Film Na Willa: Menyentuh Isu Rasisme dan Kehidupan Anak di Surabaya
Pengantar Film Na Willa
Setelah sukses dengan film Jumbo pada Lebaran tahun lalu, sutradara Ryan Adriandhy kembali menghadirkan sebuah karya baru berjudul Na Willa. Film ini merupakan adaptasi dari buku karya Reda Gaudiamo dengan judul yang sama dan diproduksi oleh Visinema Studio. Na Willa mengisahkan kehidupan seorang anak perempuan yang penuh dengan keajaiban dan tantangan.
Sinopsis Cerita
Film Na Willa berlatarkan tahun 1960-an di Krembangan, Surabaya, dan mengikuti kisah seorang anak perempuan bernama Na Willa, yang diperankan oleh Luisa Adreena. Willa adalah anak semata wayang dari pasangan Marie dan Paul, yang biasa ia panggil Mak dan Pak. Dalam kesehariannya, Willa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan seringkali pertanyaan-pertanyaannya mencerminkan pandangan unik anak-anak terhadap dunia.
Tokoh dan Isu Sosial
Meskipun film ini dikemas dengan elemen yang menghibur, Na Willa juga menyentuh berbagai isu sosial yang relevan. Berikut adalah tiga karakter yang mewakili isu-isu tersebut:
- Na Willa dan Rasisme: Sejak era 1960-an hingga kini, sentimen rasisme terhadap masyarakat Tionghoa tetap ada. Dalam film, Na Willa, sebagai anak keturunan Tionghoa-Ambon, mengalami perlakuan rasis dari teman-teman sekolahnya. Meskipun terkesan ringan, adegan ini menggambarkan bagaimana diskriminasi telah ada sejak lama, tidak hanya mempengaruhi orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
- Dul dan Kecelakaan: Dul, yang diperankan oleh Azamy Syauqi, adalah salah satu teman dekat Willa dengan karakter yang petualang. Ketika Dul mengajak Willa untuk melihat kereta, dia akhirnya pergi sendiri dan mengalami kecelakaan yang mengubah hidupnya. Kecelakaan ini membawa pesan tentang pentingnya keselamatan dan dampak dari keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang.
- Farida dan Kebudayaan Keluarga: Farida, yang diperankan oleh Freya Mikhayla, memiliki banyak saudara di rumahnya dan menjadi jembatan bagi penonton untuk melihat dinamika keluarga. Dalam satu adegan, ketika Farida mengajak Willa ke rumahnya dan membahas pernikahan kakaknya, ia menunjukkan bagaimana pernikahan merupakan momen emosional yang melibatkan banyak orang. Reaksi Mbak Tin, kakaknya yang menangis sebelum hari pernikahan, menyoroti tradisi dan harapan yang ada dalam budaya mereka.
Kesimpulan
Film Na Willa menawarkan lebih dari sekadar hiburan, tetapi juga menggugah kesadaran akan isu-isu sosial yang relevan. Melalui karakter-karakter yang beragam, film ini menciptakan ruang untuk diskusi tentang rasisme, kecelakaan, dan nilai-nilai keluarga dalam konteks kehidupan anak-anak di Indonesia. Dengan pendekatan yang peka dan menghibur, Na Willa menjadi salah satu film keluarga yang layak untuk disaksikan.




