Inovasi Berbasis Budaya Dalam Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung
RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung terus memperkuat diferensiasi akademiknya dengan menempatkan tekstil sebagai medium utama eksplorasi kreatif, inovasi, dan riset berbasis keberlanjutan.
Ketua Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung, Saftiyaningsih Ken Atik, mengatakan pendekatan keilmuan di prodi ini tidak semata berorientasi pada tren busana, melainkan pada pendalaman tekstil sebagai material dan bahasa ekspresi.
“Kami memosisikan tekstil bukan hanya sebagai produk akhir, tetapi sebagai medium berpikir. Mahasiswa dilatih memahami proses, struktur, dan nilai di balik setiap karya,” ujarnya di Kampus UM Bandung, Selasa (24/2).
Ia menjelaskan, kurikulum prodi dirancang dalam tiga ranah utama, yakni structure design, surface design, serta integrasi dan implementasi tekstil.
Pada aspek structure design, mahasiswa dibekali pemahaman teknis mengenai konstruksi tekstil, mulai dari teknik tenun, anyam, rajut, crochet, hingga manipulasi material. Pendekatan ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya menghasilkan bentuk visual, tetapi memahami karakter dan potensi material yang digunakan.
Panduan Kota & Daerah
Sementara pada surface design, eksplorasi diarahkan pada penggalian kekayaan budaya lokal. Wastra Nusantara dijadikan pijakan dalam proses kreatif, sehingga inovasi yang lahir tetap memiliki akar identitas dan nilai artistik.
“Kami mendorong mahasiswa menjadikan budaya lokal sebagai sumber inspirasi yang relevan dengan kebutuhan masa kini,” kata Ken Atik.
Keunikan lain prodi ini terletak pada integrasi tekstil ke berbagai bidang desain. Lulusan tidak hanya diproyeksikan menjadi perancang busana, tetapi juga kriyawan tekstil dan inovator material yang mampu menghadirkan solusi desain di sektor interior, produk, hingga industri kreatif berbasis tekstil.
Dari sisi metode pembelajaran, kurikulum disusun berbasis project-based learning. Proses belajar berlangsung melalui studio praktik, eksperimen teknik dan material, serta proyek yang merespons isu aktual seperti limbah tekstil dan praktik produksi berkelanjutan.
“Mahasiswa kami dorong untuk peka terhadap persoalan lingkungan dan mampu mentransformasikan teknik tradisional menjadi produk yang kontekstual dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Berita Nasional
Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung juga mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, termasuk desain tekstil digital dan pendekatan hybrid craft yang menggabungkan kriya tradisional dengan teknologi kontemporer.
Di sisi hilirisasi, kolaborasi dengan industri dan pelaku UMKM menjadi bagian dari strategi penguatan kompetensi mahasiswa. Melalui program magang dan kerja profesi, mahasiswa diarahkan menghasilkan karya yang tidak hanya konseptual, tetapi juga siap dipasarkan.
Dengan pendekatan tersebut, Ken Atik optimistis lulusan prodi memiliki ruang karier yang luas, mulai dari kriyawan tekstil profesional, desainer fashion, wirausaha kreatif, hingga peneliti muda di bidang tekstil dan material.
“Kami ingin melahirkan lulusan yang berkarakter, beretika, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki kesadaran keberlanjutan,” pungkasnya.




