Deng Ical Menyoroti Perubahan Fokus Forum Board of Peace dari Gaza ke Isu Timur Tengah
Sumber Foto: Berita Kota Makassar
Latar Isu

Deng Ical Menyoroti Perubahan Fokus Forum Board of Peace dari Gaza ke Isu Timur Tengah

MAKASSAR, BKM - Dr. Syamsu Rizal MI, yang dikenal sebagai Deng Ical dan merupakan politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), mengungkapkan latar belakang bergabungnya Indonesia dalam forum internasional Board of Peace. Ia menjelaskan bahwa keputusan ini didasari oleh komitmen Indonesia untuk mendorong perdamaian di Gaza, Palestina.

Pernyataan tersebut disampaikan Deng Ical dalam sebuah acara silaturahmi yang juga diisi dengan buka puasa bersama di halaman Kantor DPC PKB Makassar pada Senin, 2 Maret. Acara ini dihadiri oleh berbagai organisasi mahasiswa dan sosial, termasuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), dan Forum Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat Makassar, serta perwakilan media.

"Karena untuk perdamaian Gaza, maka Indonesia yang angkat tangan untuk bergabung," ujar Deng Ical.

Anggota Komisi I DPR RI ini menjelaskan bahwa gagasan pembentukan Board of Peace muncul sebagai respons terhadap berbagai resolusi yang dihasilkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai belum mampu menghentikan konflik berkepanjangan di Gaza. Menurutnya, banyak sidang dan resolusi PBB yang berakhir pada kebuntuan politik, di mana hak veto negara-negara besar di Dewan Keamanan PBB menjadi salah satu faktor penghambat.

"Resolusi PBB sering tidak mampu mengubah keadaan di lapangan. Karena itu, muncul inisiatif untuk membentuk forum baru yang diharapkan lebih efektif," jelas mantan Wakil Wali Kota Makassar tersebut.

Deng Ical melanjutkan dengan menjelaskan bahwa Indonesia melihat forum ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi diplomasi dalam mendukung kemerdekaan Palestina, sesuai dengan amanat konstitusi UUD 1945 yang menekankan penghapusan penjajahan di seluruh dunia. Forum ini sebelumnya dihadiri oleh sejumlah tokoh dunia, termasuk mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, serta Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, seiring dengan waktu, terjadi perubahan arah dalam pembahasan forum. Deng Ical mencatat bahwa fokus awal yang semula tertuju pada perdamaian Gaza kini mulai melebar menjadi isu yang lebih umum terkait stabilitas kawasan Timur Tengah. "Kita tentu kaget karena fokusnya berubah," ujar Deng Ical.

Ia juga mengungkapkan adanya kesepakatan damai yang sempat dibicarakan, tetapi konflik di lapangan masih terus berlanjut. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas forum dalam menekan agresi serta memastikan implementasi kesepakatan.

Dari sudut pandang legislator dari Dapil Sulsel 1 ini, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut pernah dibahas di DPR RI, khususnya mengenai urgensi dan arah kebijakan luar negeri Indonesia. Menurutnya, secara prinsip, bergabung dalam forum tersebut tidaklah salah karena niat awalnya jelas untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan memperkuat diplomasi internasional.

"Awalnya benar sekali, untuk memerdekakan Palestina. Karena selama ini, pintu-pintu diplomasi yang kuat terasa belum cukup," tegasnya. Namun, ia mengingatkan agar Indonesia tetap konsisten agar tujuan awal tidak melenceng, terutama dengan momentum penting seperti resolusi yang ditargetkan selesai pada 15 Januari lalu, namun prosesnya tidak berjalan sesuai harapan.

Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling vokal mendukung kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional. Pemerintah Indonesia secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan, pembukaan akses kemanusiaan, serta solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalan damai permanen. Deng Ical menegaskan bahwa apapun bentuk forum internasional yang diikuti Indonesia, komitmen terhadap perdamaian Gaza dan kemerdekaan Palestina harus tetap menjadi prioritas utama. "Jangan sampai tujuan awal kita untuk Gaza dan kemerdekaan Palestina justru kabur di tengah jalan," pungkas Deng Ical.