Trump Perintahkan Rencana Invasi Greenland, NATO Bahas Misi Pengamanan Arktik
Sumber Foto: Kompas.id
Internasional

Trump Perintahkan Rencana Invasi Greenland, NATO Bahas Misi Pengamanan Arktik

NATO didorong meluncurkan misi ke Greenland sebelum dicaplok Trump. Saat ini, NATO masih mengajak AS untuk membahas keamanan Arktik secara keseluruhan.

AFP

Oleh Luki Aulia

12 Jan 2026 11:00 WIB · Internasional

BERLIN, SENIN — Tekad Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mencaplok Greenland semakin kuat. Bahkan, Trump sudah memerintahkan militer AS untuk menyusun rencana invasi ke Greenland. Sementara itu, negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO masih berdiskusi tentang strategi yang harus diambil untuk mencegah langkah Trump sambil berunding dengan AS.

Kanselir Jerman Friedrich Merz masih berharap AS akan terus melindungi Greenland bersama dengan Denmark. Cara keterlibatan AS di Greenland jadi bahasan pertemuan NATO. "Kami sedang melakukan diskusi yang sangat rinci dengan pemerintah Denmark dan hanya ingin bekerja sama untuk meningkatkan situasi keamanan bagi Greenland," ujarnya di sela lawatan di Ahmedabad, India, Senin (12/11/2026).

Ia berharap AS terlibat dalam perundingan yang disebutnya akan berlangsung sampai beberapa pekan mendatang itu. Di Berlin, Juru Bicara Pemerintaha Berlin membenarkan ada pembahasan di NATO soal keamanan wilayah Akrtika.

Bersama Belgia dan Swedia, Jerman mendesak NATO segera menjalankan misi ke wilayah Arktik demi memperkuat keamanan dan mencegah Trump yang mau mengambil alih kendali atas Greenland. Jika NATO tak segera bertindak, nasibnya akan berada di ujung tanduk. ”Kita harus bekerja sama menunjukkan persatuan dan kekuatan,” kata Menteri Pertahanan Belgia Theo Francken.

Trump bersikeras ingin memiliki Greenland dengan alasan agar Greenland tidak diambil alih oleh Rusia atau China di masa depan. Trump juga berkali-kali mengatakan, kapal-kapal Rusia dan China sudah beroperasi di dekat Greenland.

Keyakinan Trump soal pergerakan kapal China dan Rusia di dekat Greenland itu sudah berulang kali dibantah Eropa karena tidak ada buktinya. Data pelacakan kapal dari MarineTraffic dan LSEG menunjukkan tidak ada kehadiran kapal China atau Rusia di dekat Greenland.

Harian Daily Mail di Inggris menyebutkan, Trump sudah memerintahkan Komandan Operasi Khusus Gabungan (JSOC) untuk menyusun rencana ke Greenland. Setelah berhasil menginvasi Venezuela, 3 Januari 2026, para pendukung kebijakan garis keras yang berada di sekitar Trump dilaporkan ingin bergerak cepat merebut Greenland. Namun, pemimpin JSOC itu tidak setuju karena langkah itu melanggar hukum dan tidak akan mendapat dukungan Kongres AS.

”Kita akan melakukan sesuatu di Greenland, suka atau tidak suka. Jika kita tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland dan kita tidak bisa punya Rusia atau China sebagai tetangga. Saya ingin membuat kesepakatan dengan cara yang mudah. Akan tetapi, jika tidak bisa, kita akan mengambil cara yang sulit,” kata Trump di Gedung Putih, Jumat.

Komentar Trump itu menuai kecaman dari negara-negara di Eropa. Mereka khawatir, jika Trump benar-benar menginvasi Greenland, selesailah sudah NATO.

Harian Bloomberg News menyebutkan, sekelompok negara Eropa, yang dipimpin oleh Inggris dan Jerman, sedang membahas rencana meningkatkan kehadiran militer mereka di Greenland. Ini untuk menunjukkan kepada Trump bahwa Eropa serius menjaga keamanan Arktik.

Jerman akan mengusulkan pembentukan misi NATO gabungan untuk melindungi Arktik. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mendesak agar masalah keamanan di Atlantik Utara ini segera dibahas dalam kerangka aliansi NATO.

Sementara Belgia menyarankan misi Baltic Sentry dan Eastern Sentry NATO yang bisa jadi model untuk Arctic Sentry. Ini menggabungkan pasukan dari beberapa negara dengan menggunakan pesawat nirawak, sensor, dan teknologi lainnya untuk memantau daratan dan lautan.

Nasib NATO

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Jumat, membahas upaya memperkuat keamanan Arktik dengan Menlu AS Marco Rubio. NATO berupaya mengalihkan minat AS di Greenland dengan menekankan strategi keamanan wilayah Arktik secara keseluruhan dan dilakukan secara bersama-sama.

Ini demi mencegah AS menginvasi Greenland yang masuk dalam wilayah otonom Denmark. AS dan Denmark sama-sama negara anggota NATO. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen sudah memperingatkan, invasi AS ke Greenland akan mengakhiri NATO yang sudah berusia 76 tahun itu. Jerman dan Swedia mendukung Denmark.

”Tatanan dunia yang berbasis aturan dalam kondisi paling terancam saat ini. AS seharusnya berterima kasih kepada Denmark karena sudah jadi sekutu yang sangat setia selama bertahun-tahun,” kata Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson.

Yang dimaksud Kristersson adalah AS sudah hadir di Greendland, khususnya di pangkalan militer Pituffik. Semasa Perang Dunia II, AS mengirimkan pasukan untuk mempertahankan Greenland setelah Denmark jatuh ke tangan Nazi Jerman. Sekitar 150 personel AS ditempatkan secara permanen di pangkalan itu.

Selama Perang Dingin, AS menempatkan hingga 6.000 personel di seluruh Greenland. Alasannya, pada waktu itu, karena khawatir rudal Soviet akan melintasi Greenland dalam perjalanannya ke Amerika Utara. Berdasarkan perjanjian 1951, AS dapat dengan mudah memberi tahu Denmark bahwa mereka kembali mengirim lebih banyak pasukan.

Untuk memperkuat pertahanan udara, Swedia akan menginvestasikan 1,6 miliar dolar AS. Uang itu akan dialokasikan untuk sistem pertahanan udara berbasis darat. Pada November 2025, Swedia mengumumkan sudah menghabiskan anggaran sekitar 366 juta dolar AS untuk pembelian rudal jarak pendek permukaan ke udara IRIS-T untuk melindungi diri dari rudal, pesawat nirawak, dan pesawat tempur.

Ini gara-gara invasi Rusia ke Ukraina dan hubungan AS dan NATO yang kian tegang gara-gara Greenland. Jerman juga menganggarkan 59 miliar dolar AS untuk pengeluaran pertahanan baru.

Wadephul mengingatkan saudara-saudaranya di Eropa bahwa keamanan di Arktik menjadi semakin penting dan bagian dari kepentingan bersama di NATO. Jika Trump memang khawatir pada Rusia atau China, seharusnya dibicarakan dan dicarikan solusinya bersama-sama. Apa pun hasil pembahasannya, masa depan Greenland tetap harus diputuskan oleh rakyat Greenland dan Denmark.

Pemimpin tujuh negara Eropa, termasuk Perancis, Inggris, Jerman, dan Italia, sudah menandatangani surat yang menyatakan bahwa hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan masa depan Greenland.

Panglima Tertinggi Sekutu NATO Jenderal Alexus Grynkewich menegaskan tidak ada ancaman langsung terhadap wilayah NATO dan tidak ada krisis di NATO. Namun, ia mengakui kapal-kapal Rusia dan China pernah terlihat berpatroli bersama di pantai utara Rusia dan dekat Alaska serta Kanada. Ini membenarkan pernyataan Trump.

Grynkewich menduga Rusia dan China bekerja sama guna mendapatkan akses yang lebih besar ke Arktik seiring dengan mencairnya es akibat pemanasan global. ”Kami siap mempertahankan setiap inci wilayah NATO,” kata Grynkewich di Finlandia. (REUTERS/AFP/AP)

AS - Greenland kekayaan mineral greenland pakta pertahanan antlantik utara Greenland Presiden AS Donald Trump utama

Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia

|

Editor:

Nur Hidayati

|

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto