ITB Hadirkan Teknologi Air Bersih untuk Pemulihan Pasca Bencana di Aceh Tengah
waktu baca 2 menit
Jakarta (ANTARA) - Kelompok akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) membawakan teknologi penyediaan air siap minum, dukungan pendidikan, serta dukungan pemulihan psikologis bagi warga Desa Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah yang terdampak bencana pada akhir 2025.
"Kami membangun sistem filtrasi menggunakan pipa HDPE yang dialirkan ke filter tabung FRP 1054 untuk mengubah air kotor menjadi air bersih, kemudian dilanjutkan ke filter lanjutan hingga layak minum," kata Koordinator Mahasiswa ITB dalam proyek tersebut, Muhammad Ulil Albab melalui keterangan di Jakarta, Rabu.
Ulil menjelaskan sistem distribusi air bersih dikembangkan melalui pipanisasi sepanjang lebih dari 2,5 kilometer dari sumber mata air di ketinggian 550 meter di atas permukaan laut menuju pemukiman warga.
Ia menyebut Desa Jamat dipilih karena kondisi akses dan ketersediaan air bersih yang sangat terbatas.
"Kami juga mencari sumber mata air baru di hulu sejauh sekitar 1,4 kilometer dengan elevasi hampir 200 meter lebih tinggi untuk memastikan ketersediaan air yang cukup dan berkualitas," ujarnya.
Meskipun menghadapi berbagai kendala teknis, logistik, dan sosial, Ulil menyebut mahasiswa bersama mitra berhasil menyelesaikan sistem pipanisasi dan filtrasi melalui proses kolaborasi dan penyesuaian di lapangan.
Dampak program ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Kepala Desa Jamat, Yusradi menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa yang membantu desa mereka bangkit dari kondisi darurat.
"Alhamdulillah, sekarang kebutuhan air bersih mulai terpenuhi, anak-anak kembali semangat belajar, dan warga mendapat dukungan trauma. Kami sangat berterima kasih kepada Kemdiktisaintek dan para mahasiswa yang telah memberi harapan baru bagi desa kami," ujar Yusradi.
Sampai hari ini, ITB bersama berbagai mitra telah membangun kurang lebih 40 titik instalasi pengolahan air dengan kapasitas rata-rata 1.000 liter per jam.
Selain itu, terdapat satu mesin pengolahan air portabel berkapasitas 7.000 liter per jam yang saat ini juga terpasang di Aceh Tamiang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Para mahasiswa juga membantu pembersihan fasilitas umum serta pembangunan tungku bakar sederhana untuk membantu penanganan sampah darurat.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan kehadiran akademisi, peneliti, dan mahasiswa di lapangan menjadi wujud nyata bahwa ilmu, teknologi, dan inovasi harus bekerja untuk masyarakat, khususnya dalam situasi darurat.
Maka dari itu, pihaknya menyiapkan sebanyak 28 posko bencana perguruan tinggi dan 11 perguruan tinggi pendukung dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana.
"Kami memastikan seluruh sumber daya perguruan tinggi bergerak cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran," ucap Brian Yuliarto.
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




