Matinya Kepakaran dan Kebenaran di Era Digital
Tujuh tahun lalu, buku berjudul The Death of Expertise karya Tom Nichols menggemparkan dunia literasi dengan argumen bahwa masyarakat kini lebih mendengarkan suara para micro-celebrity di media sosial daripada para ahli yang berkompeten. Dalam versi bahasa Indonesia, buku tersebut dikenal dengan judul Matinya Kepakaran.
Banyak pembaca yang sependapat dengan pandangan Nichols, meskipun ada juga yang menganggapnya sebagai pernyataan yang tidak berdasar. Di dunia maya, beberapa netizen juga mulai menyadari fenomena ini. Seorang pengguna Instagram menuliskan, "Benar juga, ya. Ada orang yang latar belakang keahliannya enggak ada, tapi bisa menanggapi macam-macam isu, bahkan hampir semua isu di media, khususnya yang lagi trending."
Contoh nyata dari fenomena ini dapat dilihat pada seorang 'juragan' kerupuk karak online yang dengan percaya diri mengklaim bahwa kegagalan klub Barcelona di Liga Champions disebabkan oleh perubahan filosofi permainan. Di sisi lain, seorang pengemudi taksi mengungkapkan keraguannya untuk menulis opini karena takut perspektifnya salah, sehingga hanya membagikan tulisan ringan di Facebooknya.
Nichols mencatat bahwa perubahan signifikan telah terjadi pada lanskap opini di era digital. Dulu, hanya sedikit orang yang dapat menyuarakan pendapatnya, sementara kini, profesor dan individu tanpa latar belakang akademis yang kuat dapat berbicara. Akibatnya, pengaruh di media sosial menjadi lebih penting daripada kepakaran. Seorang selebgram dengan banyak pengikut sering kali lebih didengar daripada seorang dokter spesialis yang tidak aktif di media sosial.
Belum reda perdebatan mengenai kepakaran, publik dikejutkan oleh buku terbaru Steven Brill berjudul The Death of Truth, yang menyoroti dampak disrupsi teknologi digital terhadap kebenaran. Dalam wawancara dengan Vanity Fair, Brill menjelaskan, "Jika kita dapat memahami bagaimana kebenaran telah dihancurkan, kita dapat melihat cara memulihkannya. Saya punya motivasi untuk memulihkan itu. Itulah intinya."
Menurut Brill, kombinasi algoritma media sosial dan iklan terprogram telah menciptakan ekosistem di mana masyarakat kesulitan membedakan kebenaran dan kebohongan. "Anda mengakses internet dan jika Anda orang biasa, Anda tidak tahu harus percaya apa," ujarnya. Dalam situasi ini, informasi yang salah bisa diakui sebagai kebenaran jika disampaikan secara terus-menerus, sementara informasi yang benar bisa luput dari perhatian.
Brill berpendapat bahwa meskipun ada upaya untuk mengaburkan kebenaran, hal itu tidak akan sepenuhnya berhasil. "Kebenaran tidak akan benar-benar bisa dikubur dan dikaburkan. Banyak yang percaya, kebenaran akan menemukan jalannya, cepat atau lambat," tutupnya. Sebuah pepatah menyatakan, "Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, bau busuk akan tercium juga," mengingatkan kita bahwa kebenaran pada akhirnya akan terungkap.




