Kontroversi Video Keberagaman Ahok-Djarot: Kritik Terhadap Penggambaran Umat Islam
Sumber Foto: BBC
Latar Isu

Kontroversi Video Keberagaman Ahok-Djarot: Kritik Terhadap Penggambaran Umat Islam

Video kampanye calon gubernur DKI Jakarta, Ahok-Djarot, yang dirilis pada Minggu (09/04), mendapatkan reaksi beragam dari publik. Video berdurasi dua menit ini dianggap oleh sebagian pihak sebagai upaya untuk mempromosikan keberagaman, namun di sisi lain juga dituduh memojokkan umat Islam.

Dalam video tersebut, terlihat adegan unjuk rasa anarkis serta ancaman bom, yang tampaknya merujuk pada serangan bom Thamrin pada Januari 2016. Meskipun pesan keberagaman menjadi fokus utama dalam narasi yang disampaikan, beberapa elemen visual dalam video tersebut memicu kontroversi.

Video ini ditutup dengan kutipan yang dimodifikasi dari Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy: "Jangan tanyakan darimana kau berasal, jangan tanyakan apa agamamu, tapi tanyakan apa yang telah kauperbuat untuk Jakarta."

Reaksi dan Kritik

Kelompok Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) melaporkan video tersebut ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada Senin (10/04), menyebutkan bahwa video ini melanggar aturan kampanye. Salah satu elemen yang dipermasalahkan adalah potongan gambar yang menunjukkan sekelompok orang berpeci hitam dan putih sedang berdemo, di mana ada spanduk bertuliskan 'gayang Cina'. Anggota ACTA, Novel Bamukmin, menilai bahwa visual tersebut dapat dianggap sebagai serangan terhadap umat Islam.

"Ide (keberagaman) itu bagus, tetapi bisa disampaikan tanpa gambar yang kontroversial itu. Potongan durasi antara detik ke-08 hingga ke-13 jelas menyerang Islam," ungkap Novel.

Pembelaan Tim Sukses Ahok-Djarot

Sementara itu, Eva Sundari, anggota tim sukses Ahok-Djarot, menyatakan bahwa video tersebut merefleksikan realitas yang ada. Ia menegaskan bahwa Ahok dan pendukungnya merupakan korban dari politisasi isu SARA.

"Intimidasi dan kekerasan itu adalah realitas. Situasi selama Pilkada menunjukkan bagaimana Jakarta terbelah karena isu SARA. Politisasi agama sangat berbahaya bagi kita semua," ujarnya. Eva menambahkan bahwa pihaknya akan mematuhi arahan dari Bawaslu terkait laporan yang diajukan oleh ACTA.

Pro-Kontra di Media Sosial

Video ini juga memicu perdebatan di media sosial, dengan pendapat yang terbagi. Beberapa pengguna Facebook menganggap video ini mendiskreditkan kelompok tertentu dan berpotensi memecah belah persatuan. Namun, ada pula yang menilai video ini inspiratif dan menggugah semangat kebhinnekaan.

"Merinding sekali saya melihatnya. Sadarlah wahai teman-temanku bahwa kita adalah satu, jika bersatu akan kuat, tetapi jika terkoyak-koyak maka akan lemah kita," tulis salah satu pengguna.

Persaingan Kandidat dalam Merebut Gelar Toleransi

Pengamat politik Ray Rangkuti menilai bahwa baik pasangan Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi tengah bersaing untuk mendapatkan citra sebagai kandidat yang paling toleran dan merangkul keberagaman. Ia menjelaskan bahwa kedua pasangan tersebut berupaya meraih dukungan di tengah isu SARA yang sebelumnya dianggap sensitif.

"Sekarang mereka berlomba-lomba untuk tampil ke tengah. Isu SARA ternyata tanggapannya negatif. Banyak yang tidak mempersoalkan agama. Dengan dukungan dari partai Islam seperti PKB dan PPP, isu agama kini dianggap sudah tidak menjadi masalah lagi," ujar Ray.