Dampak Lingkungan Fast Fashion: Limbah dan Emisi Meningkat Drastis
Liputan6.com, Jakarta - Tren fast fashion adalah sebuah istilah yang hingga kini menjadi pusat diskusi tentang keberlanjutan dan kesadaran lingkungan. Hal ini merujuk pada model bisnis yang dicirikan oleh desain, produksi, dan pemasaran pakaian murah secara cepat.
Perusahaan fast fashion berfokus pada pakaian berbiaya rendah yang meniru tren mode terbaru dengan cepat, lalu memasarkannya ke toko-toko untuk memanfaatkan tren tersebut.
Dalam hal ini berarti pengecer dapat menawarkan lebih banyak variasi produk dalam jumlah yang besar dan memungkinkan konsumen untuk mendapatkan lebih banyak pilihan mode dan diferensiasi produk dengan harga rendah.
Namun, di balik kemudahan itu, fast fashion menyumbang masalah besar. Produksi massal pakaian berkualitas rendah membuat usia pakai busana semakin pendek. Akibatnya, jutaan ton pakaian dibuang setiap tahun dan berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar, memperparah krisis limbah global.
Industri fast fashion merupakan konsumen air terbesar kedua dan bertanggung jawab atas sekitar 10 persen emisi karbon global, lebih banyak daripada gabungan seluruh penerbangan internasional dan pengiriman maritim. Sayangnya, masalah industri ini sering kali diabaikan oleh konsumen.
Sisi Gelap Fast Fashion
Perbesar
Menurut Business Insider, yang dilansir oleh laman earth.org, industri ini menguras sumber daya air dan mencemari sungai dan aliran air, sementara 85 persen dari semua tekstil dibuang ke tempat pembuangan sampah setiap tahunnya. Bahkan saat mencuci pakaian pun melepaskan 500 ribu ton serat mikro ke laut setiap tahunnya, atau setara dengan 50 miliar botol plastik.
Sedangkan berdasarkan laporan Quantis International 2028 menemukan tiga pendorong utama dampak polusi global industri ini adalah pewarnaan dan penyelesaian (36 persen), persiapan benang (28 persen), dan produksi serat (15 persen).
Laporan tersebut juga menetapkan bahwa produksi serat memiliki dampak yang besar pada pengambilan air tawar (air yang dialihkan atau diambil dari sumber air permukaan atau air tanah) serta kualitas ekosistem karena budidaya kapas, tahap pewarnaan dan penyelesaian, persiapan benang, dan produksi serat memiliki dampak tertinggi pada penipisan sumber daya, karena proses yang intensif energi berdasarkan energi bahan bakar fosil.
Menurut Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, emisi dari manufaktur tekstil saja diproyeksikan akan melonjak hingga 60 persen pada 2030.
Dampaknya Terhadap Lingkungan
Perbesar
1. Air
Dampak lingkungan dari fast fashion adalah menipisnya sumber daya yang tidak dapat diperbarui, emisi gas rumah kaca, penggunaan air dan energi dalam jumlah yang besar.
Industri fashion merupakan konsumen air terbesar kedua di antara industri yang lainnya, membutuhkan sekitar 700 galon air untuk memproduksi satu kemeja katun dan 2.000 galon air hanya untuk memproduksi sepasang celana jeans.
2. Mikroplastik
Selain itu, terdapat merek-merek yang menggunakan serat sintesis seperti poliesteer, nilon, dan akrilik yang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai secara alami.
Menurut laporan dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) 2017 memperkirakan bahwa 35 persen dari semua mikroplastik adalah potongan-potongan kecil dari plastik yang tidak dapat terurai secara alami yang ditemukan di lautan berasal dari sumber pencucian tekstil sintesis seperti poliester.
3. Energi
Proses pembuatan tekstil dari serat plastik merupakan proses yang membutuhkan banyak energi, memerlukan sejumlah besar minyak bumi, dan melepaskan partikel mudah menguap serta asam seperti hidrogen klorida.
Selain itu, kapas yang digunakan juga tidak ramah lingkungan dalam proses pembuatannya, serta pestisida yang dianggap perlu untuk pertumbuhan kapas menimbulkan risiko kesehatan bagi petani.
Untuk mengatasi pemborosan tersebut , penggunaan kain yang lebih berkelanjutan dapat digunakan dalam pakaian meliputi sutra liar, katun organik, linen, rami, lyocell.
Slow Fashion dan Kesadaran Konsumen
Perbesar
Kesadaran terhadap dampak lingkungan dari fast fashion mendorong lahirnya gerakan slow fashion.
Sebuah pendekatan yang menekankan pada produksi berkelanjutan, kualitas bahan, serta perilaku konsumsi yang lebih bijak dan tahan lama, serta memillih bahan yang mudah terurai adalah beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi beban lingkungan.
Meski tidak serta merta sebagai solusi tunggal, slow fashion dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk mengurangi tekanan industri fashion terhadap lingkungan.




