Tren Penurunan Penonton Televisi di Indonesia dan Dampak Digitalisasi
Sumber Foto: Kompasdata
Hiburan

Tren Penurunan Penonton Televisi di Indonesia dan Dampak Digitalisasi

Latar News - Televisi merupakan salah satu sarana hiburan dan sumber informasi yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Televisi menjadi media yang menyajikan beragam program, mulai dari berita, hiburan, hingga tayangan edukatif. Televisi mampu menyampaikan informasi secara menarik dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan usia. Di banyak daerah, televisi bahkan masih menjadi media yang paling mudah diakses dan dipercaya sebagai sumber informasi mengenai peristiwa nasional maupun internasional.

Berdasarkan data tiga tahunan dari BPS, persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang menonton siaran televisi dalam seminggu terakhir dalam kurun waktu 2018 hingga 2024, terlihat bahwa jumlah penonton televisi di Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018, hampir seluruh provinsi mencatat angka di atas 90 persen, terutama di wilayah Jawa dan Sumatera. DKI Jakarta mencapai 97,26 persen pada 2018 dan menurun menjadi 80,06 persen pada 2024. Jawa Barat turun dari 95,97 persen menjadi 78,88 persen, sedangkan Jawa Timur dari 94,95 persen menjadi 72,8 persen. Penurunan juga terjadi di luar Pulau Jawa, seperti di Riau yang turun dari 94,89 persen menjadi 68,94 persen, serta Sulawesi Selatan dari 92,21 persen menjadi 65,05 persen. Meskipun demikian, pada tahun 2024 persentasenya masih tergolong tinggi di banyak provinsi, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat yang rata-rata berada pada kisaran 70 hingga 80 persen.

Penurunan ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi media di masyarakat. Perkembangan teknologi digital dan meningkatnya penggunaan internet membuat masyarakat memiliki banyak pilihan alternatif hiburan dan informasi, seperti media sosial, platform streaming, dan layanan video berbasis internet. Kehadiran telepon pintar yang semakin terjangkau juga memudahkan masyarakat untuk mengakses konten kapan saja dan di mana saja, sehingga ketergantungan terhadap televisi konvensional perlahan berkurang, terutama di kalangan generasi muda.

Jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian barat, persentase penonton televisi di Indonesia bagian timur cenderung lebih rendah. Pada tahun 2024, Nusa Tenggara Timur tercatat sebesar 31,47 persen, Maluku 40,7 persen, Papua Barat 31,73 persen, Papua Selatan 25,75 persen, Papua Tengah 34,31 persen, dan Papua Pegunungan bahkan hanya 16,96 persen. Sejak 2018 pun beberapa wilayah di Papua sudah menunjukkan angka yang relatif rendah, seperti Papua sebesar 47,98 persen yang kemudian turun menjadi 35,25 persen pada 2021 sebelum naik menjadi 49,26 persen pada 2024. Data tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara wilayah barat dan timur Indonesia dalam hal konsumsi siaran televisi.

Rendahnya angka penonton televisi di Indonesia bagian timur dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Kondisi geografis yang didominasi pegunungan, kepulauan, dan wilayah terpencil menyulitkan pembangunan infrastruktur penyiaran sehingga jangkauan sinyal televisi tidak merata. Selain itu, akses listrik di beberapa daerah masih terbatas atau belum stabil, sehingga masyarakat tidak dapat menonton televisi secara rutin. Faktor ekonomi juga berpengaruh terhadap kepemilikan perangkat televisi maupun perangkat pendukung siaran digital. Di samping itu, proses peralihan dari siaran analog ke digital membutuhkan perangkat tambahan seperti set top box yang belum tentu dimiliki semua rumah tangga. Semua faktor tersebut turut memengaruhi rendahnya persentase penonton televisi di kawasan Indonesia bagian timur. (Litbang Kompas/AAN)