Gagasan Angkatan Kelima PKI dan Penolakan TNI AD: Pemicu Peristiwa G30S?
Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) masih menjadi topik perdebatan di kalangan sejarawan dan pengamat politik. Salah satu isu yang dianggap sebagai pemicu terjadinya peristiwa tersebut adalah gagasan Angkatan Kelima yang diusulkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ditentang oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Latar Belakang Gagasan Angkatan Kelima
Usulan pembentukan Angkatan Kelima ini disampaikan oleh DN Aidit, yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Comite Central PKI, kepada Presiden Sukarno. Dalam sebuah artikel yang dimuat di surat kabar Warta Bhakti pada 14 Januari 1965, PKI mengusulkan agar 15 juta massa tani dan buruh dipersenjatai sebagai Angkatan Kelima.
PKI merasa bahwa dengan situasi politik yang sedang bergejolak, termasuk konflik di Irian Barat dan seruan revolusioner dari Sukarno, negara membutuhkan lebih banyak relawan untuk pertahanan. Mereka berpendapat bahwa pembentukan Angkatan Kelima akan memberikan kontribusi signifikan terhadap keamanan negara.
Penolakan TNI AD
Namun, gagasan ini mendapat penolakan keras dari para jenderal TNI AD. Mereka khawatir bahwa Angkatan Kelima dapat digunakan oleh PKI sebagai alat untuk merebut kekuasaan, mirip dengan gerakan revolusi yang terjadi di Rusia dan China. Penolakan ini juga didasarkan pada anggapan bahwa pembentukan Angkatan Kelima tidak efisien, mengingat sudah ada bentuk pasukan sipil bersenjata dalam wujud Pertahanan Sipil atau Hansip.
Jenderal Ahmad Yani dan rekan-rekannya menolak ide Aidit karena mereka menganggap bahwa Angkatan Kelima yang diusulkan akan menyaingi posisi angkatan bersenjata lainnya, yang dapat mengganggu stabilitas militer di Indonesia.
Konsekuensi dan Implikasi
Gagasan Angkatan Kelima ini juga menarik perhatian internasional, termasuk Perdana Menteri Cina, Zhou En Lai, yang menawarkan bantuan senjata untuk mendukung pembentukan angkatan tersebut. Tawaran bantuan ini semakin memperkuat kekhawatiran di kalangan TNI AD tentang potensi ancaman terhadap stabilitas negara.
Walaupun Sukarno menunjukkan ketertarikan terhadap gagasan ini, ia belum dapat merinci bentuk dan fungsi dari Angkatan Kelima. Ia hanya menyatakan bahwa angkatan ini akan berbeda dari angkatan lain yang sudah ada, dan bersifat lebih istimewa.
Dengan demikian, penolakan TNI AD terhadap gagasan Angkatan Kelima PKI menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi pada ketegangan politik yang mengarah pada peristiwa G30S. Peristiwa ini, yang terjadi pada 30 September 1965, menjadi salah satu titik balik dalam sejarah Indonesia dan menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan di negara tersebut.




