Kronologi dan Latar Belakang Konflik Rusia–Ukraina hingga Serangan 24 Februari 2022
Sumber Foto: CNBC Indonesia
Latar Isu

Kronologi dan Latar Belakang Konflik Rusia–Ukraina hingga Serangan 24 Februari 2022

Rusia melancarkan serangan ke Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin mengumumkan operasi militer secara resmi pada Kamis, 24 Februari 2022. Serangan itu ditandai dengan ledakan di sejumlah kota, termasuk Kyiv, Odessa, Kharkiv, dan Mariupol. Hingga saat ini, ketegangan disebut masih berlangsung.

Awal Kedekatan hingga Perpecahan Pasca Uni Soviet

Dalam sejarahnya, Ukraina pernah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Rusia. Namun, kepemimpinan Ukraina saat ini digambarkan lebih dekat ke Barat dan menyatakan keinginan menjadi bagian dari NATO.

Pada masa Perang Dingin, sebelum 1990, Ukraina dan Rusia berada dalam satu negara federasi bernama Uni Soviet. Setelah Jerman kalah dan Perang Dunia II berakhir, Uni Soviet memiliki pengaruh kuat di Eropa Timur, yang turut mendorong sejumlah negara di kawasan itu menjadi negara komunis.

Pada 1991, Uni Soviet dan Pakta Warsawa bubar. Di tahun yang sama, Ukraina memilih memerdekakan diri dari Uni Soviet melalui referendum. Presiden Rusia saat itu, Boris Yeltsin, menyetujui hal tersebut. Rusia, Ukraina, dan Belarusia kemudian membentuk Commonwealth of Independent States (CIS).

Namun, perpecahan muncul ketika Ukraina menilai CIS sebagai upaya Rusia untuk mengendalikan negara-negara yang sebelumnya berada di bawah Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet.

Perjanjian 1997 dan Isu Armada Laut Hitam

Pada Mei 1997, Rusia dan Ukraina menandatangani perjanjian persahabatan sebagai upaya menyelesaikan ketidaksepakatan. Dalam kesepakatan itu, Rusia diizinkan mempertahankan kepemilikan mayoritas kapal di armada Laut Hitam yang berbasis di Krimea, wilayah Ukraina.

Rusia juga diwajibkan membayar biaya sewa kepada Ukraina karena menggunakan Pelabuhan Sevastopol.

Memanas Sejak 2014: Revolusi, Minsk, dan Krimea

Hubungan kedua negara kembali memanas sejak 2014, ketika terjadi revolusi yang menentang supremasi Rusia. Massa antipemerintah berhasil melengserkan Presiden Ukraina yang pro-Rusia saat itu, Viktor Yanukovych. Kerusuhan sempat terjadi sebelum akhirnya dicapai perdamaian pada 2015 melalui kesepakatan Minsk.

Perubahan politik tersebut juga membuka kembali keinginan Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE) dan NATO. Prospek berdirinya pangkalan NATO di dekat perbatasan Rusia disebut memicu kemarahan Putin. Situasi ini turut dipengaruhi oleh makin eratnya hubungan sejumlah negara Eropa Timur dengan NATO, seperti Polandia dan negara-negara Balkan.

Setelah Yanukovych jatuh, Rusia memanfaatkan kekosongan kekuasaan untuk mencaplok Krimea pada 2014. Rusia juga mendukung kelompok separatis di Ukraina timur, yakni Donetsk dan Luhansk, untuk menentang pemerintah Ukraina.

Serangan 24 Februari 2022

Pada 24 Februari 2022, Putin mengumumkan operasi militer, yang kemudian diikuti serangan dan ledakan di beberapa kota besar Ukraina, termasuk Kyiv, Odessa, Kharkiv, dan Mariupol.