Film 'Pengepungan di Bukit Duri' Angkat Isu Pendidikan dan Sosial
Sumber Foto: Good News From Indonesia
Latar Isu

Film 'Pengepungan di Bukit Duri' Angkat Isu Pendidikan dan Sosial

Film 'Pengepungan di Bukit Duri' menghadirkan gambaran mendalam mengenai berbagai isu sosial, dengan fokus utama pada pendidikan. Melalui narasi yang kuat, film ini diharapkan dapat memicu diskusi lebih luas mengenai tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan di Indonesia.

Dengan latar belakang sekolah yang menjadi tempat sebagian besar adegan, film ini menggarisbawahi permasalahan pendidikan yang mendesak. Selain isu pendidikan, film ini juga menyentuh tema-tema sosial lain seperti diskriminasi rasial, trauma kolektif, kekerasan, dan korupsi. Namun, pendidikan tetap menjadi isu sentral yang diangkat dalam cerita.

Sutradara Joko Anwar berpendapat bahwa berbagai budaya yang menghambat kemajuan masyarakat, seperti kekerasan dan korupsi, erat kaitannya dengan kegagalan sistem pendidikan. Film ini menceritakan kisah Edwin, seorang pria keturunan Tionghoa di Jakarta, yang menghadapi masalah diskriminasi dan sentimen rasial. Edwin berkarier sebagai guru di sekolah yang dihuni anak-anak bermasalah, sambil mencari keponakannya yang hilang. Dalam upayanya tersebut, statusnya sebagai orang Tionghoa membawa konsekuensi berat, yang berujung pada tragedi di sekitarnya.

Dalam rangka mempersiapkan film ini, Joko Anwar mengadakan diskusi dengan para pengajar. Ia menyatakan, "Dari diskusi tersebut semua setuju bahwa ini adalah sebuah kegelisahan yang harus disuarakan. Selama ini kita tidak mau membicarakan karena terlalu teralihkan dengan hal-hal yang mungkin bagi bangsa, tidak terlalu penting."

Joko melanjutkan, "Kita terlalu teralihkan dengan hal yang menghibur, tetapi ternyata menjauhkan kita dari tujuan dan cita-cita sebagai bangsa. Oleh karena itu, film tentang gagalnya sistem pendidikan diperlukan sebagai pemicu pembicaraan."

Hana Pitrashata Malasan, yang memerankan tokoh Diana dalam film ini, juga merasa bahwa 'Pengepungan di Bukit Duri' sangat relevan untuk membahas isu pendidikan. Hana, yang berasal dari keluarga pengajar, mengungkapkan bahwa guru sering kali dijadikan kambing hitam atas kegagalan sistem pendidikan. "Padahal sebenarnya mereka itu mungkin salah satu pihak yang sangat ingin memperbaiki dan menolong, tetapi terbatas dengan sistem yang ada," ujarnya.

Dalam film ini, sekolah tempat Edwin bekerja digambarkan sebagai pusat berbagai perilaku negatif, termasuk kekerasan di kalangan siswa, korupsi, dan praktik diskriminasi. Hana menekankan bahwa apa yang ditampilkan dalam film adalah fenomena nyata yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lainnya.

'Pengepungan di Bukit Duri' direncanakan akan tayang di bioskop Indonesia mulai 17 April 2025.