Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT: Puan Maharani Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental Anak
Sumber Foto: MetroTVNews.com
Latar Isu

Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT: Puan Maharani Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental Anak

Ketua DPR RI Puan Maharani memberikan perhatian serius terhadap kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terjadi baru-baru ini. Kasus ini melibatkan seorang siswa berinisial YBR, seorang anak berusia 10 tahun, yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri akibat kekecewaan karena tidak dapat membeli buku tulis dan alat untuk belajar.

Puan menyatakan, "Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada ini merupakan duka yang memilukan dan harus menjadi pembelajaran bagi kita semua." Hal ini diungkapkan pada Rabu, 4 Februari 2026, saat Puan menyoroti pentingnya isu kesehatan dan psikologi anak.

Menurut informasi yang diperoleh, YBR tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun setelah ibunya, seorang janda, tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolahnya. Ibu YBR harus bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menafkahi lima anak, yang membuatnya tidak dapat membeli alat tulis dan buku seharga Rp10.000 saat diminta YBR.

Puan menekankan bahwa kebutuhan dasar anak yang tidak terpenuhi merupakan sebuah teguran bagi negara. Ia menegaskan, program pendidikan pemerintah tidak hanya cukup dengan memberikan layanan sekolah gratis, melainkan juga harus memperhatikan kebutuhan penunjang sekolah, seperti alat tulis yang sering menjadi persoalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

"Program-program pendidikan, terutama beasiswa dan bantuan pendidikan, harus mampu mengatasi persoalan ini," tambah Puan. Ia juga menyarankan agar sekolah-sekolah memetakan latar belakang anak didiknya untuk memastikan setiap kebutuhan pendidikan dapat terpenuhi.

Selain itu, Puan menggarisbawahi pentingnya kesehatan mental anak. "Kasus di NTT ini menunjukkan betapa psikologi anak dapat mempengaruhi karakter dan keputusan mereka. Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian serius," ujarnya.

Puan berharap peristiwa tragis ini dapat menjadi pelajaran dan mendorong pemerintah untuk mengevaluasi sistem pendidikan agar lebih ramah terhadap anak dan mampu menjaga kesehatan mereka secara menyeluruh, termasuk kesehatan mental.

Ia juga mengajak pemerintah untuk lebih meningkatkan jangkauan program-program bantuan sosial di daerah, serta memastikan kepedulian sosial di lingkungan sekolah menjadi bagian dari sistem pendidikan. "Kita perlu melihat persoalan di Ngada secara lebih mendalam. Kasus ini muncul sebagai akibat dari kemiskinan, dan negara harus berupaya menghilangkan akar masalah kemiskinan ini," tegasnya.

Puan menutup pernyataannya dengan harapan agar tidak ada lagi nyawa generasi muda Indonesia yang hilang hanya karena tekanan akibat ketidakmampuan untuk membeli alat tulis dan buku. "Kita harus berkomitmen untuk mengatasi persoalan mendasar ini dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita," pungkasnya.