Ukraina Siap Tarik Lamaran NATO demi Jaminan Keamanan Barat
Sumber Foto: Kompas.id
Internasional

Ukraina Siap Tarik Lamaran NATO demi Jaminan Keamanan Barat

Ukraina menginginkan perjanjian pertahanan bilateral yang mengikat dengan Amerika Serikat dan Eropa.

AFP/Biro Pers Pemerintah Jerman/Guido Be

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

15 Des 2025 10:30 WIB · Internasional

BERLIN, SENIN — Ukraina menawarkan membatalkan pendaftaran ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO. Sebagai gantinya, Ukraina mengharapkan jaminan keamanan dari negara-negara Barat terhadap risiko serangan Rusia.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Berlin, Jerman, Minggu (14/12/2025) malam atau Senin (15/12/2025) dini hari waktu Indonesia. Ia bertemu dengan Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat untuk Ukraina Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.

Pertemuan itu adalah rangkaian pembicaraan untuk menindaklanjuti berkas tawaran perdamaian dari Presiden AS Donald Trump. Ada 20 poin di dalamnya yang belum semuanya disepakati oleh para pihak.

Selama ini, Ukraina berpendapat hanya dengan bergabung dengan NATO keselamatan mereka bisa terjamin. Pasal 5 Piagam NATO menyatakan, jika satu anggota diserang, anggota-anggota lain wajib turun tangan untuk membela.

Presiden Rusia Vladimir Putin yang memerintahkan pasukan Rusia menginvasi Ukraina sejak 24 Februari 2022 berkali-kali mengatakan tidak menginginkan NATO mendekati perbatasan Rusia. Tari-menarik isu keamanan ini yang membuat perundingan damai Rusia dengan Ukraina alot.

Baca Juga Trump Muak dengan ”Poco-poco” Perdamaian Ukraina-Rusia

Dalam pertemuan yang dimediasi oleh Kanselir Jerman Friedrich Merz itu, Zelenskyy akhirnya mengutarakan kemauan membatalkan lamaran masuk NATO. Syaratanya, AS dan negara-negara Barat harus merevisi proposal perdamaian.

Gagasan yang diajukan selama ini dianggap kurang adil oleh Ukraina. Kyiv keberatan menyerahkan lima wilayah yang diduduki oleh Rusia selama perang, yaitu Semenanjung Crimea, Luhansk, Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson. Sebaliknya, Rusia menginginkan pasukan Ukraina meninggalkan 10 persen wilayah Donetsk yang masih mereka kuasai.

”Pembicaraan ini belum selesai. Akan berlanjut pada Senin dan kemungkinan ada dokumen yang dibuat,” kata Dmytro Lytvyn, penasihat Zelenskyy.

Zona penyangga

Zelenskyy dalam jumpa pers menuturkan, ia mengharapkan perjanjian bilateral yang mengikat antara Ukraina dengan AS maupun Ukraina dengan negara-negara Eropa. Tidak apa-apa jika Ukraina tidak masuk NATO, selama ada perjanjian pertahanan yang komprehensif dengan Barat.

”Ini tawaran yang sangat murah hati dari Ukraina karena kita sudah berkompromi terlalu banyak,” kata Zelenskyy.

Ukraina tidak mau mundur dari Donetsk. Apabila permintaan Rusia bahwa Donetsk menjadi zona penyangga, harus ada kesepakatan dulu mengenai aparat yang akan berpatroli di sana untuk menjaga keamanan.

”Jika niatnya membuat zona penyangga, kenapa pasukan kami yang harus mundur, sementara pasukan Rusia tetap berada di sana?” ujar Zelenskyy.

Ia juga mengkritik Putin tidak berniat melakukan perundingan damai. Militer Rusia tetap menggempur Ukraina di tengah proses perundingan, padahal semestinya mempraktikkan gencatan senjata yang dimediasi oleh Trump.

Dilansir dari harian Rusia, Kommersant, penasihat Putin, Yuri Ushakov, mengatakan, apabila perundingan damai tercapai, polisi dan Garda Nasional Rusia akan tetap berada di Donetsk. Mereka akan berpatroli di zona penyangga tersebut.

Ushakov mengatakan, Witkoff dan Kushner sudah bertemu dengan Putin sebelum mereka berangkat ke Jerman. Kedua utusan Trump itu, menurut Ushakov, sepakat dengan keinginan Putin.

Baca Juga Perempuan dalam Pusaran Perang

”Oleh sebab itu, semua usulan dari Ukraina atau Eropa tidak akan berpengaruh karena dari AS memahami posisi kita,” ujarnya.

Bagi Eropa, menghentikan Rusia adalah hal penting. Jika Ukraina jatuh, tidak ada jaminan Rusia menghentikan invasi atas negara-negara bekas anggota Soviet. Konflik tidak akan selesai.

Pada saat yang sama, Eropa juga tidak bisa berharap terlalu banyak dengan AS di bawah kepresidenan Trump. Jerman, Perancis, dan Inggris yang maju untuk menyokong Ukraina demi kestabilan Eropa secara lebih luas.

Tuduhan Eropa itu dibantah oleh Putin. Ia mengatakan, tidak berminat untuk mencaplok negara-negara eks Soviet, seperti Moldova, Georgia, Lituania, Latvia, dan Belarus. Selain Rusia, ada delapan negara eks Soviet di Eropa dan enam di Asia Tengah.

Berlanjut

Menurut Direktur Kajian Pertahanan Institut Cato di AS, Justin Logan, perubahan sikap Ukraina ini tidak akan mengganggu berjalannya perundingan damai. Ini merupakan langkah yang diambil Ukraina untuk menyikapi berbagai tawaran dengan waras.

Ia menjelaskan, sejak awal, keinginan Ukraina bergabung dengan NATO tidak masuk akal. Ada pemahaman bersama NATO dengan Rusia bahwa pakta tersebut tidak akan meluaskan wilayah ke timur yang berbatasan langsung dengan Rusia. Oleh sebab itu, dalam perundingan tersebut, sejatinya tidak pernah ada pilihan bagi Ukraina untuk bergabung dengan NATO.

”Mengganjar Rusia bisa dilakukan dengan cara lain, misalnya dengan menjatuhkan lebih banyak sanksi dan mengirim lebih banyak bantuan ke Ukraina,” kata Logan.

Baca Juga Jerman: Rusia Mampu Serang NATO Kapan Saja

Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai isi pertemuan di Berlin itu. Sejumlah pengamat isu Ukraina menduga, AS akan memberi bantuan keamanan lebih banyak untuk Ukraina.

”Mungkin yang akan ditawarkan Trump adalah menjaga keamanan angkasa Ukraina dengan patroli pesawat tempur atau setidaknya menggunakan pesawat nirawak secara rutin,” kata Brett Bruen, pemimpin perusahaan konsultasi Global Situation Room. (AP/AFP/REUTERS)

Pakta pertahanan atlantik utara NATO ukraina rusia perang ukraina Amerika Serikat Volodymyr Zelenskyy Vladimir Putin donald trump

Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar

|

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H

|

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan