Dampak Dekrit Sakoku: 200 Tahun Isolasi Jepang dari Dunia
Sebuah kekaisaran berpenduduk sekitar 22.000.000 jiwa terkurung dalam isolasi selama 200 tahun. Apa latar belakangnya?
Nationalgeographic.co.id— Sebuah kekaisaran berpenduduk sekitar 22.000.000 jiwa terkurung dalam isolasi selama 200 tahun. Mungkin terdengar seperti alur cerita film yang jauh. Tapi nyatanya merupakan kenyataan pahit bagi masyarakat yang tinggal di Jepang antara abad ke-17 dan ke-19.
Semua ini terjadi pada tahun 1635, ketika pemerintah Jepang memberlakukan Dekrit Sakoku dalam upaya untuk menghilangkan pengaruh asing. Apa yang mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan ekstrem seperti itu?
Memahami patologi tiga pemimpin penting Jepang sangat penting untuk memahami keadaan yang menyebabkan Dekrit Sakoku. Semua pemimpin ini berkuasa selama periode Sengoku, yang juga dikenal sebagai era “negara-negara yang berperang”, yang berlangsung dari tahun 1467 hingga 1615 dan ditandai dengan perang saudara yang hampir tak kunjung usai di Jepang.
Penguasa pertama dari kelompok ini adalah Oda Nobunaga, seorang daimyo (penguasa feodal) yang kuat. Seperti banyak orang Jepang lainnya, Oda juga terpesona oleh Eropa.
Oda Nobunaga
Dunia pada abad ke-16 berkembang pesat. Jalur perdagangan ramai, Eropa memasuki Zaman Penjelajahan. Para pedagang Spanyol dan Portugis sibuk membawa komoditas baru ke Kekaisaran Jepang. Termasuk jam, kaca, dan yang paling penting, senjata. Bersama mereka, mereka juga membawa sesuatu yang dianggap berbahaya bagi Kekaisaran Jepang: agama.
Fransiskus Xaverius adalah salah satu misionaris Kristen paling terkemuka yang berlayar dengan armada dagang ke Jepang. Ia berusaha untuk menyebarkan ajaran agama Kristen. Oda, yang memiliki kekuasaan yang besar, mampu menawarkan perlindungan kepada para misionaris Kristen seperti Xaverius. Oda tidak pernah memeluk agama Kristen, jadi Anda mungkin bertanya-tanya mengapa ia berusaha keras untuk melindungi mereka.
Ketertarikannya pada agama semata-mata bersifat politis. Buddhisme adalah agama terkemuka di Kekaisaran Jepang pada saat itu. Dan ia memahami bahwa agama memiliki cara untuk mempersatukan orang-orang. Jika ia dapat menggunakan Kekristenan dengan cara yang sama seperti pesaingnya menggunakan Buddhisme, mungkin ia dapat mencapai puncak.
Pada tahun 1582, Oda hampir mencapai hal yang tampaknya mustahil, yaitu menyatukan Jepang. Hal itu merupakan sebuah prestasi yang belum pernah dicapai selama berabad-abad. Tepat sebelum ia berhasil mencapai tujuannya, ia dikhianati oleh wakilnya dan dipaksa bunuh diri. Di sinilah peran pemimpin Jepang kedua yang berpengaruh, Toyotomi Hideyoshi, mulai terasa.
Setelah Oda Nobunaga Meninggal
Toyotomi Hideyoshi adalah pengikut Oda. Setelah kematian Oda, ia bertindak cepat melancarkan serangkaian serangan yang berpuncak pada kekalahannya atas jenderal Samurai Akechi Mitsuhide. Dengan melakukan ini, ia menyelesaikan tugas pendahulunya untuk akhirnya menyatukan Jepang pada tahun 1582.
Toyotomi telah meraih posisinya, meniti karier dari keluarga sederhana. Ia adalah putra seorang ashigaru (prajurit infanteri), yang berjuang hingga mencapai posisi wakil seorang panglima perang terkemuka.
Jelas bahwa Toyotomi telah memahami tujuan Oda bagi bangsa ketika ia mengambil gelar “Bupati Kekaisaran” (Kanpaku). Namun ia memiliki ambisi yang lebih besar daripada pendahulunya. Setelah memimpin sensus nasional, ia membagi penduduk menjadi empat kelas, melarang orang-orang berbaur dengan orang-orang di luar kelas mereka.
Selain itu, ia semakin skeptis terhadap misionaris Kristen di Kekaisaran Jepang serta pengaruh Eropa yang lebih luas. Pesan Kristen mereka, menurutnya, menjadi tantangan bagi kemampuannya untuk mempertahankan dominasi sosial dan politik di Jepang.
Terbukti sebagai pemimpin yang cerdik, ia menyaksikan orang-orang Eropa berlayar dengan armada militer bersenjata yang besar. Orang-orang Eropa itu menyerang dan menaklukkan negara-negara lain.
Bangkitnya Retorika Anti-Kristen
Kekhawatiran Toyotomi ternyata terbukti pada tahun 1587. “Omura Sumitada, seorang daimyo Kristen, dikabarkan telah menjual budak Jepang ke luar negeri,” tulis Roisin Everard di laman Historic Mysteris.
Setelah penemuan tersebut, Hideyoshi memerintahkan semua misionaris Kristen untuk meninggalkan Jepang. Karena Jepang masih berbisnis dengan pedagang asing, larangan tersebut tidak sepenuhnya ditegakkan. Jadi, para misionaris dapat kembali masuk dengan kedok yang berbeda.
Puncak kemarahannya terjadi pada tahun 1596. Saat itu para pelaut Spanyol memberi tahu Toyotomi bahwa pemerintah Spanyol sebenarnya menggunakan misionaris untuk merebut wilayah di seluruh dunia. Dalam kemarahan yang meluap-luap, ia memerintahkan pemenggalan kepala 26 misionaris dan 14 orang Jepang yang telah pindah agama.
Sejak saat itu, setiap orang Jepang yang telah pindah agama ke Kristen dipertanyakan kesetiaannya kepada Jepang. Hanya 2 tahun kemudian, Toyotomi meninggal dunia, tetapi yang tidak mati adalah sentimen anti-Eropanya.
Tokugawa Ieyasu adalah pemimpin ketiga yang menyusun komponen-komponen strategi yang digariskan oleh para pendahulunya. Ia segera mengeluarkan sejumlah arahan dramatis yang berupaya mengisolasi Jepang secara permanen dari pengaruh dan dominasi negara lain.
Puncaknya adalah ketika cucu Tokugawa, Tokugawa Iemitsu, mengeluarkan Dekrit Sakoku yang terkenal. Sering dikenal sebagai keshogunan, atau “kerajaan tertutup”, dekrit itu diterbitkan pada pada tahun 1633. Dekrit dikeluarkan karena takut akan kehancuran yang ditimbulkan oleh penyebaran wabah, cacar, dan agama.
Kekaisaran Jepang selanjutnya akan hidup dalam isolasi yang luar biasa. Adat istiadat, tatanan sosial, serta cara hidupnya akan terlindungi dari pengaruh asing.
Kekaisaran Jepang Menutup Pintunya
Berdasarkan undang-undang baru ini, aturan-aturan berikut diberlakukan:
Kapal-kapal Jepang dilarang memasuki laut asing.
Warga negara Jepang mana pun yang tinggal di negeri asing dan ingin kembali akan menghadapi hukuman mati.
Jika seseorang tertangkap melarikan diri dari Jepang, mereka akan dijatuhi hukuman mati.
Setiap kapal yang tiba di beberapa pelabuhan yang masih terbuka untuk perdagangan luar negeri menjalani pencarian ekstensif. Jepang terutama mencari penumpang gelap misionaris.
Awalnya, upaya ini tampaknya berhasil, dan perdamaian di Kekaisaran Jepang bertahan selama beberapa tahun. Namun, pada tahun 1637, Shibata Katsuie, seorang ronin mengumpulkan pemberontak Kristen untuk memprotes Dekrit Sakoku. Peristiwa ini dikenal sebagai Pemberontakan Shimabara dan merupakan konflik sipil terbesar di Jepang selama era Keshogunan. Dinyatakan bersalah karena mendorong pemerintahan yang buruk, Katsuie dipenggal, mengakhiri pemberontakan tersebut.
Dekrit Sakoku bukanlah satu-satunya maklumat yang diperkenalkan oleh Ieyasu selama masa pemerintahannya. Pada tahun 1639, ia memberlakukan Maklumat Pengucilan Portugis. Ia merasa hal ini perlu karena banyak pendeta yang ditemukan telah diselundupkan ke Jepang dengan kapal-kapal Portugis.
Apa Dampak Dekrit Sakoku terhadap Kekaisaran Jepang?
Sebelum Dekrit Sakoku, Kekaisaran Jepang terlibat dalam perdagangan dengan Korea, Tiongkok, dan Eropa. Kekaisaran ini memanfaatkan produk yang ditawarkan negara lain. Namun, setelah dekrit tersebut disahkan, Belanda menjadi satu-satunya negara yang diizinkan masuk ketika Jepang menutup pintunya bagi dunia luar.
Membiarkan Belanda melanjutkan perdagangan di Jepang berarti kekaisaran dapat terus maju dan berkembang. Belanda juga akan menjual senjata api Jepang, yang dipandang sebagai alat penting untuk menjaga ketertiban oleh keshogunan.
Dekret Sakoku berakhir secara tiba-tiba pada tahun 1852. Saat itu Angkatan Laut AS, yang dipimpin oleh Komodor Mattew Calbraith Perry, memaksa Jepang untuk membuka kembali pasarnya. Kekaisaran Jepang kemudian menandatangani Perjanjian Perdamaian dan Persahabatan dengan Amerika Serikat. Akhirnya, orang Jepang dapat keluar dan melihat dunia di sekitar mereka.
Dampak isolasi masyarakat Jepang selama lebih dari 200 tahun bertahun-tahun kemudian merupakan subjek yang menarik. Segera terlihat jelas setelah mereka meninggalkan keshogunan bahwa teknologi di seluruh dunia telah meningkat secara signifikan. Dan Jepang tertinggal.
Juga menjadi jelas bahwa mode dan budaya Jepang tetap khas karena tidak terpengaruh oleh budaya Barat lainnya. Kekaisaran Jepang memang melestarikan budayanya selama 200 tahun isolasi, lebih mirip kupu-kupu di bawah kaca daripada masyarakat yang hidup.
Siapa yang tahu akan jadi apa Jepang jika menerima kedatangan orang asing.
---
Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel dan Google News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.
Halaman:
1 2 3 Lihat Semua
Tag:
Sejarah Kekaisaran Jepang Isolasi
Mutakhir
Populer




