Trump Ancam Sekutu NATO Terkait Penolakan Akses Pangkalan untuk Serang Iran
Ringkasan Berita:
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras kepada sekutu-sekutu NATO yang menolak memberikan akses pangkalan militer untuk menyerang Iran.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz, menandai retaknya hubungan Washington dengan sejumlah mitra Eropa di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Donald Trump terlihat marah ketika membahas negara-negara NATO yang menolak memberi izin penggunaan pangkalan militer mereka untuk menyerang Iran.
TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu guncangan diplomatik hebat di internal NATO setelah melontarkan ancaman keras kepada negara-negara sekutu Eropa.
Trump mengancam akan memutus semua hubungan dagang dengan Spanyol dan menyerang integritas Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, akibat penolakan mereka memberikan akses pangkalan militer untuk operasi serangan ke Iran.
Ketegangan ini memuncak saat Trump bertemu dengan Kanselir Jerman yang baru, Friedrich Merz.
Dalam pertemuan tersebut, Trump secara terbuka mengekspresikan kemarahannya terhadap negara-negara yang dianggap tidak kooperatif dalam mendukung langkah militer Washington di Timur Tengah.
"Sejumlah sekutu Eropa tidak cukup berkontribusi dalam belanja pertahanan dan tidak mendukung langkah militer kami. Mereka sangat tidak kooperatif," tegas Trump.
Serangan Verbal terhadap Spanyol dan Inggris Spanyol menjadi sasaran utama kemarahan Trump.
Ia bersumpah akan memutuskan seluruh perjanjian perdagangan dengan Madrid sebagai bentuk balasan atas penolakan izin penggunaan pangkalan militer.
Tak hanya Spanyol, Trump juga melancarkan kritik tajam kepada PM Inggris Keir Starmer.
Hubungan keduanya yang sebelumnya hangat kini retak setelah Starmer melarang penggunaan pangkalan militer Inggris dalam gelombang pertama serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
“Inilah yang kita hadapi, ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” sindir Trump merujuk pada pemimpin legendaris Inggris era Perang Dunia II.
Respons Starmer: "Bukan Perubahan Rezim dari Langit"
Menanggapi tekanan Washington, PM Keir Starmer menunjukkan sikap tegas dalam pidatonya di Parlemen Inggris.
Ia menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Inggris tidak akan didikte oleh kepentingan sepihak negara lain yang berisiko memicu konflik lebih luas.
“Pemerintah ini tidak percaya pada perubahan rezim dari langit. Adalah tugas saya untuk menilai apa yang menjadi kepentingan nasional Inggris, dan saya berdiri teguh pada keputusan itu,” tegas Starmer.




