Kontribusi AdaKami Dorong PDB Indonesia Hingga Rp10,96 Triliun di 2024
Sumber Foto: SWA.co.id
Ekonomi

Kontribusi AdaKami Dorong PDB Indonesia Hingga Rp10,96 Triliun di 2024

Geliat ekonomi digital yang kian dinamis. Kehadiran platform pinjaman daring (pindar) berizin seperti AdaKami tak sekadar menjembatani kebutuhan finansial masyarakat, tapi juga menjadi penggerak nyata roda perekonomian nasional.

Riset terbaru LPEM FEB UI mencatat, sepanjang 2024, kontribusi AdaKami terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sekitar Rp6,95 triliun hingga Rp10,96 triliun, sebuah bukti bahwa inovasi keuangan digital mampu menghadirkan dampak ekonomi yang terukur dan inklusif.

Selama periode analisis, LPEM FEB UI mencatat setidaknya 185 sektor ekonomi mendapat nilai tambah dari aktivitas pembiayaan yang digerakkan oleh AdaKami. Dampak terbesar tercatat pada jasa lembaga keuangan lainnya (21,34%), disusul jasa pendidikan pemerintah (10,03%), serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30%) dampak yang kemudian menjalar ke berbagai sektor lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Wakil Kepala LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, menjelaskan penyaluran pembiayaan oleh AdaKami menciptakan ripple effect yang mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, baik rutin maupun non-rutin.

“Dampak ini kemudian menjalar ke sektor ritel, grosir, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer, memperkuat permintaan barang dan jasa produktif serta menggerakkan aktivitas ekonomi riil, terutama dalam jangka pendek,” kata Mohamad Dian Revindo dalam siaran pers yang diterima SWA.co.id, Rabu (25/2/2026).

Chief of Public Affairs A daKami, Karissa Sjawaldy, menyampaikan komitmen perusahaan untuk terus menghadirkan solusi pembiayaan yang inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. “Kami percaya, akses pembiayaan yang inklusif, dikelola secara prudent dan bertanggung jawab, mampu memberi dampak luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Kontribusi positif dari aktivitas pembiayaan mendorong AdaKami untuk terus menghadirkan layanan berkelanjutan serta meningkatkan literasi keuangan pengguna agar pendanaan yang disalurkan tak hanya membantu masyarakat bertahan dan tumbuh di tengah dinamika ekonomi, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Riset LPEM FEB UI mencatat, pinjaman AdaKami berfungsi sebagai financial bufferyang menjaga konsumsi dan ketahanan finansial rumah tangga saat menghadapi tekanan ekonomi. Tanpa akses ini, 24,51% pengguna mengaku harus menguras tabungan atau menjual aset. Dukungan AdaKami membuat rata-rata pengeluaran tetap di Rp4,8 juta dan tabungan Rp700 ribu per bulan, lebih tinggi dari nonpengguna menunjukkan perannya dalam menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi keluarga.

Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, pendanaan AdaKami turut mendorong usaha mikro. Sebanyak 53,1% pengguna memakainya untuk menambah stok, dan 28,1% mencatat kenaikan omzet. Pembiayaan ini memperluas kapasitas produksi, terutama di sektor perdagangan, kuliner, dan pertanian penggerak utama ekonomi lokal.

Riset LPEM FEB UI menunjukkan 89,2% pengguna AdaKami memiliki literasi keuangan tinggi, menegaskan peran pinjaman daring ini bukan sekadar sumber dana cepat, tetapi bagian dari ekosistem keuangan formal yang memperkuat ketahanan rumah tangga dan literasi finansial nasional.

Meski begitu, masih ada tantangan berupa sikap terlalu percaya diri dan fokus jangka pendek yang berisiko pada gagal bayar. Karena itu, edukasi, transparansi, dan pengawasan perlu diperkuat agar industri pinjaman daring tetap etis, prudent, dan berkelanjutan. (*)