Tingkat Pengangguran Indonesia November 2025 Turun Menjadi 4,74 Persen
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada November 2025 sebesar 4,74 persen.
Angka tersebut menunjukkan adanya penurunan dibandingkan Agustus 2025 yang tercatat lebih tinggi 0,11 persen poin.
Dalam konsep ketenagakerjaan, pengangguran adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja namun sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja atau siap berusaha tetapi belum mulai bekerja atau berusaha, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (putus asa).
SHUTTERSTOCK/MMD CREATIVE Ilustrasi pengangguran, lulusan SMK sumbang pengangguran terbanyak.
Sementara itu, TPT merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja.
Dengan capaian TPT sebesar 4,74 persen pada November 2025, secara sederhana dapat diartikan bahwa terdapat sekitar lima orang penganggur dari setiap 100 orang angkatan kerja.
Penurunan sebesar 0,11 persen poin dibandingkan Agustus 2025 mencerminkan adanya perbaikan serapan tenaga kerja dalam periode tiga bulan terakhir.
TPT laki-laki dan perempuan turun
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki pada November 2025 tercatat sebesar 4,75 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan TPT perempuan yang sebesar 4,71 persen.
Kedua kelompok tersebut sama-sama mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2025. TPT laki-laki turun sebesar 0,10 persen poin, sedangkan TPT perempuan turun 0,12 persen poin.
Ilustrasi pengangguran, pencari kerja
Data ini menunjukkan bahwa perbaikan kondisi pasar kerja dalam periode Agustus–November 2025 terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan.
Meski demikian, selisih tipis antara keduanya memperlihatkan bahwa peluang kerja relatif seimbang dari sisi gender dalam periode tersebut, dengan tingkat pengangguran laki-laki sedikit lebih tinggi dibanding perempuan.
Kesenjangan kota dan desa masih terlihat
Perbedaan tingkat pengangguran juga tampak jelas apabila dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal.
Pada November 2025, TPT di wilayah perkotaan tercatat sebesar 5,65 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan TPT di wilayah perdesaan yang sebesar 3,31 persen.
Dibandingkan Agustus 2025, TPT perkotaan turun sebesar 0,10 persen poin, sementara TPT perdesaan turun lebih besar, yakni 0,16 persen poin.
Perbedaan ini mengindikasikan bahwa tekanan pasar kerja di wilayah perkotaan masih relatif lebih besar dibandingkan perdesaan.
Dengan struktur ekonomi perkotaan yang lebih bergantung pada sektor formal dan industri jasa modern, dinamika permintaan dan penawaran tenaga kerja cenderung lebih fluktuatif.




