Pertumbuhan Ekonomi Cilegon Tak Sejalan dengan Penyerapan Tenaga Kerja
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sosial

Pertumbuhan Ekonomi Cilegon Tak Sejalan dengan Penyerapan Tenaga Kerja

Latar News - Kota Cilegon selama ini dikenal sebagai "kota industri" di Provinsi Banten. Deretan kawasan industri baja dan petrokimia menjadikannya salah satu penggerak ekonomi di kawasan barat Pulau Jawa. Secara makro, Cilegon tampak tumbuh kuat dan stabil.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Cilegon meningkat dari 102.731,77 miliar rupiah pada tahun 2020 menjadi 137.989,30 miliar rupiah pada tahun 2024. Angka tersebut mencerminkan bahwa sektor industri masih menjadi motor utama penggerak perekonomian daerah. Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sempat menurun dari 12,69% menjadi 6,08% dalam periode yang sama.

Namun situasinya tidak sepenuhnya linear. Pada Agustus 2025, TPT kembali meningkat menjadi 7,41%. Kenaikan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: jika pertumbuhan ekonomi terus meningkat, mengapa penyerapan tenaga kerja belum sepenuhnya stabil? Apakah pertumbuhan yang terjadi sudah benar-benar inklusif bagi masyarakat lokal?

Selain melihat angka PDRB dan Tingkat Pengangguran Terbuka, penting memahami bagaimana struktur ekonomi Kota Cilegon terbentuk. Perekonomian Cilegon sangat terkonsentrasi pada sektor industri pengolahan. Dominasi sektor ini menjadikan kontribusi industri terhadap PDRB jauh lebih besar dibandingkan sektor perdagangan, jasa, maupun pertanian. Struktur ekonomi yang terlalu bertumpu pada satu sektor mencerminkan pola pembangunan yang kurang terdiversifikasi.

Ketergantungan terhadap industri padat modal memang mampu menghasilkan output yang besar dalam waktu relatif cepat. Namun, karakteristik sektor ini cenderung tidak membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar karena proses produksinya banyak mengandalkan mesin, otomatisasi, dan teknologi tinggi. Hal ini berbeda dengan sektor padat karya seperti manufaktur ringan, industri kreatif, perdagangan, dan jasa yang relatif lebih banyak menyerap tenaga kerja lokal.

Kondisi tersebut berpotensi menciptakan kesenjangan struktural dalam perekonomian daerah. Ketika pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh kinerja industri besar, maka distribusi manfaat ekonomi cenderung terkonsentrasi pada pelaku modal dan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi. Sementara itu, masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah menghadapi keterbatasan akses terhadap peluang kerja yang tersedia. Dalam jangka panjang, struktur ekonomi yang kurang seimbang ini dapat memperlebar jarak antara kelompok masyarakat yang terserap di sektor modern dengan kelompok yang tertinggal di sektor informal atau bahkan menganggur.

Dalam menganalisis kesenjangan pembangunan di Kota Cilegon, pendekatan teori pertumbuhan ekonomi menjadi penting untuk memahami mengapa peningkatan output daerah tidak selalu diikuti oleh stabilitas penyerapan tenaga kerja. Teori pertumbuhan neoklasik yang dikemukakan oleh Robert Solow menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh akumulasi modal, tenaga kerja, dan kemajuan teknologi. Dalam model ini, peningkatan output dapat terjadi melalui investasi dan penggunaan teknologi yang lebih modern, meskipun tidak selalu disertai peningkatan tenaga kerja secara proporsional.

Fenomena ini relevan dengan kondisi Cilegon yang struktur ekonominya didominasi oleh industri padat modal seperti baja dan petrokimia. Kenaikan PDRB dari tahun 2020 sampai 2024 menunjukkan adanya akumulasi modal dan ekspansi industri. Namun karakteristik industri padat modal yang mengandalkan mesin dan otomatisasi menyebabkan kebutuhan tenaga kerja relatif terbatas. Hal ini menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak secara otomatis menjamin penurunan pengangguran yang stabil, sebagaimana terlihat dari kenaikan kembali TPT pada tahun 2025.

Selain itu, teori pertumbuhan endogen memberikan perspektif tambahan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan investasi dalam pendidikan. Dalam kerangka ini, pembangunan tidak hanya bertumpu pada modal fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas manusia dan pengetahuan. Dalam konteks Cilegon, adanya ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri modern menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi faktor krusial. Jika tenaga kerja lokal tidak memiliki kompetensi teknis yang sesuai dengan kebutuhan industri, maka peluang kerja yang tersedia tidak sepenuhnya dapat diakses oleh masyarakat setempat. Kondisi ini berpotensi menciptakan pengangguran struktural dan memperlemah daya saing daerah dalam jangka panjang.

Fenomena kesenjangan antara sektor industri modern dan masyarakat lokal juga dapat dijelaskan melalui teori dualisme ekonomi yang dikemukakan oleh Arthur Lewis. Teori ini membagi perekonomian menjadi dua sektor, yaitu sektor modern dan sektor tradisional. Sektor modern biasanya ditandai dengan penggunaan teknologi tinggi, produktivitas yang besar, dan struktur upah yang relatif lebih tinggi. Sementara sektor tradisional ditandai dengan produktivitas rendah, teknologi sederhana, dan pendapatan yang terbatas.

Dalam konteks Kota Cilegon, sektor industri besar seperti baja dan petrokimia dapat dikategorikan sebagai sektor modern. Sektor ini memiliki produktivitas tinggi dan kontribusi besar terhadap PDRB. Namun, tidak semua tenaga kerja lokal dapat langsung terserap ke dalam sektor tersebut karena keterbatasan keterampilan dan spesifikasi teknis yang dibutuhkan. Di sisi lain, sebagian masyarakat masih berada pada sektor informal, usaha kecil, atau bahkan belum terserap ke pasar kerja secara optimal.