Tragedi Pembantaian 'Dukun Santet' di Banyuwangi: Jejak Luka 25 Tahun Kemudian
Sumber Foto: BBC
Latar Isu

Tragedi Pembantaian 'Dukun Santet' di Banyuwangi: Jejak Luka 25 Tahun Kemudian

Lebih dari dua dekade yang lalu, Banyuwangi dan beberapa kota di Jawa Timur menjadi saksi bisu dari pembantaian yang menargetkan orang-orang yang dituduh sebagai 'dukun santet'. Antara Februari 1998 hingga Oktober 1999, sedikitnya 250 orang menjadi korban dalam serangkaian aksi pembunuhan yang disebut sebagai tindakan 'sistematis' dan 'meluas'. Hingga kini, keluarga korban masih terhantui oleh trauma dan stigma, meskipun pemerintah telah berjanji untuk memulihkan keadaan.

Konflik Sosial di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik

Tragedi ini tidak dapat dipisahkan dari konteks politik dan ekonomi yang melanda Indonesia saat itu, termasuk jatuhnya Presiden Suharto. Pada masa-masa tersebut, ketakutan dan kepanikan di masyarakat meningkat, menyebabkan berbagai isu menyeramkan merebak. Orang-orang yang tidak bersalah, termasuk guru agama dan individu dengan gangguan mental, juga menjadi sasaran kekerasan.

Penyelidikan dan Penuntasan Kasus

Setelah peristiwa tersebut, upaya hukum dilakukan, namun sering kali tidak menyentuh akar permasalahan. Pada 2015, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memulai penyelidikan yang menemukan adanya pola perencanaan dan propaganda untuk menggerakkan massa. Meskipun hasil penyelidikan diserahkan ke Kejaksaan Agung pada 2019, tidak ada langkah konkret yang diambil untuk menindaklanjuti kasus ini.

Pengakuan dan Janji Pemerintah

Pada Januari 2023, Presiden Joko Widodo mengakui dan menyesali pelanggaran HAM berat yang terjadi, termasuk tragedi di Banyuwangi. Meskipun pemerintah berjanji untuk menyelesaikan kasus ini melalui pendekatan non-yudisial, hingga Mei 2023, tidak ada langkah nyata yang terlihat untuk merehabilitasi korban dan keluarganya.

Kisah Keluarga Korban

Salah satu kisah yang mencolok datang dari Sari, yang ayahnya dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Ia menceritakan bagaimana stigma tersebut masih membekas dalam hidupnya. Sejak kejadian itu, keluarganya mengalami perubahan drastis dalam kehidupan, diliputi rasa sakit dan kemarahan yang berkepanjangan. Begitu juga Dedy, yang ayahnya menjadi korban pembunuhan serupa, merasa kesedihan yang mendalam dan menilai bahwa tindakan hukum terhadap para pelaku tidak pernah memadai.

Kesimpulan

Tragedi pembantaian dukun santet di Banyuwangi menyoroti pelanggaran hak asasi manusia yang masih memiliki dampak hingga kini. Meski pemerintah berusaha untuk memulihkan keadaan, langkah-langkah konkret sangat diperlukan untuk memberikan keadilan bagi korban dan keluarga mereka. Proses penyelesaian yang transparan dan akuntabel menjadi harapan bagi banyak pihak untuk menghentikan siklus stigma dan trauma yang berkepanjangan.