Militer Jerman: Rusia Berpotensi Luncurkan Serangan Terbatas ke Wilayah NATO Kapan Saja
Sumber Foto: Kompas.id
Internasional

Militer Jerman: Rusia Berpotensi Luncurkan Serangan Terbatas ke Wilayah NATO Kapan Saja

Walau perang Ukraina-Rusia berlangsung, Moskwa dinilai berhasil terus menjaga kekuatan militernya.

AP Photo/Dmitri Lovetsky

Oleh Elsa Emiria Leba

07 Nov 2025 20:21 WIB · Internasional

BERLIN, JUMAT — Pejabat militer Jerman terus mengkhawatirkan kemampuan militer Rusia. Moskwa dinilai dapat melancarkan serangan kepada negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO kapan saja. Berlin mulai memperkuat pertahanan.

Kepala Komando Pasukan Gabungan Angkatan Darat Jerman Letnan Jenderal Alexander Sollfrank, memperingatkan, Rusia memiliki kapasitas untuk menyerang NATO. Akan tetapi, keputusan Moskwa bergantung pada postur kemampuan aliansi itu.

”Jika Anda melihat kemampuan dan kekuatan tempur Rusia saat ini, Rusia dapat melancarkan serangan skala kecil terhadap wilayah NATO paling cepat besok. Serangan itu kecil, cepat, terbatas secara regional, Rusia terlalu terikat di Ukraina untuk serangan besar,” tutur Sollfrank dalam konferensi tahunan Bundeswehr di Berlin, Jumat (7/11/2025).

Sollfrank pernah memimpin komando logistik NATO (JSEC) di kota Ulm, Jerman selatan. Sebelumnya, ia telah mengatakan, Rusia bisa melakukan serangan skala besar kepada NATO paling cepat tahun 2029 jika peningkatan persenjataan Moskwa terus berlanjut.

Menurut dia, tiga faktor menentukan langkah Moskwa untuk menyerang NATO. Tiga faktor itu ialah kekuatan militer, rekam jejak militer, dan kepemimpinan Rusia.

”Ketiga faktor ini membawa saya pada kesimpulan bahwa serangan Rusia sangat mungkin terjadi. Apakah itu akan terjadi atau tidak sangat bergantung pada aksi NATO sendiri,” ujar Sollfrank merujuk pada upaya pencegahan NATO.

Namun, Kepala Pertahanan Jerman Carsten Breuer dalam pidatonya menyampaikan, Rusia salah perhitungan karena mengira perang Ukraina-Rusia yang berlangsung sejak 2022 akan cepat berakhir. Jerman terus mempelajari perang di Ukraina untuk mengembangkan pertahanannya sendiri.

”Kita harus mencegah Rusia melakukan kesalahan perhitungan seperti itu lagi. Rusia tidak boleh berasumsi dapat memenangi perang melawan NATO atau satu pun negara NATO,” ujar Breuer.

Presiden Rusia Vladimir Putin sudah membantah adanya niat agresif. Dia mengklaim, invasi besar-besaran ke Ukraina sejak 2022 merupakan upaya pertahanan terhadap ambisi ekspansionis NATO terhadap Rusia.

Kemampuan Rusia

Militer Jerman turut mencatat perkiraan kekuatan militer Rusia sekarang sementara perang Ukraina-Rusia berlangsung. Walau mengalami kemunduran di Ukraina, angkatan udara Rusia tetap mempertahankan kemampuan tempur yang substansial, termasuk kekuatan nuklir dan rudal. Situasi serupa terlihat pada Armada Laut Hitam Rusia.

Angkatan darat Rusia sebaliknya menderita kerugian. Namun, Moskwa telah berniat untuk meningkatkan jumlah pasukan menjadi total 1,5 juta tentara. Rusia juga masih memiliki cukup tank tempur utama.

”Meski terjadi perang di Ukraina, Rusia masih memiliki potensi militer yang sangat besar. Itu berarti Rusia saat ini sudah mampu melancarkan serangan terbatas terhadap wilayah NATO,” tambah Sollfrank, dilansir Politico.

Sollfrank mencatat, taktik perang hibrida Moskwa, termasuk serangan pesawat nirawak, mesti dipandang sebagai elemen yang saling terkait dari strategi perang Rusia. Moskwa sering menggunakan pesawat nirawak dalam perang di Ukraina.

”Rusia menyebutnya perang nonlinier. Dalam doktrin mereka, ini adalah perang sebelum menggunakan senjata konvensional. Dan mereka mengancam akan menggunakan senjata nuklir yang merupakan perang dengan intimidasi,” kata Sollfrank.

Tujuan Rusia, tambahnya, adalah untuk memprovokasi dan mengukur respons NATO. ”Untuk menumbuhkan rasa tidak aman, menyebarkan ketakutan, menimbulkan kerusakan, memata-matai, dan menguji ketahanan aliansi,” ujarnya.

Persiapan Jerman

Kewaspadaan Jerman pada kekuatan Rusia telah muncul sejak perang Ukraina-Rusia pecah. Kewaspadaan ini semakin bertambah setelah sejumlah pesawat nirawak baru-baru ini melintasi wilayah udara Polandia.

Pada awal tahun 2025, Jerman melonggarkan rem utang untuk memenuhi target dari belanja militer inti baru NATO sebesar 3,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Langkah ini akan meningkatkan belanja pertahanan Berlin dari 100 miliar euro pada 2025 menjadi 160 miliar euro pada 2029.

Selain itu, Jerman berencana untuk meningkatkan kapasitas angkatan bersenjata. Berlin akan menambah 60.000 tentara sehingga total personel militer menjadi sekitar 260.000 tentara.

Dalam konferensi di Berlin, Sollfrank mempresentasikan ”Rencana Operasi Jerman”. Rencana pertahanan nasional yang baru ini selaras dengan strategi regional NATO.

Rencana tersebut mengatur bagaimana 800.000 pasukan sekutu dapat bergerak melalui Jerman dalam 180 hari untuk memperkuat sayap timur NATO jika perang mengancam. ”Ini bukan rencana perang, melainkan rencana pencegahan perang pada intinya,” kata Sollfrank.

Di tengah upaya Jerman, Amerika Serikat justru tengah meninjau ulang kekuatan militernya di Eropa. Baru-baru ini, Washington menarik sejumlah pasukan dari Romania, yang berbatasan dengan Ukraina, sehingga memicu kekhawatiran penarikan pasukan AS di wilayah lainnya. Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan pengalihan pasukan ke tantangan lain, seperti China.

”Bahkan, dengan penyesuaian ini, postur pasukan AS di Eropa tetap lebih besar daripada sebelumnya selama bertahun-tahun. Masih ada lebih banyak pasukan AS di benua ini dibandingkan sebelum tahun 2022,” ujar Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berusaha menenangkan dalam konferensi pers di Bucharest. (AFP/Reuters)

NATO Eropa perang ukraina-rusia moskwa rusia jerman Pakta pertahanan atlantik utara Alexander Sollfrank ukraina Amerika Serikat donald trump pertahanan nato romania belanja militer

Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba

|

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H

|

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase