Korea Selatan dan NATO Perkuat Kerja Sama Pertahanan melalui ITPP
Sumber Foto: Indo-Pacific Defense FORUM
Internasional

Korea Selatan dan NATO Perkuat Kerja Sama Pertahanan melalui ITPP

Felix Kim

Korea Selatan dan NATO tengah menempuh jalan baru dalam kerja sama pertahanan melalui rencana selama empat tahun untuk mengembangkan ikatan strategis. Program Kemitraan yang Disesuaikan Secara Individual (Individually Tailored Partnership Programme – ITPP) yang diluncurkan pada tahun 2023 mencakup 11 prioritas — termasuk pertahanan siber, interoperabilitas, teknologi yang sedang berkembang, serta pertahanan kimia, biologi, radiologi, dan nuklir — yang mencerminkan pengakuan bersama bahwa ancaman keamanan melampaui batas geografis.

Inti berkembangnya kemitraan ini adalah semakin dalamnya integrasi Korea Selatan ke dalam ekosistem pertahanan siber NATO. Tonggak pencapaian bersejarah terjadi pada tahun 2022, ketika Badan Intelijen Nasional Seoul menjadi lembaga Asia pertama yang bergabung dengan Pusat Keunggulan Pertahanan Siber Kooperatif NATO di Tallinn, Estonia.

Partisipasi Korea Selatan sejak tahun 2018 dalam latihan pertahanan siber unggulan NATO, Locked Shields, semakin menekankan semakin berkembangnya peran operasional Seoul. Latihan edisi Mei 2025 itu menampilkan delegasi Korea Selatan terbesar hingga saat ini, dengan lebih dari 170 pakar dari 47 lembaga yang membentuk tim koalisi dengan Kanada.

Kerja sama semacam itu meningkatkan kesiapan dalam menghadapi ancaman bersama, demikian menurut Dr. Bruce Bennett, analis pertahanan senior di Rand Corp. yang berkantor pusat di Amerika Serikat. “Negara-negara NATO dan Korea Selatan menghadapi ancaman siber bersama dari Korea Utara, Tiongkok, dan Rusia,” ungkapnya kepada FORUM. “Pendekatan kerja sama yang meningkatkan pertahanan tanpa melibatkan konflik kinetik sangatlah masuk akal.”

Kemitraan yang terus berkembang itu juga telah membangun momentum dalam bidang sains dan teknologi. Pada Maret 2025, Korea Selatan menjadi salah satu dari sedikit negara nonanggota NATO, termasuk Australia dan Jepang, yang bergabung dalam program peningkatan kemitraan yaitu Organisasi Sains dan Teknologi aliansi keamanan itu. Seoul kini turut membentuk penelitian NATO yang beranggotakan 32 negara dalam berbagai bidang, mulai dari sistem propulsi hingga keamanan siber dan kedokteran pertahanan.

Bruce Bennett mengatakan kolaborasi teknologi merupakan simpul penghubung penting dalam arsitektur pertahanan yang menyatukan Eropa dan Indo-Pasifik. “Dalam operasi siber, pihak musuh mencari celah kelemahan. Banyak sistem NATO dan Korea Selatan bergantung pada teknologi dasar yang serupa. Sebagian besar negara menggunakan platform perangkat lunak dan pendekatan operasional yang sama, yang berarti mereka menghadapi ancaman serupa,” ungkapnya.

Dengan berfokus pada koordinasi berbasis masalah seperti berbagi informasi intelijen, penelitian gabungan, dan latihan pertahanan, kerangka kerja ITPP mendukung tujuan keamanan timbal balik sembari menjaga fleksibilitas strategis. “ITPP memungkinkan kerja sama yang bermanfaat …tanpa mengikat para mitra pada komitmen yang mungkin tidak mereka inginkan,” ungkap Bruce Bennett.

Sebagai salah satu dari empat mitra Indo-Pasifik NATO, bersama dengan Australia, Jepang, dan Selandia Baru, Korea Selatan telah menyelaraskan diri secara konsisten dengan tujuan strategis aliansi itu, termasuk berpartisipasi dalam pertemuan tingkat menteri, meluncurkan dialog siber tingkat tinggi, dan bergabung dalam berbagai inisiatif seperti Platform Berbagi Informasi Malware.

Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, kerangka kerja semacam ini besar kemungkinan akan menjadi semakin penting. Korea Selatan dan negara-negara anggota NATO “menghadapi ancaman bersama, yang membuat berbagi informasi intelijen saling menguntungkan,” ungkap Bruce Bennett.

Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Seoul, Korea Selatan.