Menurut dia, penerapan standar pendidikan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2012, Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025, serta Standar dari Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI).
Teknologi pangan
“Capaian pembelajaran lulusan harus menjadi landasan utama dalam perancangan kurikulum, sehingga struktur pembelajaran, metode pengajaran, dan sistem evaluasi dapat dirancang secara sistematis, terarah, dan selaras dengan kebutuhan dunia industri, perkembangan ilmu pengetahuan, serta standar profesi di bidang teknologi pangan," katanya.
Maino Dwi Hartono MP selaku Direktur Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan sekaligus alumni THP UMBY menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan stakeholder dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
"Perlunya keseimbangan antara praktik lapangan dan pembelajaran teori, sehingga lulusan memiliki kesiapan yang lebih komprehensif dalam menghadapi tantangan nyata di sektor pangan," katanya.
Hal ini dapat diwujudkan melalui penguasaan sertifikasi internasional, pemahaman food law (hukum pangan), Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus (PKGK) serta penguasaan teknologi digital, yang didukung dengan penguatan soft skills seperti kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.
Berdaya saing
Agusta Ardian S TP selaku Production Manager & Product Developer CV Sayajo Indonesia menyatakan pentingnya sinergi antara Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dengan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia teknologi pangan yang berdaya saing global.
Hal ini dapat diwujudkan melalui penguasaan sertifikasi internasional, pemahaman food law, PKGK, serta penguasaan teknologi digital, yang didukung dengan penguatan soft skills seperti kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.
Sementara Muhammad Ulil Ahsan M Sc dari Indonesia Program Coordinator Good Food for Cities Rikolto, mengajak mahasiswa untuk berevolusi dari sekadar teknolog pangan menjadi pemimpin di bidang pangan.
"Para lulusan perlu memahami aspek tata kelola, kebijakan, inovasi, serta memiliki kemampuan berpikir sistem dan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan poli-krisis global yang semakin kompleks," katanya.
Bersama alumni
Perspektif praktis juga diperkuat melalui sesi sharing session bersama alumni, yaitu Hilma Amanda Ansabila S TP, Achmad Irfan Fauzi S TP dan Hernawan S TP. Mereka menegaskan, keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga oleh kemampuan komunikasi, kepemimpinan serta kesiapan profesional yang telah dilatih sejak masa perkuliahan.
Sebagai penutup, Prof Eko Hari Purnomo (IPB) menjelaskan penguatan kurikulum berbasis outcome melalui pendekatan Outcome-Based Curriculum (OBC), Outcome-Based Learning and Teaching (OBLT) dan Outcome-Based Assessment and Evaluation (OBAE) untuk mendukung inovasi dan food technopreneurship.
Dia menyatakan, pembelajaran berpusat pada mahasiswa dengan dosen sebagai fasilitator, serta penilaian berbasis capaian pembelajaran agar proses belajar lebih bermakna. (*)
Tag:
Lokakarya
Kampus
Bantul




