Feodalisme: Tantangan dan Kontroversi dalam Historiografi Sejarah
Sumber Foto: National Geographic Indonesia
Latar Utama

Feodalisme: Tantangan dan Kontroversi dalam Historiografi Sejarah

Ilustrasi feodalisme.

Nationalgeographic.co.id— Penggunaan istilah 'feodalisme' di ranah publik sering kali memicu respons kritis dari kalangan sejarawan profesional. Ketika surat kabar The Guardian pada Januari 2022 memuat kolom opini yang menyebut Britania Raya "feodal dalam disparitasnya," banyak sejarawan di media sosial mengungkapkan kekecewaan mereka.

Kekesalan ini bukan tertuju pada isu ketidaksetaraan yang diangkat, melainkan pada penggunaan terminologi yang mereka anggap santai, menunjukkan adanya keengganan yang semakin besar di kalangan sejarawan untuk menggunakan istilah 'feodalisme' itu sendiri.

Kondisi ini berbeda jauh dengan masa lalu, di mana feodalisme memiliki peran sentral dalam setidaknya tiga tradisi historiografi yang berbeda.

Istilah 'feodalisme' sendiri baru diterapkan pada masyarakat Eropa abad pertengahan sejak abad ke-16, dan orang-orang yang hidup di Abad Pertengahan tidak pernah menggunakannya. Secara etimologis, kata ini berasal dari istilah Latin abad pertengahan feudalis (bayaran, fee) dan feodum (fief).

Definisi yang paling ringkas dan mencakup berbagai tingkat penerapannya, menurut Oxford English Dictionary, menggambarkannya sebagai " Sistem sosial yang dominan di Eropa abad pertengahan, di mana kaum bangsawan memegang tanah dari Mahkota (raja) dengan imbalan layanan militer, dan vassal pada gilirannya adalah penyewa dari para bangsawan, sementara kaum petani (villeins atau serfs) wajib tinggal di tanah penguasa mereka dan memberikan kepadanya kesetiaan, tenaga kerja, dan sebagian dari hasil panen, secara nominal sebagai imbalan atas perlindungan militer".

Namun, seiring berjalannya waktu, istilah ini telah diperluas ke konteks non-Eropa seperti periode Zhou di Tiongkok (1046–256 SM) dan periode Edo di Jepang (1603–1868), serta memunculkan interpretasi yang tumpang tindih.

Lantas, mengapa istilah yang awalnya berasal dari sistem abad pertengahan Eropa ini menjadi begitu problematik bagi para sejarawan, dan faktor-faktor apa yang menyebabkan sistem yang dipahami sebagai feodal itu sendiri akhirnya mengalami kemunduran?

Interpretasi Historis yang Kompleks

Tiga tradisi historiografi menawarkan definisi yang berbeda mengenai 'feodalisme.' Yang tertua adalah tradisi hukum, berakar pada filsuf Prancis Montesquieu.

Tradisi ini melihat feodalisme sebagai sistem hukum pasca-Romawi yang didasarkan pada fief (feodum), yaitu tanah yang diberikan oleh seorang penguasa (lord) kepada seseorang, yang kadang disebut sebagai vassal, sebagai imbalan atas janji kesetiaan (homage).

Dilansir History Extra, sejak akhir Abad Pertengahan, para ahli hukum, terutama yang dipengaruhi oleh kompilasi hukum abad ke-12, Libri Feudorum, mulai mengelaborasi aspek teknis hubungan ini, seperti masalah warisan dan kewajiban timbal balik.

Baca Juga: Feodalisme: Saat Sistem Politik Dikuasai Bangsawan di Abad Pertengahan

Halaman:

1 2 3

Tag:

Arti Latar Belakang Sejarawan Feodalisme

Mutakhir

Populer