Kisah Tragis Remaja di Balik Jeruji Polres Magelang: Penangkapan Tanpa Bukti dan Penyiksaan
Sumber Foto: suara.com
Asal Perkara

Kisah Tragis Remaja di Balik Jeruji Polres Magelang: Penangkapan Tanpa Bukti dan Penyiksaan

Kisah Tragis Remaja di Balik Jeruji Polres Magelang

Dua remaja, Dion dan Doni, mengalami pengalaman mengerikan di Polres Magelang Kota setelah ditangkap dalam konteks aksi unjuk rasa. Mereka, yang sebenarnya hanya berjuang untuk menyambung hidup, malah terjerat dalam situasi yang memalukan dan penuh kekerasan.

Dion, seorang remaja berusia 17 tahun, menjalani kehidupan sehari-hari dengan berjualan di angkringan. Namun, pada malam 29 Agustus 2025, setelah menyaksikan aksi demonstrasi di depan Polres, ia ditangkap tanpa alasan yang jelas. Video yang ia rekam sebagai dokumentasi turut menjadi bumerang baginya, membawa konsekuensi menyakitkan.

Penangkapan dan Penyiksaan

Setelah ditangkap, Dion dan Doni diperlakukan secara kejam oleh aparat. Mereka mengalami penyiksaan fisik yang brutal, mulai dari pukulan hingga penggunaan selang plastik yang menyebabkan luka di tubuh mereka. Dalam proses interogasi, setiap jawaban yang diberikan Dion hanya berujung pada pukulan dan tendangan, tanpa ada kejelasan mengenai tuduhan yang diarahkan kepada mereka.

Setiap kali berpindah ruangan di dalam markas polisi, mereka tidak hanya disiksa secara fisik, tetapi juga dihadapkan pada ancaman verbal yang mengintimidasi, membuat mereka merasa tidak berdaya.

Kekhawatiran Orang Tua

Di luar tembok Polres, orang tua Dion dan Doni merasakan ketidakpastian dan kecemasan yang mendalam. Dumila, ibu Doni, menghabiskan malam tanpa tidur menunggu kabar dari anaknya. Akhirnya, pada siang hari, ia mendapatkan informasi bahwa Doni berada di Polres dan harus menjemputnya.

Sunarti, ibu Dion, juga merasakan kebingungan yang sama. Tanpa informasi resmi dari pihak berwenang, ia terpaksa melakukan pencarian yang melelahkan. Ketika ia akhirnya bisa melihat anaknya, ia hanya diberikan foto-foto dan tidak bisa menemuinya secara langsung.

Penyebaran Data Pribadi dan Stigmatiasi

Setelah penangkapan, data pribadi Dion dan Doni disebar tanpa sensor di media sosial, menyebabkan mereka dicap sebagai anarkis oleh masyarakat. Stigmatisasi ini menambah beban psikologis bagi kedua remaja tersebut, yang sebenarnya tidak terlibat dalam aksi protes.

Upaya Pencarian Keadilan

Dengan bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, orang tua Doni dan Dion berusaha untuk menuntut keadilan atas perlakuan yang diterima anak-anak mereka. Mereka melaporkan dugaan penyiksaan kepada pihak berwenang. Namun, proses ini tidak berjalan mulus, karena intimidasi dari aparat yang berusaha menghentikan mereka.

Dalam perjalanan pencarian keadilan ini, banyak orang tua yang mencabut laporan mereka karena ketakutan akan konsekuensi yang mungkin muncul. Hanya sedikit yang tetap berdiri teguh untuk melawan sistem yang dianggap tidak adil.

Kehidupan Setelah Pengalaman Tragis

Doni dan Dion kini berusaha melanjutkan hidup mereka setelah pengalaman traumatis di Polres. Mereka mengalami kesulitan dalam beradaptasi, dengan Dion yang kini membantu keluarga dalam bisnis produksi abon, sementara Doni berjuang dengan rasa cemas setiap kali berpapasan dengan polisi.

Walaupun mereka berharap untuk mendapatkan keadilan dan pemulihan nama baik, trauma yang dialami tetap membekas dalam ingatan mereka. Keduanya hanya ingin melanjutkan hidup tanpa takut akan penangkapan yang tidak berdasar.