Perluasan Infrastruktur Digital Dukung Pemerataan Ekonomi di Indonesia
Sumber Foto: FORTUNE Indonesia
Ekonomi

Perluasan Infrastruktur Digital Dukung Pemerataan Ekonomi di Indonesia

Menjawab kesenjangan akses konektivitas

Internet rumah semakin dipandang sebagai infrastruktur dasar bagi produktivitas masyarakat dan aktivitas ekonomi digital. Namun, perluasan layanan fixed broadband masih menghadapi kendala struktural, mulai dari tantangan geografis hingga tingginya biaya pembangunan jaringan fisik, khususnya di wilayah luar Pulau Jawa.

Dalam konteks tersebut, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melalui MyRepublic Indonesia mengadopsi pendekatan teknologi yang lebih adaptif. Selain memperluas jaringan fiber-to-the-home (FTTH) di 162 kota dan kabupaten, MyRepublic memanfaatkan spektrum 1,4 GHz untuk mengembangkan layanan Fixed Wireless Access (FWA) di wilayah Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Spektrum ini memungkinkan jangkauan yang lebih luas dengan kebutuhan infrastruktur fisik yang relatif lebih efisien, menjadikannya solusi yang relevan untuk area dengan kepadatan penduduk dan kondisi geografis yang beragam.

Pendekatan kombinasi antara jaringan fiber dan FWA ini mencerminkan upaya untuk menutup kesenjangan akses konektivitas secara lebih terukur. “Dengan konektivitas yang lebih stabil dan terjangkau, masyarakat di berbagai daerah memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pendidikan digital, layanan publik berbasis teknologi, serta berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi digital—faktor yang semakin krusial bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan inklusi digital nasional,” ujar Direktur PT DSSA, David Audy pada keterangannya yang diterima, (4/2).

Data center dan fondasi layanan digital

Di balik konektivitas, infrastruktur data memegang peran yang tidak kalah penting. Pertumbuhan layanan cloud, analitik data, dan kecerdasan buatan mendorong kebutuhan akan pusat data yang andal, berstandar tinggi, dan berlokasi dekat dengan pengguna.

Melalui platform SM+, DSSA mengembangkan jaringan data center yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Salah satu fasilitas strategis di kawasan pusat bisnis Jakarta direncanakan mulai beroperasi pada kuartal II 2026, dengan kapasitas awal 18 MW, yang dapat ditingkatkan hingga 60 MW. Kehadiran pusat data yang lebih dekat dengan pusat aktivitas ekonomi ini membantu menurunkan latensi, meningkatkan keandalan layanan digital, serta mendukung operasional sektor-sektor strategis seperti keuangan, teknologi, dan layanan publik.

Pengembangan fasilitas berstandar tinggi tersebut mencerminkan bagaimana infrastruktur data diposisikan sebagai penopang skala ekonomi digital nasional—dengan dampak turunan berupa penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing, serta tumbuhnya ekosistem teknologi di dalam negeri.

Dalam peta pembangunan ekonomi digital, infrastruktur sering kali berada di lapisan yang tidak langsung terlihat oleh pengguna akhir. Namun, justru pada lapisan inilah daya tahan dan inklusivitas transformasi digital ditentukan. Ketersediaan konektivitas yang andal serta infrastruktur data yang memadai menjadi prasyarat agar adopsi teknologi dapat berjalan secara berkelanjutan—bukan hanya di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga di wilayah dengan tantangan struktural yang lebih besar.

“Infrastruktur digital memiliki peran yang melampaui aspek teknis semata. Konektivitas dan infrastruktur data adalah fondasi bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital. Ketika fondasi ini dibangun secara konsisten dan merata, dampaknya akan terasa pada produktivitas, kualitas layanan, dan kesejahteraan masyarakat,” tambah David.

Dengan mengintegrasikan pengembangan konektivitas dan data center