Tanggapan Eropa Terhadap Pernyataan Trump Soal Sanksi Rusia
Sumber Foto: dw.com
Internasional

Tanggapan Eropa Terhadap Pernyataan Trump Soal Sanksi Rusia

Donald Trump mengatakan AS hanya akan menerapkan sanksi pada Rusia jika semua anggota NATO menghentikan impor minyak dan gas dari Rusia. Ahli berpendapat, AS sedang mencari alasan untuk tidak melakukan apa-apa.

Iklan

Ketika Trump mempublikasikan surat kepada sekutu NATO di jaringan Truth Social pada Sabtu (13/9) lalu, Brussels sudah bersiap sedia menghadapi "kritik keras" dari AS.

Trump menuduh negara-negara anggota NATO melemahkan posisi tawar aliansi dalam perang Rusia di Ukraina, dengan terus membeli minyak dan gas Rusia. Dia berjanji AS akan siap memberlakukan "sanksi besar” pada Rusia setelah semua negara NATO menghentikan pembelian.

"Saya siap, saat Anda juga siap,” tulis Trump.

Dia juga menyerukan tarif besar-besaran terhadap Cina, yang menurutnya akan mengakhiri perang konyol yang mematikan tersebut.

Bagi banyak pihak di Brussels, pesan tersebut tidak sepenuhnya disambut baik. Pasalnya, komisi Uni Eropa sudah lama mendesak Hungaria dan Slovakia, dua negara UE yang sangat bergantung pada energi Rusia untuk menerapkan sanksi yang ditetapkan UE atas Rusia. Pernyataan Trump membuat Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban dan Perdana Menteri Slovakia Robert Fico merasa tertekan, meskipun banyak yang meragukan Trump akan benar-benar merealisasikan pernyataannya.

Hungaria dan Slovakia di bawah tekanan

Ian Bond, wakil direktur Centre for European Reform, melihat ada ‘jurang' antara retorika Trump dan tindakannya.

"UE telah mengurangi secara drastis ketergantungannya akan minyak dan gas Rusia," jelas Bond pada DW.

Ironisnya, kedua negara yang enggan mengalihkan ketergantungan energi mereka bukan hanya dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, tetapi juga dengan Trump.

"Jika Trump ingin Uni Eropa menghentikan pembelian minyak dari Rusia, maka mendekati sekutu terdekatnya mungkin merupakan langkah yang baik. Namun, saya belum melihat tanda-tanda bahwa dia melakukan hal itu,” tambah Bond.

Selama bertahun-tahun, Komisi Eropa mendesak pemerintah Hungaria dan Slovakia untuk melakukan diversifikasi energi mereka dari minyak dan gas Rusia. Namun progresnya lambat, Hungaria dan Slovakia bersikukuh menuding harga energi yang lebih tinggi serta infrastruktur. Orban terus melindungi proyek-proyek yang didukung Rusia, seperti pembangkit nuklir Paks II di Hungaria selatan, meski menghadapi tantangan hukum dari Brussels.

Bond berargumen surat Trump mencoba mengalihkan tanggung jawab Gedung Putih.

"Sepertinya Trump sedang mencari alasan untuk tidak melakukan apa-apa…seperti halnya saat Trump mengatakan saya berikan waktu dua minggu, dan setelah sebulan lewat Putin tidak juga menghentikan perang. Sekarang Trump mengatakan, ‘saya akan melakukan ini…tapi saya butuh sekutu untuk bertindak terlebih dahulu'.''

Turki di luar kendali Uni Eropa

Banyak petinggi politik Eropa di Brussels meyakini, bahwa tuntutan Trump agar Turki juga menghentikan pembelian energi Rusia sangat sulit terwujud. Sejak 2023, Ankara menjadi pembeli minyak Rusia terbesar ketiga setelah Cina dan India.

Turki belum menunjukkan tanda-tanda akan memutus kerjasama ekonominya dengan Rusia.

Berbeda dengan negara-negara anggota UE, Brussels punya sedikit pengaruh atas Turki. Untuk para diplomat Eropa, Turki menggambarkan jurang perbedaan antara NATO dan UE. Kondisi Trump yang mencakup semua anggota aliansi itu, lebih ambisius daripada yang bisa dilakukan Brussels.

Uni Eropa bisa menekan anggotanya bloknya, tapi UE tidak punya kuasa atas Turki, negara anggota NATO non UE. Sehingga Trump yang menuntut seluruh anggota aliansi NATO untuk mengakhiri ketergantungan atas Rusia, sangat ambisius namun tidak realistis.

Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Retorika versus realita

Bond berpendapat, dengan menetapkan syarat tinggi agar semua anggota NATO menghentikan impor energi Rusia, Trump menciptakan kondisi yang sulit dipenuhi, dan menimpakan kesalahan kepada Eropa. Ini bisa menunda penyelarasan kebijakan AS dengan UE, di saat Brussels sedang menyelesaikan paket sanksi ke-19 terhadap Rusia.

Bond juga menyebut ancaman ekonomi Trump tidak selalu terkait dengan strategi praktis, tapi juga pemerasan.

"Sangat aneh, satu-satunya negara di dunia yang tidak dikenai tarif Trump adalah Rusia... saya tidak melihat alasan mengapa Trump tidak mengenakan tarif pada Rusia,” jelas Bond.

Bagaimana Perang Putin Memengaruhi Ekonomi Dunia

Efek perang Rusia terhadap Ukraina dirasakan di seluruh dunia. Harga makanan dan bahan bakar meningkat di mana-mana. Di beberapa negara kerusuhan pecah akibat naiknya harga barang kebutuhan utama.

Foto: Dong Jianghui/dpa/XinHua/picture alliance

Belanja Semakin Mahal di Jerman

Konsumen di Jerman merasakan kenaikan biaya hidup. Konsekuensi dari perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia mulai terasa. Pada bulan Maret, tingkat inflasi Jerman mencapai level tertinggi sejak 1981. Pemerintah Jerman ingin segera mengembargo batubara Rusia, tetapi masih memperdebatkan pelarangan impor gas dan minyak dari Rusia.

Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance

Antrian Mengisi Bahan Bakar di Kenya

Antrian panjang mobil di SPBU Nairobi. Di Kenya, warga juga merasakan dampak perang di Ukraina. Bahan bakar kian mahal, dan pasokannya terbatas, belum lagi krisis pangan. Duta Besar Kenya untuk PBB Martin Kimani dalam sidang Dewan Keamanan menyatakan keprihatinannya, dan membandingkan situasi di Ukraina timur dengan perubahan yang terjadi di Afrika setelah berakhirnya era kolonial.

Foto: SIMON MAINA/AFP via Getty Images

Siapa Amankan Suplai Gandum ke Turki?

Rusia adalah produsen gandum terbesar di dunia. Karena larangan ekspor dari Rusia, harga roti sekarang naik di banyak tempat, termasuk di Turki. Sanksi internasional telah mengganggu rantai pasokan. Ukraina juga merupakan salah satu dari lima pengekspor gandum terbesar di dunia, tetapi perang dengan Rusia membuat mereka tidak dapat mengirimkan barang dari pelabuhannya di Laut Hitam.

Foto: Burak Kara/Getty Images

Harga Gandum Melonjak di Irak

Seorang pekerja tengah menumpuk karung-karung tepung tergu di pasar Jamila, pasar grosir terpopuler di Baghdad. Harga gandum telah meroket di Irak sejak Rusia menginvasi Ukraina, karena kedua negara tersebut menyumbang setidaknya 30% dari perdagangan gandum dunia. Irak tetap netral sejauh ini, tetapi poster-poster pro-Putin sekarang telah dilarang di negara itu.

Foto: Ameer Al Mohammedaw/dpa/picture alliance

Unjuk Rasa di Peru

Para demonstran bentrok dengan polisi di ibukota Peru, Lima. Mereka memprotes kenaikan harga pangan, satu di antara rangkaian kenaikan harga. Krisis semakin diperburuk dengan adanya perang di Ukraina. Presiden Peru, Pedro Castillo memberlakukan jam malam dan keadaan darurat untuk sementara. Tapi jika peraturan tersebut dicabut, protes akan terus berlanjut.

Foto: ERNESTO BENAVIDES/AFP via Getty Images

Keadaan Darurat di Sri Lanka

Di Sri Lanka, warga turun ke jalan untuk mengekspresikan kemarahan mereka. Beberapa hari lalu, ada yang mencoba menyerbu kediaman pribadi Presiden Gotabaya Rajapaksa. Memuncaknya protes terhadap kenaikan biaya hidup, kekurangan bahan bakar, dan pemadaman listrik, mendorong presiden mengumumkan keadaan darurat nasional, sekaligus meminta bantuan pengadaan sumber daya dari India dan Cina.

Foto: Pradeep Dambarage/Zumapress/picture alliance

Warga Skotlandia Sudah Muak!

Warga di Skotlandia juga memprotes kenaikan harga makanan dan energi. Di seluruh Inggris, serikat pekerja telah mengorganisir demonstrasi untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Brexit telah mengakibatkan kenaikan harga di banyak area kehidupan, dan perang di Ukraina makin memperburuk keadaan.

Foto: Jeff J Mitchell/Getty Images

Harga Ikan Goreng di Inggris Melonjak

Warga Inggris punya alasan untuk khawatir terkait hidangan nasional tercinta mereka "fish and chips". Sekitar 380 juta porsi goreng ikan dan kentang dikonsumsi di Inggris setiap tahun. Tetapi sanksi keras saat ini, berarti harga ikan putih dari Rusia, minyak goreng dan energi, semuanya melonjak naik. Pada Februari 2022, tingkat inflasi Inggris mencapai 6,2%.

Foto: ADRIAN DENNIS/AFP via Getty Images

Peluang Ekonomi bagi Nigeria?

Seorang pedagang di Ibafo, Nigeria, tengah mengemas tepung untuk dijual kembali. Nigeria telah lama ingin mengurangi ketergantungannya pada makanan impor, dan membuat ekonominya lebih tangguh lagi. Orang terkaya di Nigeria Aliko Dangot, baru-baru ini membuka pabrik pupuk terbesar di negara itu, dan berharap memiliki banyak pembeli. Apakah itu sebuah peluang? (kp/as)

Foto: PIUS UTOMI EKPEI/AFP via Getty Images

9 foto

Cara lain menekan Rusia

Bond mengatakan, Eropa masih punya alat untuk menekani Kremlin, misalnya dengan menindak "shadow fleet” (kapal tanker bayangan) - armada kapal tanker tua yang diduga digunakan Rusia untuk menghindari sanksi penjualan minyak.

"Tekanan yang lebih besar terhadap kapal tanker bayangan Rusia menjadi hal yang baik. Inggris telah menjatuhkan sanksi terhadap 70 kapal pekan lalu,” katanya.

Bond ingin melihat UE menekan AS, terutama di sektor minyak. "Perusahaan SLB, yang sebelumnya bernama Schlumberger, terus berinvestasi di Rusia. "Hal itu membantu Moskow mempertahankan kapasitas produksi pada saat kita seharusnya berusaha untuk mengurangi kapasitas tersebut.”

Sementara itu Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri perang. Akhir pekan lalu, Rumania melaporkan drone Rusia memasuki wilayah udaranya, pelanggaran kedua yang terjadi di negara mitra NATO, setelah insiden serupa terjadi kurang dari seminggu lalu di Polandia.

Untuk para analis di Brussels, insiden-insiden ini menggarisbawahi upaya Moskow menyudutkan NATO, agar merespon konflik secara langsung.

Meski secara teoritis Eropa menyambut sikap Trump, tetapi kenyataannya belum berubah: Hungaria dan Slovakia menolak, Turki di luar kendali UE, dan Rusia tidak mau berkompromi.

Untuk pembuat kebijakan di Brussels, kata-kata Trump lebih dipandang sebagai cara untuk menekan internal UE, bukan jaminan dukungan AS atas UE.

Seperti kata Bond, Eropa harus terus berusaha: memotong sumber pendapatan Rusia, menutup celah sanksi yang kerap dimanfaatkan Rusia, dan terus mendorong Gedung Putih bertindak tegas.

Perang di Ukraina tidak ditentukan oleh postingan Trump di Truth Sosial, tetapi oleh kemampuan Eropa menjaga persatuan dan meyakinkan Kremlin bahwa semakin lama perang berlangsung situasi Rusia akan semakin memburuk.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor : Agus Setiawan