Inovasi Tujuh Produk UMKM Sawit di Langsa Dukung Ekonomi Hijau
Sumber Foto: Hai Sawit
Lifestyle

Inovasi Tujuh Produk UMKM Sawit di Langsa Dukung Ekonomi Hijau

Jakarta, HAISAWIT – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) secara resmi merilis Katalog 100 Produk Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) Kelapa Sawit edisi kedua untuk mendorong hilirisasi komoditas perkebunan di Indonesia.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi hijau melalui pemberdayaan pelaku usaha lokal yang inovatif. Transformasi industri tersebut melibatkan pemanfaatan seluruh bagian tanaman kelapa sawit menjadi produk bernilai tambah yang memiliki daya saing tinggi.

Sebanyak 100 produk unggulan dari berbagai daerah ditampilkan sebagai hasil pemutakhiran data produksi sepanjang tahun 2024 hingga 2025 dengan nilai ekonomi yang kompetitif bagi para pelaku usaha kecil.

Salah satu inovator yang menonjol dalam katalog tersebut adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Langsa melalui Koperasi Produsen Syariah Handcraft Produk yang berbasis di Kota Langsa, Provinsi Aceh.

Unit usaha ini berhasil mengembangkan tujuh produk inovatif yang memanfaatkan turunan minyak sawit hingga sisa produksi perkebunan. Berikut adalah rincian produk hasil kreativitas koperasi yang kini telah menembus pasar nasional:

Tas Kulit Selempang Pria seharga IDR 250.000 dengan kombinasi anyaman lidi.

Totebag Wanita seharga IDR 250.000 dalam varian lidi kombinasi kain atau kulit.

Vas Bunga Anti Jamur seharga IDR 15.000 dari hasil olahan limbah sawit.

Deterjen Prolight seharga IDR 15.000 yang mengandung bahan baku cair nabati.

Snack Kulpi Cokelat seharga IDR 15.000 dengan campuran krimer kelapa sawit.

Snack Peyek Manggrove seharga IDR 15.000 yang diproses menggunakan lemak sawit.

Snack Keripit Cokelat seharga IDR 15.000 hasil perpaduan pisang dan krimer sawit.

Pemanfaatan lidi kelapa sawit pada produk tas selempang pria memberikan kesan etnik yang elegan sekaligus sangat kokoh. Material tersebut dikombinasikan dengan kulit berkualitas tinggi untuk menciptakan produk fesyen premium yang sangat diminati konsumen.

Inovasi serupa juga diterapkan pada produk tas jinjing atau totebag wanita yang hadir dalam berbagai desain menarik. Penggunaan lidi sebagai bahan baku utama menjadi bukti nyata bahwa bagian tanaman yang tidak produktif dapat memiliki nilai jual.

Sektor kebutuhan rumah tangga turut mendapat sentuhan teknologi pengolahan melalui penciptaan deterjen merek Prolight. Produk ini memanfaatkan Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit sebagai salah satu komponen pembersih yang efektif.

Koperasi di Kota Langsa tersebut juga menghasilkan vas bunga berkualitas yang bersifat anti jamur untuk kebutuhan kantor. Pengolahan limbah menjadi furnitur estetik ini mampu mengurangi penumpukan sisa produksi perkebunan yang tidak terpakai di lapangan.

Pemanfaatan krimer nabati pada sektor kuliner terlihat jelas dalam pembuatan camilan ringan seperti Kulpi Cokelat dan Keripit Cokelat. Penambahan bahan tersebut memberikan tekstur lembut serta rasa lezat yang sangat pas di lidah para penikmat camilan.

Seluruh inovasi ini mencerminkan keberhasilan hilirisasi di tingkat lokal yang mampu mengubah bagian tanaman tidak produktif menjadi komoditas perdagangan. Kreativitas para petani dan perajin lokal di Aceh menjadi pilar utama dalam pengembangan ekonomi kreatif.

Keberadaan katalog ini menjadi acuan penting bagi para pemangku kepentingan untuk melihat potensi besar kelapa sawit. Dukungan promosi yang dilakukan secara digital memperluas akses pasar bagi produk-produk hasil karya anak bangsa ke seluruh wilayah Indonesia.

Sinergi antara instansi pemerintah dan koperasi menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan industri hijau di Indonesia. Keberhasilan Koperasi Produsen Syariah Handcraft Produk membuktikan bahwa komoditas sawit sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai macam produk.***